Posted by: niadilova | 11/03/2018

Sebuah Otobiografi dengan Interpretasi Tak Henti

Sampul buku Mestika Zed-Muhammad Saleh (2017)-CROPJudul : Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai

Penulis : Mestika Zed

Penerbit : LP3ES (Jakarta)

Cetakan : Pertama, Januari 2017

Tebal: l + 394 hlm.

ISBN: 978-602-7984-27-1

Muhammad Saleh Dt. Orang Kaya Besar (BM: ‘Datuak Urang Kayo Basa’) (1841-1922), saudagar besar Pariaman pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah tokoh fenomenal. Beliau adalah seorang pebisnis yang sukses di zamannya yang memulai karirnya dari bawah. Akan tetapi bukan soal uangnya yang banyak dan hartanya yang melimpah itu yang membuat saudagar besar Pariaman ini begitu terkenal. Ia dikenal karena menulis sebuah memoar yang dibaca dan diapresiasi terus-menerus sampai kini, sebuah catatan kehidupan yang dimaksudkan sebagai kenang-kenangan untuk anak cucunya. Salah satu apresiasi terbaru terhadap memoar Muhammad Saleh itu adalah buku karangan Prof. Dr. Mestika Zed. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Padang, yang kita bicarakan ini.

Adalah sarjana Jepang Tsuyoshi Kato, berkat informasi dari A. Teeuw (lihat: A. Teeuw, Modern Indonesian Literature, Den Haag: Martinus Nijhoff, 1967:226), yang pertama mengeksplorasi otobiografi Muhammad Saleh itu dan memperkenalkannya secara lebih luas di dunia akademik. Hasil analisis dan penafsiran (interpretasi) Kato terhadap otobiografi Muhammad Saleh itu terbit dalam bentuk artikel yang judul “Rantau Pariaman: The World of Minangkabau Coastal Merchants in the Nineteenth century”, Journal of Asian Studies, Vol. XXXIX, No. 4, August 1980:729-752, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad IX”, dimuat dalam Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang: Perubahan Sosial Ekonomi abad XIX & XX dalam Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia, suntingan Akira Nagazumi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986: Bab III, hlm. 77-115).

Muhammad Saleh menyelesaikan penulisan otobiografinya pada tahun 1915 (Latif 1933: 1; Kato (1980:729) menyebut: 1914). Menguktip kata-kata Kato, otobiografi Muhammad Saleh itu sangat berharga karena “tidak banyak dokumen otobiografi orang Indonesia yang menjangkau lebih dari awal abad XX. Berbeda dengan tokoh sebagian besar ceritera biografi dan otobiografi pada abad ini di Indonesia, Muhammad Saleh bukanlah seorang yang berpendidikan Barat atau seorang nasionalis, melainkan seorang pedagang yang menjadi kaya berkat usahanya sendiri. Kisahnya lebih berisi informasi terperinci mengenai kegiatannya sehari-hari sebagai pedagang dan mengandung nasihat praktis mengenai kehidupan pada umumnya dan perdagangan pada khususnya, daripada mengemukakan gagasan-gagasan tinggi atau proses kebangkitan politik. Otobiografi Saleh merekam karirnya di bidang perdagangan, yang dimulai pada pertengahan tahun 1800-an dan diteruskan hingga lebih dari lima puluh tahun.” (Kato 1980: 77-78).

Sejauh yang dapat dilacak, Saudagar Pariaman karya Mestika Zed ini adalah ‘turunan’ keempat dari otobiografi Muhammad Saleh yang arketip atau naskah aslinya, yang ditulis dalam aksara Arab Melayu (Jawi), tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.

Turunan pertama otobiografi ini terbit pada bulan Agustus 1933 di Bandung (tanpa penerbit) dalam Bahasa Minangkabau. Berjudul Tjoerito Parasaian: Me‘ Saleh Gala Datoe‘ Oerang Kajo Basa, buku ini adalah pe-Latin-an dari naskah asli otobiografi Saleh itu. ‘Pengarang’nya adalah S.M. Latif, salah seorang cucu Muhammad Saleh. Membaca pengantar (‘Sapatah kato’) dari S.M. Latif dalam buku ini, berdasarkan contoh eksemplar yang tersimpan di Leiden University Library yang merupakan legacy Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, jelaslah bahwa Latif telah melakukan banyak penambahan di sana sini, termasuk beberapa catatan kaki (footnotes), sehingga versi Latin otobiografi Saleh terbitan 1933 ini bukanlah alih aksara murni dari versi Jawi-nya (versi aslinya). Dikatakan oleh Latif: “Soesoenan tjoerito ’ko hambo oebahi samo sakali, tapi indak‘ mangoerangi moekasoei‘ nan dikabakan baliau” (Latif 1933:ii). Namun Latif memilih menuliskannya dalam Bahasa Minangkabau, bahkan dengan “tjaro ketje‘ [menurut dialek] Minangkabau pasisie, ba[ha]so Tikoe-Pariaman, ‘oedjoeng lantie‘ lidah tanah, oedjoeng pamatang Minangkabau, pangkalan dagang limopoeloeh’” karena itulah bahasa yang digunakan oleh kakeknya [Muhammad Saleh], “tampe‘ baliau laki-bini bapikie djo mangetje‘ samaso idoei‘njo” (Latif 1933:iii).

Pada tahun 1965, otobiografi ini diterbitkan lagi dalam Bahasa Indonesia. ‘Pengarangnya’ masih S.M. Latif. Edisi ini berjudul Riwajat Hidup dan Perasaian Saja, Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar, diterbitkan oleh Penerbit Dana Buku Moehammad Saleh di Bogor pada bulan Desember 1965. Penerbitan edisi ini terwujud berkat sokongan moral dan finansial dari anak cucu dan keturunan Saleh yang dikoordinir oleh beberapa orang yang terkemuka di antara mereka di bawah satu badan yang dibentuk di Jakarta pada 30 Maret 1965 yang diberi nama “Dana Buku Moehammad Saleh” (Latif 1965:7). Tidak hanya dari segi bahasa saja, dari segi isi pun edisi ini jauh berbeda dengan edisi 1933. Bahasa Indonesia dipilih karena menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan agar kisah hidup Muhammad Saleh ini “mendjadi kepunjaan bersama didalam lingkungan keturunannya” (hlm. 11) yang mungkin ada di antara mereka yang tidak akrab lagi dengan Bahasa Minangkabau lantaran sudah lama hidup di rantau.

Dalam edisi 1965 ini terdapat dua lampiran yang mencatat nama-nama 14 orang istri Muhammad Saleh (Lampiran 1) dan nama-nama anak cucu dan keturunannya yang menyumbang untuk penerbitan buku ini (Lampiran 2). Namun, beberapa ilustrasi yang terdapat dalam edisi 1933 muncul lagi dalam edisi 1965 ini. Artikel Kato yang telah disebutkan di atas didasarkan atas edisi ini. Akan tetapi Kato menyebutkan bahwa edisi ini diterbitkan oleh Penerbit Badar di Bandung tahun 1965, sementara versi yang saya periksa berdasarkan koleksi Leiden University Library adalah terbitan Dana Buku Moehammad Saleh di Bogor dan tulisannya lebih berbentuk stensilan dan dicetak secara terbatas. Agaknya setelah versi stensilan ini dicetak, mungkin terbit edisi yang lebih resmi yang diterbitkan oleh Penerbit Badar di Bandung itu.

Kemudian salah seorang keturunan Muhammad Saleh, H. Nur Usman, menerbitkan pula buku yang berjudul Cermin Kehidupan: Moehammad Saleh Datoek Rangkayo Basa, Saudagar Muslim Pariaman, Minangkabau Abad XIX (Jakarta: Infomedika, 2013). Bagian awal buku ini memuat artikel Kato yang telah disebutkan di atas. Buku ini lebih merupakan refleksi pengarangnya terhadap apa yang dia sebut sebagai “cermin kehidupan” Muhammad Saleh. H. Nur Usman menyoroti pokok-pokok penting dalam edisi 1965 dan mengolahnya dalam bahasanya sendiri, disertai dengan banyak rujukan ke Al-Quran. Dengan demikian, versi ini secara tekstual berjarak makin jauh dari versi asli otobiografi Saleh.

Akhirnya, pada tahun 2017 terbit lagi sebuah buku yang merupakan elaborasi dan penafsiran mendalam terhadap otobiografi Muhammad Saleh, yaitu karya Prof. Mestika Zed ini. Edisi ini benar-benar sebuah elaborasi akademik terhadap otobiografi Saleh. Didukung oleh keturunan Saleh, khususnya yang berasal dari istri keduanya, Banoe ‘Idah asal Kampung Belacan, yang dikawininya pada 28 Radjab 1279 (14 Desember 1858) dan memberikan 11 orang anak kepadanya dan 3 lainnya meninggal ketika masih kecil, Mestika merekonstruksi otobiografi Saleh dan meletakkannya dalam apa yang beliau sebut sebagai “sebuah sejarah keluarga (family story) Muhammad Saleh yang berasal dari tanah leluhur mereka di Nagari Guguk Tabek Sarojo, IV Koto, Agam” (Zed 2017:xviii). H. Dawam Rahardjo yang memberi pengantar untuk buku ini (hlm.xxxvii-l) menekankan aspek “jiwa dagang” khas Minangkabau yang dimiliki Muhammad Saleh, sebuah talenta entrepreneurship yang mestinya dapat menginspirasi masyarakat Minangkabau di masa sekarang.

Mestika mengelaborasi otobiografi Saleh menjadi 13 bab. Alhasil, buku ini menjadi sajian ilmiah dan ‘cencang halus’ sebuah memoar yang terbit kurang lebih 72 tahun sebelumnya. Setiap bab (yang terdiri dari beberapa sub-bab) merupakan pengemasilmiahan bab-bab otobiografi Saleh berdasarkan versi 1933, yang diperkaya dengan referensi akademis dan 316 catatan kaki, serta dilengkapi dengan data dari hasil wawancara dengan banyak anak-cucu dan keturunan Saleh, baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di rantau.

Sebagai seorang yang bergelut sedikit dengan dunia pernaskahan, saya membayangkan dapat melakukan refleksi dari sudut pandang yang lain lagi seandainya versi asli otobiografi Muhammad Saleh itu dapat ditemukan dan membandingkannya dengan 4 edisi turunannya yang sudah disebutkan di atas (Mestika menyebut adanya edisi 1935, tapi sejauh ini tidak ada bukti tentang edisi ini yang dapat saya temukan (Zed 2017:xvii). Setidaknya kita akan dapat melihat sejauh mana transformasi otobiografi telah terjadi.

Buku ini, dan 4 edisi turunan lainnya dari otobiografi Muhammad Saleh (1915), menegaskan apa yang disebut oleh Jack Goody sebagai “the power of written tradition” (Goody 2000). Sudah menjadi nasib sebuah tulisan untuk selalu mendapat apresiasi dan interpretasi.

*Dr. Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Leiden    University, Belanda

# Resensi ini diterbitkan di harian Padang Ekspres, Minggu 11 Maret 2018, rubrik ‘Literasi’.


Responses

  1. Salam Pak Dr. Suryadi.
    Ini mungkin referensi tambahan kalau pak Dr, Suryadi ini hendak menulis versi lain dari kisah Mohamad Saleh galar Datoe Orang Kaja Besar.
    Dalam Indische Gids. Staat en Letterkundig Maandschrift terbitan tahun 1902 hal 1184 (dengan mengutip Javasche Courant bertanggal 24 Juni 1902) disebutkan bahwa Mohamad Saleh galar Datoe Orang Kaja Besar mendirikan sebuah perusahaan yang bernama Handel Maatschappij Priaman dengan modal sebesar ƒ 150.000, yang terbagi atas 10 lembar saham.
    Mohamad Saleh Gelar Datoe Orang Kaja Besar merupakan Direktur dari perusahaan ini bersama dengan Mohamad Thaib galar Soetan Ibrahim, dan Mohamad Zeinoedin galar Marah Indo dengan 10 orang komisaris yang terdir dari 5 orang laki-laki Mohamad Zen, Mohamad Hasan, Abdul Rahman galar Radja Indo, Mohamad Oemar galar Marah Soetan, Mohamad galar Soetan Bandaharoe dan 5 orang perempuan Sie Alima, Sie Asia, Chamsiah, Radjiaa en Patimah.
    Siapakah Direktur dan komisaris Handel Maatscappij ini? Apa hubungannya dengan Mohamad Saleh galar Datoe Orang Kaja Besar?

    Salam

  2. Terima kasih atas informasi yang sangat bermanfaat ini, Pak ‘parintangrintang’. Saya sudah langsung mengeceknya. Akan saya telusuri lebih jauh koran Javasche Courant-nya. Benar bahwa itu adalah Moehammad Saleh Datuk Orang Kaya Besar, saudagar besar Pariaman itu.

    Salam,
    Suryadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: