Posted by: niadilova | 14/04/2018

Iklan klasik Nusantara #62 (obat): MINYAK SERAI BANOE (1931)

Soeloeh Ra'jat Indonesia, TAHOEN KELIMA no. 21, Rebo 27 Juni 1931-crop

Sumber: Surat kabar Soeloeh Ra’jat Indonesia, TAHOEN KELIMA no. 21, Rebo 27 Juni 1931.

Catatan: Produk minyak serai (minyak oles) Banoe ini cukup menarik karena memakai “TJAP TOEANKOE IMAM BONDJOL”. Kita tidak tahu apakah pada masa itu (Zaman Kolonial) ada reaksi pengawasan atau pelarangan peredaran produk ini karena memakai gambar salah seorang pahlawan Minangkabau yang dikenal anti kepada penjajahan Belanda. Walau bagaimanapun, mungkin kita dapat memaknai bahwa ini adalah salah satu ‘siasat’ tersembunyi, disadari atau tidak oleh pembuatnya, untuk mengingatkan orang (Minangkabau) kepada peristiwa sejarah, yaitu Perang Paderi. Berangkat dari asumsi ini, kiranya bukan kebetulan bahwa iklan produk kesehatan tradisional ini dimuat cukup lama dalam surat kabar Soeloeh Ra’jat Indonesia (terbit di Surabaya) yang merupakan “Surat kabar minggoean nasional oentoek Indonesia”, yang dikelola oleh kaum republiken yang mengendaki kemajuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Nama “Banoe ’Idah” mengingatkan kita pada salah seorang dari 14 orang istri Moehammad Saleh Datuak Urang Kayo Basa, pedagang besar asal Pariaman. Keterangan lebih lanjut tentang istri-istri Muhammad Saleh itu dapat dibaca dalam memoar yang dia tulis: Riwajat Hidup dan Perasaian Saja: Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar, suntingan cucu beliau S.M. Latif, yang diterbitkan oleh Dana Buku Moehammad Saleh (Bogor,1965: 289-290). Sebelumnya, pada tahun 1933, memoar Moehammad Saleh ini juga sudah diterbitkan dalam Bahasa Minangkabau, yang merupakan pelatinan (yang tidak persis sama) dari versi aslinya yang ditulis dalam aksara Arab Melayu (Jawi) yang ditulis oleh Moehammad Saleh sendiri dan diselesaikan pada tahun 1914. Versi aslinya itu tidak dapat ditemukan lagi sekarang. (lihat juga link terkait: https://niadilova.wordpress.com/2018/03/11/sebuah-otobiografi-dengan-interpretasi-tak-henti/). Sangat mungkin bahwa Banoe ’Idah yang memproduksi minyak serai Banoe ini adalah istri Moehammad Saleh tersebut, mengingat pedagang ini memiliki jaringan luas di rantau Pariaman, bahkan sampai ke darek, pada awal abad 20 (lihat: Tsuyoshi Kato, “Rantau Pariaman: The World of Minangkabau Coastal Merchants in the Nineteenth century”, Journal of Asian Studies, Vol. XXXIX, No. 4, August 1980:729-752).

Suryadi – Leiden, 14 April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: