Posted by: niadilova | 05/07/2018

Puisi Nusantara 9: T.S.: “INTELLEKTOEWIL”. (“INTJLEK”) (1932)

Diantara kita ada golongan,

Terpeladjar, banjak pemandangan,

Kedjadian di doenia: Perantjis, Djerman,

Inggeris, Amerika, Tiongkok, Japan,

Oh, semoeanja ada dalam kenangan.

Tetapi tentang kedjadian di Roeslan,

Pst, itoe tidak djadi omongan,

Lantaran berbahaja bagi keselamatan,

Karena, kalau itoe diperbintjangkan,

Dengan maksoed “mengembangkan”,

Dan terdengar oleh madjikan………..

O, o, sekali-kali didjaoehkan Toehan.

Karena segera mereka fikirkan,

Akan tertoetoeplah pentjoeran makanan,

Sebab, boekankah mereka berangan-angan,

Akan hidoep dalam kesenangan,

Sesoedah beladjar, dapat soerat keterangan,

Mentjahari kerdja, akan bertoenangan…….

Oho, dan selandjoetnja dalam keenakan!

Inilah sifat mereka, kalau diloekiskan,

Intellektoewil, katanja dia “bangsawan”.

Inilah kaoem ta’ tentoe toedjoean,

Baling-baling di tempat ketinggian.

Kaum Marhaen, O, persetan,

Kaum Madjikan, ai, jang dipertoean,

Sedang mereka………ta’ berketentoean,

Kaum jang aneh, mempertoean – “Makan!”

 

Disangkanja ra’jat jang dipandangnja rendah,

Akan menghormati dia, kaum ladah!

Ta’tahoe mereka jang mereka djadi gara-gara,

Olok-olokan bagi mereka jang berdarah merah!

Intellektoewil, atau kaum “Intjlèk!”

Kata Marhaen, “Terlaloe djelèk!”

Mereka berpengertian amat lembèk!

Beriman dan berkepertjaӓn robèk-robèk!

 

Mereka jang betoel-betoel penakoet,

Melihat bahaja di tiap soedoet,

Memandang di Marhaen-leider sebagai

penghasoet……..

Gemetar toeboehnja, takoet tersikoet

Kedoedoekannja, jang mana, illahi, terletak

disoedoet……….

Jang anehnja, mereka amat pemberengoet,

Seperti andjing dibawakan peletjoet……………..

Jang telah memangnja adat segala machloek,

Jang berpoesar-poesar diperoet!

 

Bagaimanakah mereka dapat menggentjet Marhaen,

Galah bertaras, tertanam di Indonesia!

Intjlèk jang ta’ berpendirian,

Memang ta’bertoelang boeat bergerak!

Intjlèk, Intjlèk, kenanglah asalmoe,

Tak’ kan hidjau darahmoe oleh peladjaranmoe,

Ta’ kan poetih matamoe oleh kepintaranmoe.

Hidoengmoe ‘kan tinggal pèsèt (pèsèk),

Dan penghidoepanmoe ‘kan teroes melèsèt;

Djangan kau berperasaan kesoetanan,

Seonggoehpoen kau lebih senang dari pada

Marhaen!

Dalam bathin, ketahanan dan keimanan,

Marhaen lebih tinggi dari pada kamoe.

Sebab Marhaen berperasaan kera’jatan

Serta mentjintai tanah Indonesia dengan segenap

kasih,

Jang segala-galanja ta’ terdapat pada kamoe,

“intjlèk”!

T. S.

***

Sumber: Surat kabar Daulat Ra’jat, Tahoen ke II, No, 43, 20 November 1932.

Catatan: Dalam sajak ini dapat dikesan secara jelas pertentangan antara kaum Marhaen dengan kaum intelek yang mereka anggap sebagai representasi kaum borjuis. Konteks historis sajak ini adalah gerakan Marhaen yang digelorakan oleh Soekarno untuk mendukung cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sampai pada akhir zaman kolonial, kebanyakan intelektual pribumi yang mendapat posisi sosial tinggi dalam masyarakat berkat pendidikan barat (Belanda) yang mereka peroleh, dianggap oleh kaum Marhaen sebagai ‘teman kolabrasi’ Belanda, sang penjajah yang dingin mereka enyahkan dari bumi Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: