Posted by: niadilova | 14/06/2018

Representasi Budaya Pop di Jalanan Kota Padang

20180525_175921-cropJudul buku: Angkot dan Bus Minangkabau: Budaya Pop & Nilai-nilai Budaya Pop / Popular Culture and Popular Values (Dwibahasa)

Penulis: David Reeve

Penerjemah: Iskandar P. Nugraha

Penerbit: Komunitas Bambu (Depok)

Cetakan pertama: Maret 2017

Tebal: 343 halaman

ISBN: 978-602-9402-73-6

Bila mendengar istilah ‘budaya pop’, pikiran banyak orang langsung terhubung dengan musik atau korpus karya sastra yang dari segi literer dianggap ringan, untuk tidak mengatakan ‘picisan’. Acap kali orang kurang menyadari bahwa, sesuai dengan pengertiannya, budaya pop (popular culture) adalah akumulasi dari berbagai jenis produk budaya, yang pada umumnya bersifat benda (tangible), yang dikonsumsi kebanyakan anggota masyarakat. Walaupun istilah ‘budaya pop’, yang muncul pada abad ke19 atau lebih awal, semula asosiatif  dengan kelas bawah, namun sekarang ia justru dikaitkan dengan produk-produk budaya ciptaan kelas menengah yang didesakkan kepada publik melalui media massa.

Buku karya David Reeve ini meneropong ekspresi budaya pop di Sumatera Barat, khususnya kota Padang, melalui fitur-fitur yang dilekatkan ke tubuh/bodi transportasi publiknya. Ketika sarjana Australia yang suka bepergian dan sudah sangat mengenal Indonesia ini menjejakkan kakinya di Padang pada 2006, ia menyaksikan keunikan traportasi publik di kota itu: angkot yang berwarna warni dengan aneka hiasan (visual) dan musik (audio) yang merepresentasikan budaya kekinian yang identik dengan anak muda. Fenomena yang kurang lebih sama ditemukan juga pada bus-bus antarkotanya. Sebagai pengajar Bahasa Indonesia yang telah membagi ilmunya di berbagai tempat, David sangat tertarik dengan bahasa-bahasa yang bernuansa iklan, jingle, dan slogan-slogan yang ditempelkan di bodi angkot-angkot kota Padang.

Menurut David angkot di Padang memiliki dekorasi yang berbeda dengan yang ditemukan di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Bodi (body) angkot-angkot di ibukota Provinsi Sumatera Barat itu, juga bodi bus-bus antarkotanya, begitu kaya dengan fitur-fitur yang merupakan kombinasi antara gambar dan kata/frasa/ungkapan.

Melalui pengamatan yang cermat, David mengenali adanya “jurang besar di antara nilai-nilai pop [yang terefeksi pada bodi angkot di kota Padang] dengan apa yang dikenal sebagai versi resmi nilai-nilai budaya Minangkabau” (hlm.17) yang kaya dengan pantun, petatah petitih, mamangan dan bahasa figuratif yang menjadi basis kodifikasi budaya tinggi Minangkabau. Apa yang direpresentasikan di tubuh angkot itu mewakili budaya anak muda yang merekam kemajuan zaman yang dalam banyak hal terkesan berseberangan dengan budaya yang dihidupi oleh generasi yang lebih tua yang menekankan pada hubungan kesinambungan terhadap tradisi dan alam.

Kenyataan ini menimbulkan anggapan bahwa ada sebuah tradisi subkultur yang mau diungkapkan lewat ‘coretan-coretan’ pada tubuh angkot itu. Menyitir pendapat Suzanne Naafs dalam artikelnya “Music VCDs and the new generation: negotiating youth, femininity, and Islam in Indonesia” (dalam: Linda Herrera dan Asef Bayat (eds.), Being young and Muslim: new cultural politics in the global South and North, New York: Oxford University Press, 2010, hlm.341-354), ada suara anti kemapanan yang ingin disampaikan melalui bodi angkot yang dipermak itu, sebagaimana juga dapat dikesan melaui lirik lagu pop Minang dan visual images pada sampul kaset dan VCD-nya (lihat juga disertasi Suryadi, ‘The recording industry and ‘regional’ culture in Indonesia: The case of Minangkabau’, Leiden University, 2014). Namun, penulis buku ini justru berpendapat bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa kedua dimensi ini berjalan bersamaan dengan menekankan suatu hubungan kesinambungan (hlm.325).

David melihat adanya penggunaan kata/frasa/ungkapan yang konsisten atas tiga bahasa pada dekorasi-dekorasi di tubuh angkot dan bus antarkota itu: Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Minangkabau. Kalkulasi kuantitaif yang dibuatnya menemukan 59% Bahasa Inggris, 30% Bahasa Indonesia dan 11% Bahasa Minangkabau di bodi angkot, berbanding 40%, 49% dan 12% (sic) untuk kategori bahasa-bahasa yang sama yang ditemukan di bodi bus-bus antarkota (hlm.325). Ekspresi-ekspresi dalam Bahasa Inggris itu meliputi 7 kategori besar: 1) kecepatan mesin mobil atau motor, seperti Death Race, Flaschcar, dll.; 2) kehebatan dan kekerenan, seperti Dream work, Venom energy, dll.; 3) kekuatan lelaki, militer dan kelas eksekutif, seperti Executive Class, Street Fighter, dll.; 4) Disneyland dan budaya pop perkotaan Barat, seperti Disney Land, Johnnie Walker, dll.; 5) maskulinitas dan hasrat seksual lelaki, seperti Crazy Woman, Ladies Campus, dll.; 6) ibu dan keterkaitan pada keluarga, seperti Wish from Mother, CHANNIA my sweet daughter, dll.; 7) perilaku pribadi dan kemarahan terhadap otoritas, seperti My Way, So What!, dll.

Untuk ekspresi-ekspresi dalam Bahasa Indonesia, terdapat pula beberapa tema: 1) keluarga, seperti Anak Ayah, Putra Bungsu, dll.; 2) status dan/atau kekuasaan, seperti Srikandi, Ningrat, dll.; percintaan, asmara dan hasrat seksual pria muda, seperti Idola Campus, Penggoda Wanita, dll.; 4) bahasa non baku/ngetop/gaul, seperti Jablai, Godain kita dong, Cabe-cabean, dll. Walaupun etnis Minangkabau identik dengan Islam, simbol-simbol keislaman, walau ada, tapi tidak begitu banyak ditampilkan di bodi angkot dan bus-bus antarkotanya.

Ekspresi-ekspresi dalam Bahasa Minangkabau yang ditemukan pada tubuh angkot “memiliki rasa yang berasal dari bahasa jalanan.” (hlm. 205). Kebanyakan ejaan yang dipakai bersifat tidak lazim, seperti Scoutident (Suko hati den), Adiak Xno (Adiaknyo), Pamenan Boss Dent (Pamenan bosden), dll.

Analisis kebahasaan mendapat porsi yang cukup luas dalam buku ini. Ini tentunya karena penulisnya adalah seorang sarjana yang terkemuka dalam pengajaran sekaligus sebagai pengamat Bahasa Indonesia di Australia. Bodi angkot kota Padang dan bus antarkota Sumatera Barat itu merekam Bahasa Indonesia ragam gaul, yang hidup dengan hukum-hukumnya sendiri, yang mempermainkan bunyi dan huruf dan menjadi ‘tandingan’ terhadap ragam baku.

Perbandingan-perbandingan yang dilakukan oleh penulis dengan transportasi publik di kota-kota lainnya di Indonesia menunjukkan bahwa walaupun terdapat kesamaan secara umum, tetap ada ciri khas daerah yang tampak pada dekorasi visual dan audio pada tubuh angkot di Padang dan bus-bus antarkotanya. Mungkin itulah sebabnya para pengunjung dari luar Sumatera Barat mendapat kesan tersendiri terhadap angkot di Padang, yang juga dikutip dalam buku ini (Bagian 6, hlm.59-71).

Singkat kata, angkot kota Padang merupakan bagian dari soundscape khas kota utama Ranah Minang itu. Dengan musik ‘berdentam-dentam’nya – meminjam judul artikel Jurnaldi yang merawikan kekhasan angkot kota Padang ini (Kompas, 4 Februari 2001) dan keunikan dekorasi bodinya yang mengkombinasikan gambar dan tulisan, angkot kota Padang adalah cultural site yang merekam dinamika masyarakat Minangkabau kontemporer.

Membaca buku ini secara keseluruhan masih menyisakan banyak pertanyaan seputar kompleksitas hubungan antara elemen-elemen yang terkait dalam memunculkan angkot yang unik ini. Saya membayangkan bahwa buku ini juga merekam pendapat pihak-pihak yang tidak setuju dengan angkot ini (mereka mungkin ulama, polisi, pemangku adat, dll.). Walaupun sudah disinggung secara umum, hubungan antara pemilik angkot dengan sopir dan antara sopir dan penumpang mungkin lebih kompleks lagi. Diperlukan landasan teoretis yang lebih kuat dari perspektif cultural studies untuk memahami fenomena angkot kota Padang ini.

Lepas dari pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung tersebut, buku dwibahasa (Inggris dan Indonesia) ini jelas memberi sumbangan besar bagi body of knowledge tentang budaya pop di Indonesia. Ia sekaligus menjadi ‘monumen’ yang dapat dilihat sampai jauh ke masa depan, tentang sebuah fenomena budaya pop yang muncul di jalanan kota Padang yang kini sudah mulai pula berubah dan bukan tidak mungkin pada suatu saat akan lenyap dan hanya tinggal kenangan.[]

* Padang Ekspres (rubrik ‘Literasi’), Minggu, 3 Juni 2018


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: