Posted by: niadilova | 10/03/2018

Kilas balik: “15.000 BERBARIS KELIANG KOEBOER: Adjaran Nazi-Mussert dipraktekkan Belanda di Soelawesi”

20180309_134458-15.000 orang keliang koeboer“SEDIKITNJA 15.000 poetera Indonesia mendjadi korban pemboenoehan Belanda di Soelawesi Selatan, semendjak bln. Desember jl. hingga kami tinggalkan”, demikian kata sdr.2 kita jang baroe seminggoe ini meninggalkan kota Makassar. Demikian dikabarkan toelis S. Radjadi dalam Harian “Boeroeh Djokjakarta”.

Kalau dalam sedjarah kekoeasaan imperialisme, “riwajat Amritsar”tidak akan dihapoes dari sedjarah, demikian poela keboeasan imperialisme Belanda tetap akan tertoelis dengan tinta darah jang dialirkan di Soelawesi Selatan, jaitoe di Makassar, daerah Goa, teroes kepedalaman, Barroe, Pinrang, Pare-pare, Rappang.

“Djasa” 7 Des. Divisi

SEBELOEM boelah Desember ’46, jaitoe sebeloem tibanja 7 Des. Divisi di Makassar, boleh dikatakan Makassar berada ditangan pemoeda2 kita. Tentara Belanda hanja terlingkoeng dalam kamp-nja masing2. Kalau malam hari tidak berani keloear.

Tapi sesoedah divisi-imperialis itoe datang, moelailah mereka mengatoer “operasinja”. Sebab mereka soedah merasa koeat. Oentoek kota Makassar sadja djoemlah mereka tidak koerang dari 2.000 orang.

Sekiranja dalam seboeah kampoeng ada terdengar letoesan satoe kali sadja, maka tjoekoep bagi divisi itoe oentoek melakoekan “pembersihan”. Seloeroeh kampoeng dengan isi2nja total djendral dibakar habis.

Menoeroet keterangan jang bertjerita ini, mereka itoe sekarang melakoekan “pembersihan” di Pinang, doeloe kedoedoekan kontrolir, terletak 28 km. dari Pare2.

Berbaris menoedjoe maoet

MEREKA djengkel roepanja karena tidak bisa menangkap pemoeda2. Achirnja mereka main poekoel-rata sadja, dengan pemboenoehan jang kedjam dan ngeri.

Satoe2 kampoeng diperintahkan keloear, berbaris menoedjoe ketanah lapang, jang kadang2 berkilometer djaoehnja. Laki-perempoean, anak2, sakit atau tidak, mesti berangkat.

Sesoedah berkoempoel, laloe dibatjakan daftar nama2 jang soedah ada pada mereka. Mereka jang dipanggil nama itoe mesti madjoe kemoeka. Ditanja siapa kawannja. Kalau diseboet nama kawan, diapoen mesti madjoe kedepan.

Dan….jang di panggil madjoe kemoeka itoe artinja soedah ada kepoetoesan….mereka dihoekoem mati! Zonder banjak tempo, zonder periksa, teroes sadja mereka itoe ditembak mati, didepan anak-isteri dan keloearganja….

Bagaimana nasib kampoeng halamannja jg. Dikosongkan oleh pendoedoeknja, jg. dipanggil berkoempoel dilapangan-maoet itoe?

Pasoekan tentara Belanda lainnja menjerboe kampoeng itoe. Memeriksa, artinja ditjoerinja apa jang mereka perloekan. Selesai dgn. Pemeriksaan, mereka bakarlah kampoeng, hangoes mendjadi aboe segala apa jang ada didalamnja.

Itoe beloem kedjam!

DJANGAN pembatja mengira bahwa itoe soedah kedjam. Beloem! Masih ada jang lebih kedjam lagi.

Seloeroeh pendodoek kampoeng tidak merloe mereka panggil kesatoe lapangan. Bakar sadja! Kadang2 hampir mendjelang pagi, ketika orang masih tidoer njenjak. Mereka tidak sempapt bangoen. Dan tidak poela sempat oentoek hidoep lagi. Terutama ini terjadi didaerah Goa.

Kata orang, mereka tidoer.

Dan ketika mereka bangoen, mereka baroe tahoe bahwa sesoenggoehnja dirinja itoe soedah mati…..!

Itoe djoega beloem kedjam pembatja!

Sesoedah Gowa, daerah pedalaman mendapat giliran.

[terputus]

(Sumber: Harian Soeara Oemoem, No. 62 Tahoen Ke I, Senen 17 Pebroeari 1947, hm. 2)

***

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: