Posted by: niadilova | 30/04/2018

PPM #151: Menjelang Perundingan Linggarjati: Belanda memantik api perang di Padang

Padang masih bertempoer

Boekittinggi, 24/2 (Antara):

DJOEROEBITJARA tentera divisi Banten[g] I mengoemoemkan,bahwa pada tg. 20/2 [1947] pk. 12.00 serdadoe2 Belanda datang menjerboe pertahanan pihak Indonesia di Loeboek Begaloeng (Padang tenggara). Mereka kemoedian membakar roemah2 pendoedoek jang terletak diloear garis demarkasi. Karena peristiwa ini maka terdjadi tembak-menembak antara pihak Belanda dan pihak Indonesia. Achirnja mereka moendoer, sambil melepaskan tembakan mortir 18 kali.

Pada tgl. 21/2 pk. 15.00 1 seksi tentera Belanda madjoe kesekitar Loeboek Begaloeng dan membikin stelling2 didepan kantor Wedana serta melepaskan tembakan jang tiada tentoe2 sasarannja, sehingga menimboelkan pertempoeran dgn. pihak Indonesia. Achirnja mereka mengoendoerkan diri tapi kembali poela pada pk. 18.00 dengan kekoeatan 1 kompi jang dipelopori oleh 4 tank dan menembaki pengawal2 Indonesia. Pertemperan terdjadi.

Selandjoetnja dikabarkan, bahwa hari itoe dari pk. 07.00 sampai pk. 10.00 moesoeh dari sarangnja melepaskan tembakan2 mortier kerah Andoering dan Kampeong Kelawi. Pihak Indonesia tidak membalas.”

***

Laporan harian Soeara Oemoem [Jakarta] edisi Selasa 25 Pebroeari 1947, No. 69 Tahoen ke I, tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan militer Belanda di Padang menjelang dicapainya kesepakatan pemisahan wilayah Belanda dan Indonesia dalam Persetujuan Linggarjati. (Hasil Perundingan Linggarjati itu sendiri baru ditandatangani oleh kedua belah pihak pada 5 November 1947 di Istana Rijswijk [sekarang Istana Merdeka], Jakarta).

Laporan di atas merupakan salah satu saja dari banyak laporan mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Belanda di berbagai daerah menyusul pembentukan garis demarkasi antara wilayah Republik Indonesia dan wilayah yang dikuasai Belanda. Hal ini menandakan ketidaksabaran Belanda, sekaligus juga ambisi mereka yang hendak menguasai Indonesia lagi, “zamrud khatulistiwa” mereka yang sempat dirampas oleh Jepang.

Sekarang di Belanda sedang dilakukan penelitian berskala besar tentang apa yang mereka sebut sebagai “aksi polisionil” atau “perang dekolonisasi” ini, yang melibatkan KITLV Leiden dan beberapa institusi lainnya. Jika para peneliti itu hanya berkutat membongkar data dari pihak Belanda saja (arsip pribadi, militer, dll.) dan menyepelekan (atau menganggap tak berguna) sumber-sumber dari pihak Indonesia sendiri (berita dari koran-koran, majalah, kesaksian orang-orang yang masih hidup, dll.), maka hasil penelitian itu mungkin tidak akan mampu mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi pada periode 1945-1950 itu.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 18 Maret 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: