Posted by: niadilova | 29/01/2018

India: Sahabat lama yang terabaikan?

20180110_142350-crop 1Baru-baru ini saya mendapat undangan untuk memberi ceramah umum (public lecture) di Jawaharlal Nehru University (JNU), New Delhi, salah satu universitas terkemuka di India. Undangan itu datang dari Division of Bahasa Indonesia, Centre for Chinese and Southeast Asian Studies, School of Language, Literature and Culture Studies, JNU. Kedatangan saya di JNU adalah atas inisiatif dari Asisten Profesor Dr, Gautam Kumar Jha, satu-satunya Indonesianis di India. Ceramah yang diadakan di Kampus JNU yang luas dan terletak dalam lingkungan dengan banyak hutan itu diadakan pada tanggal 15 Januari 2018. Alhamdulillah, ceramah dengan judul “The Dutch Impact on Bahasa Indonesia” itu mendapat sambutan hangat dari civitas akademika JNU.

20180110_140520-crop

Namun dalam kesempatan ini, yang ingin saya kemukakan adalah mengenai kesan yang saya peroleh setelah mengunjungi India, khususnya yang terkait dengan dunia akademik, dalam hubungannya dengan negara kita: Indonesia. Kesan ini saya tulis berdasarkan obrolan-obrolan santai dengan Dr. Gautam Kumar Jha dan Prof. Dr. Iwan Pranoto, Atase Kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi.

20180110_141219-crop

20180110_140528-crop

India adalah salah satu negara yang termasuk kelompok negara-negara pertama yang kengakui dan menyokong kemerdekaan Indonesia. Sutan Sahrir telah berkunjung ke India ketika Belanda melakukan agresi terhadap Republik Indonesia yang baru merdeka. Pemimpin India Pandit Jawaharlal Nehru telah mengunjungi Indonesia tak lama setelah negara kita merdeka dari penjajahan bangsa asing. India telah menempatkan Dutanya di Indonesia, Dr. Subbarayan, di awal 1950an. Bung Hatta singgah di India dan disambut hangat oleh Nehru dalam perjalanannya ke Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, di tahun 1949. Masih di Zaman Kolonial, pujangga India dan pemenang Hadiah Nobel, Rabindrananth Tagore, telah mengunjungi Pulau Jawa dan Bali dan terkagum-kagum pada kebudayaan penduduknya. Hubungan sejarah antara India dan Kepulauan Nusantara bagian barat sudah begitu kuat jauh sebelum Islam dan kuasa Eropa menyebar di Kepulauan Nusantara.

Hatta-Nehru (Bug Hatta & Nehru.M Merdeka, No.35, Tahun ke II, 27 Agustus 1949,h.3)1-teks

Namun, di zaman sekarang hubungan India dan Indonesia tampak masih jauh dari maksimal. Mungkin hubungan politik antara kedua negara yang sudah bersahabat lama ini cukup baik. Akan tetapi menurut kesan yang saya dapat, hubungan baik itu belum dimanfaatkan secara maksimal, khususnya dalam bidang akademik.

Sampai saat ini, sejauh yang saya ketahui, belum ada perguruan tinggi di Indonesia yang membuka program studi Asia Selatan dengan fokus India. Yang ada baru hanya beberapa kerjasama antara sejumlah kecil perguruan tinggi Indonesia dengan beberapa universitas di India. Kunjungan akademisi Indonesia ke India memang mulai meningkat, tapi hal itu belum dibarengi dengan kerjasama-kerjasama resmi yang konstruktif dan formal. Hal ini cukup mengherankan kita. Budaya akademik India cukup bagus. Demikianlah umpamanya, dunia sudah mengetahui kehebatan para pekerja kerah putih India di bidang engineering dan teknologi komputer. Di bidang humaniora dan social science, India juga cukup bagus.

20180112_083945

Mengapa Indonesia tidak memanfaatkan peluang-peluang kerjasama yang saling menguntungkan dengan India di bidang akademik? India menawarkan biaya kuliah yang cukup murah kepada para pelajar asing. Sebagai contoh, untuk tingkat PhD, JNU hanya mematok biaya kuliah sebesar 750 US dollar per tahun kepada mahasiswa asing. Perlu diketahui juga bahwa di India universitas-universitas negeri masih disubsidi oleh Perintah. JNU, misalnya, bahkan disubsidi secara penuh oleh Pemerintah India. Mahasiswa India yang kuliah di sana hampir-hampir tidak dipungut biaya (tuition fee dan akomodasi). Walaupun demikian, kebebasan berekspresi di kampus tetap dijamin oleh Pemerintah India.

Atau mungkin dunia akademik Indonesia terlalu berorientasi Amerika, sehingga hal-hal yang positif yang dimiliki oleh negara-negara sahabat seperti India yang lebih dekat terabaikan. Barangkali juga studi di India dianggap kurang bergengsi dibanding studi di negara-negara Eropa, Amerika dan Australia. Mungkin juga faktor agama yang berbeda (India didominasi Hindu dan Indonesia didominasi Islam) mempengaruhi rendahnya minat untuk saling memahami antara kedua negara dari segi akademik. Penyapihan India yang kemudian melahirkan negara Pakistan akibat pertelingkahan antara Nehru dan Ali Jinnah di masa lampau telah mempengaruhi pandangan bangsa Indonesia terhadap India. Namun, sepatutnya dunia akademik mampu berjarak dari sentimen-sentimen agama.

20180115_114109

20180115_093707

Walau bagaimanapun, pihak KBRI New Delhi terus berupaya menjalin kerjasama dengan India. Hanya saja, seperti saya sebutkan di atas, sambutan masyarakat akademik di Tanah Air masih adem ayem. Seyogianyalah pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terus berupaya menjalin dan meningkatkan kerjasama akademik dengan India.

Prof. Iwan Pranoto, Atase Kebudayaan Indonesia di KBRI New Delhi mengatakan bahwa setiap tahun KBRI New Delhi menyediakan sekitar 15 beasiswa Darmasiswa kepada para mahasiswa India untuk tinggal di Indonesia selama paling maksimal 1 tahun. Ini adalah salah satu program yang patut disokong agar Indonesia lebih dikenal di India. KBRI New Delhi juga membuka kursus Bahasa Indonesia secara gratis untuk mahasiswa India.

20180116_071838

20180116_065105

Hal yang sangat menggembirakan adalah telah dibukanya Divisi Bahasa Indonesia di JNU. Seperti telah disebutkan di atas, Divisi Bahasa Indonesia ini berada di bawah Centre for Chinese and Southeast Asian Studies, School of Language, Literature and Culture Studies, JNU. Divisi ini diketuai oleh Assistant Professor Dr. Gautam Kumar Jha. Sejauh yang saya ketahui adalah, Dr. Gautam Jha adalah satu-satunya akademikus ahli tentang Indonesia yang dimiliki India sekarang ini, sebuah bangsa dengan penduduk nomor dua terbesar di dunia. Dr. Gautam Jha mengatakan bahwa beliau terus berusaha pemperkenalkan (studi) Indonesia di JNU. Hal ini tentu peru disokong oleh Pemerintah Indonesia. Kita jangan biarkan Dr. Gautam Kumar Jha menjadi single fighter untuk mengembangkan studi Indonesia di India. Dalam kunjungan ke JNU saya melihat antusiasme mahasiswa untuk belajar bahasa Indonesia dan mengenal lebih jauh bangsa dan kebudayaan Indonesia. Mungkin Pemerintah Indonesia dapat mengirim bantuan dosen tamu untuk mengajar Bahasa Indonesia (atau kuliah-kuliah lainnya yang relevan) ke JNU untuk membantu Dr. Gautam Kumar Jha.

Semoga antusiasme akademis yang mulai tumbuh untuk belajar tentang Indonesia di India akan dibarengi pula dengan antusiasme yang sama dari pihak Indonesia.

Leiden, 28 Januari 2018


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: