Posted by: niadilova | 27/05/2018

Renung #74: Puisi, Politik, Rezim

Seni dan politik di Indonesia, sebagaimana telah dibahas oleh beberapa penulis dari berbagai perspektif dan genre dalam buku yang disunting Margaret Kartomi dan Kay Dreyfus, The Year of Voting Frequently: Politics and Artists in Indonesia’s 2004 Elections (Clayton: Monash Asia Institute, 2005), sudah saling berkelindan sejak Republik Indonesia dilahirkan.

Di senjakala kolonialisme Indonesia di tahun 1930an dan awal 1940an, seni, lebih-lebih seni sastra, menjadi media yang penting untuk mengekspresikan perasaan perasaan nasionalisme di kalangan kaum intelektual pribumi. Roman-roman Medan, misalnya,yang menjadi antipoda Balai Poestaka yang dikontrol dengan ketat oleh Otoritas Kolonial, menjadi salah satu ‘kendaraan’ untuk mengekpresikan kritisisme kepada penjajah melalui jalur sastra.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi seni tetap penting di ranah perpolitikan Indonesia. Hal ini antara lain dapat dikesan dari politik diplomasi melalui kebudayaan yang dilakukan Rezim Soekarno yang menjadikan seni, khususnya seni tari, sebagai penanda identitas bangsa Indonesia, sebuah nasion muda yang mencoba memasuki pergaulan dunia internasional. Meminjam judul buku editan Jennifer Lindsay dan Maya H.T. Liem, Heirs to the World Culture: Being Indonesian, 1950-1965 (Leiden: KITLV Press, 2012), inilah periode perumusan identitas untuk ‘menjadi Indonesia’. Sebagaimana sudah sama kita ketahui, ujung dari dinamika politik kebudayaan ini adalah terbelahnya para nasionalis kita ke dalam dua kubu – LEKRA dan MANIKEBU – akibat pengaruh perang dingin yang berakhir dengan rebah kudanya Rezim Orde Lama pada tahun 1967.

Menapaktilasi sejarah bangsa ini, dapat dikesan dengan jelas bahwa puisi, sebagai cabang seni sastra, menempati posisi yang selalu penting. Puisi merekam setiap tahap perjalanan bangsa ini. Demikianlah umpamanya, di Zaman Revolusi, Chairil Anwar dan generasi Angkatan 45 menggunakan puisi untuk menggelorakan semangat perjuangan melawan penjajah dan menuntut pengakuan sebagai warga dunia. Dalam banyak majalah atau jenis terbitan lainnya yang menjadi orgaan (corong) partai-partai politik dan berbagai kelompok organisasi masyarakat dan pemuda, sering ditemukan puisi-puisi yang bernuansa pemberontakan dan menggelorakan semangat perjuangan melawan penjajah. Melalui puisi berbagai macam perasaan hati dan rasa cinta kepada bangsa dan tanah air Indonesia dan kebencian kepada penjajah diluahkan. Demikianlah umpamanya, seorang pemuda Pesindo (Pemoeda Socialis Indonesia) yang bernama B. Manggi menulis puisi dalam orgaan organisasi ini, Revolisioner, No. 31, Tahoen I, 7 Desember 1946, hlm.3 sebagai berikut:

REVOLUSI BERJALAN TEROES

Biar betapa lamanya masa

Biar beradabad berbilang tahoen

Biarkan harta moesnah belaka

Biarkan korban beriboe millioen

 

                        Namoen Revolusi

                        Tak ‘kan berhenti

Jiwa berontak

Tetap menggalak

                        Darah satrya

                        Tetap menjala

Semangat bertempoer

Tetap menggoentoer

Selama apa?

Hai saudara!

Selama Keadilan

Beloem diboektikan

Selama Kebenaran

Masih disemboenjikan

Selama itoelah Revolusi berdjalan teroes

 

Dalam Nomor 28, Tahoen I, 7 Oktober 1946 (hlm. 3) majalah yang sama, Soegijarti menulis puisi yang berjudul “Api Revolusi”:

Bakar hatikoe,

Mendjadi arang

Hitam

Kelam

Habis tertoenoe

Akoe ta’ bimbamg.

 

            Bakar toeboehkoe……………..

            Mendjadi aboe……………….

            Terserah…………………

            Berterbangan

            Poenah semoea

            Akoe ‘kan rela………………..

 

Bakar darahkoe

Didih memboeas

Menggelegak

Djilat-mendjilat…………………….

Pada djantoengkoe…………………

Akoe kan poeas………………..

 

            Sebab jakin o, Api

            Dalam asapmoe menari ganas

            Dalam goeroehmoe membakar panas

            Akan toemboeh nanti

            Manoesia baroe…………..

 

Puisi-puisi yang penuh dengan gejolak api perjuangan dan semangat revolusi seperti ini muncul menjamur di tahun 40-an dan 50an. Kebanyakan puisi-puisi perjuangan seperti ini tercecer di sana-sini (dalam berbagai media cetak) dan lupa untuk dibukukan. Tak banyak pula sejarawan yang menggunakan puisi-puisi seperti ini untuk melakukan refleksi simpatik terhadap perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah yang secara fisik dan persenjataan unggul tapi ternyata dapat dienyahkan hanya dengan bambu runcing dan sisa-sisa senjata peninggalan tentara fasis Jepang. Mungkin karena itulah generasi kini tidak memperoleh gambaran yang utuh mengenai perjuangan para (pemuda) pendahulu mereka.

Nuansa perjuangan dalam puisi karya para penyair kita masih terasa sepanjang masa jayanya Orde Lama. Kemudian, ketika rezim berganti pada tahun 1967, puisi pun merekam sepak terjang rezim yang baru. Kita tentu ingat puisi-puisi Wiji Thukul dan sejumlah penyair lainnya yang mengkritisi kebijakan politik dan budaya rezim Orde Baru yang sentralistik dan represif. Dan Wiji Thukul pun menerima konsekuensinya: (di)hilang(kan) tak tentu rimbanya. Namun, banyak punya puisi yang mengapresiasi Rezim Orde Baru secara positif, dan penyair yang lain memilih jalan “seni untuk seni”.

Kini, di Zaman Reformasi, dunia puisi terus memainkan peranannya dalam ranah politik dan sosial. Malah kelindan puisi dan politik terasa makin kompleks. Belum lama berselang telah terjadi ‘huru-hara’ seputar proyek antologi puisi dan esei Denny JA. Sebagian pekerja sastra Indonesia menilai proyek ini sebagai penggelapan sejarah, pembodohan, dan memanipulasi kesusastraan Indonesia. Mereka yang ikut proyek itu disebut-sebut tergiur oleh tawaran uang dari Denny JA. Salah seorang yang menolak keras proyek ini adalah Saut Situmorang. Dia bersama para penentang lain proyek ini menolak klaim Denny JA bahwa dialah pencetus lahirnya genre puisi baru, yaitu “puisi esei” dan pengumuman bahwa dirinya adalah slah seorang tokoh sastra Indonesia.

Kemudian publik dihebohkan lagi oleh puisi dua orang elit politik Indonesia. Kedua orang itu adalah Sukmawati Soekarnoputri dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dalam puisinya, “Ibu Indonesia”, yang dibacakan dalam acara Momen 29 Tahun Anne Avantie Berkarya, Sukmawati mendeklamasikan:

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci

Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka

Menyatu dengan kodrat alam sekitar

Jari jemarinya berbau getah hutan

Peluh tersentuh angin laut

 

Lihatlah ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

 

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

Semurni irama puja kepada Illahi

Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun

Lelehan demi lelehan damar mengalun

Canting menggores ayat ayat alam surgawi

 

Pandanglah Ibu Indonesia

Saat pandanganmu semakin pudar

Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Muncul penilian di kalangan publik bahwa ada nada menghina Islam dalam puisi itu, khususnya baris pertama dan kedua. Dan sebagaimana telah sama kita ketahui, terjadilah kehebohan, baik di media konvensional maupun media sosial, menanggapi puisi Sukmawati itu. Tuntutan publik agar putri Presiden Soekarno ini diadili karena dinilai telah menghina umat Islam tidak digubris oleh Pemerintah, membuat masyarakat merasa rezim yang sedang berkuasa di Indonesia sekarang menerapkan kebijakan “belah betung” yang mencederai rasa keadilan di negara ini.

Belum reda kehebohan yang disebabkan oleh puisi Sukmawati, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, tampil pula dengan puisi karya K.H. Achmad Mustafa Bisri yang berjudul “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” yang juga dianggap menyinggung umat Islam. Dibacakan dalam salah satu acara talkshow Kandidat Gubernur Jawa Tengah, puisi itu antara lain berbunyi: “Kau bilang Tuhan sangat dekat / Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat.” Seperti halnya Sukmawati, Ganjar Pranowo juga diadukan ke polisi. Akan tetapi institusi pengatur rust en orde itu tak (berani) melakukan tindakan lebih lanjut.

Dapat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah Indonesia, puisi selalu berada dalam pengaruh politik: mengekspresikan suara beroposisi atau, sebaliknya, menyanjung-nyanjung penguasa. Di tahun-tahun Pemerintahan Presiden Jokowi yang tengah berjalan, puisi digunakan oleh orang-orang yang membela kebijakan pemerintah yang dianggap oleh pihak-pihak tertentu mempersempit ruang gerak umat Islam Indonesia untuk mengekspresikan pandangan agama dan politik mereka. Nasib para “penyair” seperti ini jelas jauh berbeda dengan nasib Wiji Thukul, Rendra dan mereka yang menyemprotkan api kata-kata kepada rezim yang bertindak semena-mena kepada rakyat-kawula.

Leiden, Mei 2018

*Esei ini diterbitkan di harian Padang Ekspres (rubrik ‘Cagak Utama’), Minggu 3 Juni 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: