Posted by: niadilova | 23/06/2018

Peluncuran & Diskusi Buku Puisi Taufiq Ismail ‘Stof op Stof’ di Universiteit Leiden, 20-06-2018

Taufiq Islamil 3-cropPada hari Rabu 20 Juni 2018, buku puisi penyair Taufiq Ismail Stof op Stof (Debu di Atas Debu) diluncurkan di Universiteit Leiden. Acara diadakan di Vossiuszaal Universiteitsbibliotheek (UB) Leiden, dimulai jam 18:00 dan berakhir sekitar jam 20:30. Taufiq Ismail dan istrinya, Ati Ismail, datang ke Leiden, disertai dengan beberapa anggota keluarga. Leiden adalah persinggahan mereka yang pertama dalam tour Eropa mereka dalam rangka peluncuran Debu di Atas Debu yang, selain di Leiden, juga diadakan di Paris dan di Berlin. Karya Taufiq Ismail ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, antara lain bahasa Belanda, Inggris dan Perancis. Tour Taufiq Ismail dan keluarga ke Eropa kali ini adalah dalam rangka peluncuran dan diskusi seri terjemahan Debu di Atas Debu.

Acara di Universiteit Leiden itu terselenggara atas kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Leiden, PPI Belanda dan Universiteit Leiden. Secara tak langsung, acara ini juga didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag. Semula saya dihubungi oleh Ati Ismail untuk mengorganisir acara ini. Akan tetapi karena minggu pertama dan kedua Juni saya harus berada di Malaysia dan Indonesia untuk memenuhi beberapa undangan ceramah, maka saya menghubungi PPI Leiden untuk menyelenggarakan acara ini. Alhamdulillah, akhirnya acara ini dapat terselenggara dengan baik.

Taufiq Islamil 2-crop

Ruangan Vossius UB Leiden penuh dengan peserta pada sore itu. Para peserta diskusi datang dari unsur mahasiswa Indonesia (peserta program MA dan PhD) di Leiden University dan para aktivis, khususnya aktivis kiri, asal Indonesia yang tinggal di Belanda, seperti Aboeprijadi Santoso, Asahan Alham, Siswo Santoso dan lain-lain.

Dipandu oleh kandidat PhD Universiteit Leiden Taufiq Hanafi yang berasal dari Universitas Padjadjaran, peluncuran dan diskusi buku puisi karya Taufiq Ismail petang itu menampilkan acara utama: baca puisi oleh penyairnya sendiri dan pembahasan buku puisi Stof op Stof oleh Joss Wibisono, aktivis, sastrawan dan penulis buku yang tinggal di Amsterdam. Sebelum acara utama, tampil memberi sambutan Ketua PPI Leiden Mikhael Dito Manurung, Librarian UB Leiden Dr. Marije Plomp yang memperkenalkan koleksi perpustakaan besar ini kepada para hadirin, dan Atase Kebudayaan KBRI Den Haag Dr. Din Wahid.

Setelah rangkaian ucapan-ucapan sambutan selesai, Taufiq Ismail tampil membacakan beberapa puisi pilihannya yang diikuti dengan pembacaan terjemahan Belandanya oleh Dr. Marije Plomp. Setelah sesi pembacaan puisi oleh Taufiq Ismail selesai, Joss Wibisono tampil mempresentasikan pembahasannya tentang ‘penyair Manikebu’ itu dan karyanya, Stof op Stof.

Foto mami-1

Seperti sudah dapat saya duga semula, pembahasan Joss lebih ditekankan pada aspek politik seorang Taufiq Ismail ketimbang aspek puitika dan literer karya-karyanya. Joss menduga kemunculan Manifes Kebudayaan (Manikebu) di tahun 1960an tidak lepas dari dorongan militer dan Joss menyebut kemungkinan peran yang telah dimainkan oleh Jenderal Nasution.

Hal lain yang disoroti Joss adalah kurangnya terjemahan dalam bahasa Belanda terhadap karya-karya Taufiq Ismail dibandingkan karya-karya beberapa orang penyair Indonesia lainnya, seperti Amir Hamzah, Sitor Situmorang dan Rendra. Joss juga mempertanyakan mengapa Stof op Stof diterbitkan oleh Taufik Sendiri (Penerbit Horizon), bukan oleh sebuah penerbit Belanda.Taufiq Ismail menanggapi: bukannya tidak ada penerbit Belanda yang ingin menerbitkan terjemahan buku puisinya itu, tapi beliau tidak ingin tergantung kepada penerbit asing.

Foto mami-2

Menurut pendapat saya, langkanya terjemahan Belanda puisi-puisi Taufiq Ismail barangkali berkaitan dengan eksistensi dirinya yang identik dengan gerakan anti komunis dan citranya sebagai Muslim yang teguh. Label seperti itu mungkin tidak begitu diminati di negara-negara Eropa yang liberal seperti Belanda. Tambahan lagi, secara puitika puisi-puisi Taufiq Islamil, menurut saya, tidaklah begitu menonjol. Kekuatan puisinya justru pada kandungan kritik sosial-budaya dan politiknya, yang menjadi sangat berkesan bila dibacakan oleh penyairnya sendiri yang memang memiliki karakter pembacaaan puisi dengan suara yang khas.

Pembahasan Joss Wibisono tentang puisi Taufiq Ismail yang berbicara tentang seorang sersan yang buntung kakinya karena pertempuran membawanya kepada interpretasi bahwa apa yang disebut sebagai teman-teman si sersan yang sudah mapan yang ditolaknya mungkin beberapa dekade kemudian sudah menjadi jendral-jendral (Orde Baru). Sebagaimana dapat dikesan dari banyak tulisannya, Joss Wibisono memang seorang pengeritik Orde Baru yang selalu beliau tulis: ‘Orde Bau’.

Foto mami-3

Hujah kunci Joss Wibisono adalah bahwa sastra Indonesia, puisi khususnya, begitu berkelindan dengan politik. Ini antara lain tercermin dalam penyusunan angkatan dalam sejarah kesusastraan Indonesia yang cenderung ditandai dengan titik-titik penting dalam peristiwa politik, seperti Angkatan ’45 dan ’66. Namun, Joss melihat bahwa sekarang ini kesusastraan Indonesia telah melepaskan diri dari kooptasi politik. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapatnya ini, karena, walau pemberian istilah angkatan berhenti setelah 1966 (tapi Korrie Layun Rampan pernah menyebut ‘Angkatan 2000’), dunia kesusastraan Indonesia kini tetap bersinggungan dengan politik. Puisi khususnya, selalu hadir dalam seriap momen politik Indonesia. “Seni dan politik di Indonesia, sebagaimana telah dibahas oleh beberapa penulis dari berbagai perspektif dan genre dalam buku yang disunting Margaret Kartomi dan Kay Dreyfus, The Year of Voting Frequently: Politics and Artists in Indonesia’s 2004 Elections (Clayton: Monash Asia Institute, 2005), [memang] sudah saling berkelindan sejak Republik Indonesia dilahirkan” (https://niadilova.wordpress.com/2018/05/27/renung-74-puisi-politik-rezim/; diakses 23-06-2018).

Usai presentasi Joss Wibisono, sesi tanya-jawab terus mengarah ke aspek politik yang terkait dengan diri Taufiq Ismail dan karya-karya puisinya. Beberapa aktivis kiri yang hadir dalam acara itu langsung terpancing begitu Taufiq Ismail menyebut-nyebut KGB (Komunis Gaya Baru) yang menurutnya sedang berkembang di Indonesia sekarang. Jurnalis dan aktivis Aboeprijadi Santoso, misalnya, ‘menyerang’ Taufiq dengan pempertanyakan moralnya sebagai penyair dan intelektual Indonesia. Lebih jelasnya, Aboeprijadi Santoso bertanya: mengapa seorang Taufiq Ismail begitu gencar mengkritisi pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang PKI tapi diam seribu bahasa terhadap kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh Rezim Orde Baru.

Foto mami-4

Saya, yang lebih dahulu mengajukan pertanyaan daripada Aboeprijadi Santoso, lebih mengkritisi kebuntuan yang berlarut-larut dalam mencari rekonsiliasi pasca peristiwa 1965 yang berdarah-darah itu. Peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia itu sendiri sudah lebih dari 50 tahun berlalu, tapi rekonsiliasi yang mendamaikan dan memuaskan semua pihak belum juga terwujud. Mengikuti wacana seputar isu ini di tanah air, dapat dikesan bahwa antara pengikut dan keturunan kedua belah pihak yang saling berhadapan di masa lalu itu (komunis dan Islam) masih tampak saling curiga. Akan berapa lama lagikah beban sejarah itu dibenamkan di pundak generasi penerus Indonesia? Dalam forum itu saya mencontohkan rekonsiliasi damai di Rwanda yang begitu mulus dan cepat menyusul perang saudara dan genosida antara suku Tutsi dan Hutu pada tahun 1990an. Sebaliknya, mengapa bangsa Indonesia begitu sulit untuk berdamai dengan masa lalunya sendiri?

Tentu saja hal ini tidak akan dapat diselesaikan oleh seorang Taufiq Ismail, walau dikatakan oleh beliau bahwa beliau telah bersalaman dan saling bermaafan dengan Pramoedya Ananta Toer sebelum pencipta sosok gandis Indo cantik-lemah-rapuh Annelies Mellema itu wafat. Namun, sebagai salah seorang figur penting penandatangan Manikebu, Taufiq Ismail mungkin dapat memainkan peran signifikan dalam meneroka rekonsiliasi penuh ketulusikhlasan yang akan dapat menghantar bangsa Indonesia menapak masa depan yang lebih optimis. Akan tetapi agaknya jalan masih panjang untuk sampai ke tujuan itu. Paling tidak ini dapat dikesan dari caci maki dan hujat-menghujat yang muncul di laman facebook seorang peserta diskusi itu yang memostingkan acara ini dengan nada yang cukup provokatif, yang kemudian di-share oleh banyak teman-temannya. Sampai-sampai PPI Leiden dan Universiteit Leiden mereka salahkan karena telah memfasilitasi acara itu. Membaca komentar-komentar bertabur hujatan dari para penanggap di laman facebook orang itu, rasanya saya ingin menutup mata. Dialog yang cukup bersahabat antara Taufiq Ismail dan Asahan Alham dalam acara minum-minum seusai diskusi itu seakan lenyap tak berbekas. ‘Dinding tembok’ perbedaan ideologi antara kedua kubu itu tampaknya masih tetap tebal. Terbayang oleh saya hari-hari penuh api kebengisan di tahun-tahun terakhir sebelum meletusnya peristiwa Enam-Lima.

Leiden, 23 Juni 2018


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: