Posted by: niadilova | 26/03/2018

PPM #148: Internationaal Debating Club berdiri di Padang Panjang (1923)

Padang Pandjang ada club baroe

Sjoekoerlah saudara2 pemoeda pemoeda dari tanah darat jang berkedoedoekan di Padang Pandjang soedahlah sadar dari tidoernja jang njenjak, soedah mengerti bahwa mereka sebagai kaoem melarat dalam masa ini tidak bisa bergerak sendiri2 oentoek memperbaiki nasibnja dan nasib soedara2nja jang masih tertindas dan sengsara dan banjak jang beloem berpengetahoean seperti keadaan zaman sekarang.

Tetapi haroeskah mereka mendjadi satoe dalam barisan pergerakan.

Oleh sebab itoe dengan oesahanja saudara saudara dari tanah darat terseboet maka didirikanlah disini satu club bernama Internationaal Debating Club jang semata-mata bergoena oentoek keperloean Ra’jat.

Pengoeroesnja sebagai berikoet:

Voorzitter Saudara N. Zainoeddin, onder voorzitter saudara H. Datoek Batoeah, Secretaris tvens Penning meester saudara Djamaloedin Tamin.

Moedah moedahan dengan pimpinan saudara2 terseboet, Internationaal Debating Club (I. D. C.) bisa berdiri dengan sentosa. Amin!!

Soeka Madjoe

***

Laporan berkala Djago! Djago!, No. 1, Tahoen I, Senin 8 October 1923, hlm.3 yang memberitakan bahwa telah didirikan satu klub debat yang dikelola oleh beberapa pemuka organisasi Sjarikat Ra’jat di Padang Panjang. Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di tas, klub debat itu diberi nama yang cukup keren: “Internationaal Debating Club”, disingkat I.D.C.

Tujuan I.D.C, seperti dapat dikesan dari laporan di atas, adalah untuk menyadarkan rakyat tentang perlunya bekerjasama dan berorganisasi untuk mengubah nasib dari kaum tertindas menjadi kaum merdeka. Dengan kata lain, tujuan klub ini adalah membiasakan budaya debat dan diskusi di kalangan kaum pribumi untuk membuka kesadaran dan cakrawala berpikir mereka guna menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan meraih kemajuan.

Laporan ini menjelaskan tentang perkiraan tarikh berdirinya I.D.C., yakni sekitar bulan September atau awal Oktober 1923. Sebagaimana telah dicatat oleh sejarah, I.D.C. kemudian berhasil menggelorakan semangat anti penjajahan di kalangan masyarakat Minangkabau, khususnya di Padang Panjang. Akan tetapi para pengurus dan penggerak I.D.C., seperti H. Datoeah, Natar Zainoedin, Djamaloedin Tamin, dll., menghadapi konsekuensi berat: ditangkapi dan dijembloskan ke penjara oleh Penguasa Kolonial Hindia Belanda, bahkan sebagian mereka dibuang ke Digul. Lebih jauh mengenai apa yang terjadi di Padang Panjang pada dekade 1920an-1940an itu, bacalah buku Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah karya Fikrul Hanif Sufyan, Yogyakarta: UGM Press, 2017.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 25 Februari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: