Posted by: niadilova | 14/06/2018

PPM #155: Angin Agresi Belanda I mulai berhembus di Padang [Febr. 1947]

Insiden di Padang

Boekittinggi, 20/2 [1947] (Antara)

DJOEROEBITJARA tentara divisi Banteng I mengoemoemkan, bahwa pada tg. 17/2 [1947] poekoel 08:00 satoe seksi Belanda bergerak kearah Padang Ilir (Padang Timoer). Mereka menembaki pengawal2 kita disana. Kita tetap bertahan sedangkan mereka teroes melepaskan tembakan dengan sengit. Saat itoe baroe kita membalas poela oentoek mempertahankan diri. Pertempoeran berdjalan samopai djam 09:30. Mereka dapat dipoekoel moendoer, dan korban di pihak kita tidak ada. Sampai djam 13:00 seboeah pesawat Bomber Belanda melajang2 antara Padang dan Solok.”

***

Laporan harian Soeara Oemoem edisi Djoema’at 21 Pebroeari 1947, No. 66 Tahoen ke I, hlm. 1 tentang aksi tembak-menembak antara Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dari Divisi Banteng I dengan pasukan Belanda di Padang.

Laporan ini menunjukkan bahwa Belanda sudah melakukan pelanggaran militer sebelum memulai secara resmi apa yang kemudian disebut oleh orang Indonesia sebagai Agresi Belanda I pada 20 Juli 1947. Belanda tidak sabar untuk merebut bekas jajahannya kembali yang terpaksa ditinggalkan oleh Jepang.

Di Minangkabau aksi militer Belanda itu disambut dengan perlawanan heroik oleh masyarakat yang digelorakan oleh seruan jihad melawan orang kafir oleh para ulama yang mengeluarkan keputusan:

  1. “PENGERAHAN PERANG SABIL TERHADAP BELANDA, MUSUH ALLAH DAN MUSUH KITA.”
  2. “HUKUM PERANG SEKARANG ADALAH FARDHU ‘AIN ATAS TIAP2 MUKALLAF LELAKI DAN PEREMPUAN.”

Selanjutnya dikatakan:

“KEPADA SELURUH KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG MUKALLAF DISERUKAN SUPAYA: BERJIHAD DENGAN KEIMANAN DAN KEJAKINAN, DENGAN HARTA; NJAWA, TENAGA DAN PIKIRAN.

KEPADA SELURUH ULAMA JANG BERTANGGUNG DJAWAB LANGSUNG TENTANG KETINGGIAN AGAMA SUTJI KITA, BERIKANLAH TENAGA JANG SEBESAR-BESARNJA DALAM MELAKSANAKAN PERANG FI SABILILLAH JANG TENGAH KITA LANTJARKAN INI, DAN BERTJAJALAH BAHWA ALLAH DIPIHAK KITA.

KAMI ATAS NAMA ‘ALIM ULAMA SUMATERA BARAT:

  1. Sech Mhd. Djamil Djambek Bukit Tinggi
  2. Sech Abbas Abdullah Pajakumbuh
  3. Sech Ibrahim Musa Parabek Bukit Tinggi
  4. Sech Daoed Rasjidi Balingka Bukit Tinggi
  5. Sech Suleiman Arrasuli Tandjung Bukit Tinggi
  6. Sech Abd. Wahid Tabek Gadang Pajakumbuh
  7. Sech H. Mhd. Said Batusangkar
  8. Sech H. Adjhuri Batusangkar
  9. Sech Ibrahim Tjakar Pajakumbuh
  10. Sech Mustafa Abdullah Pajakumbuh”

Demikian cuplikan bunyi pamflet/selebaran yang diumumkan pada petang Sabtu tgl. 25-26 Djuli 1947 di Gedung Tamoe Agoeng Boekittinggi, yang eksemplarnya saya temukan dalam arsip NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service (dossier Sumatra Barat) yang tersimpan di Nederland Nationaal Archef di Den Haag.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 15 April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: