Posted by: niadilova | 15/01/2018

‘Orkes Gumarang’: Legenda Seekor Kuda dan Kisah Sukses Sebuah Grup Musik

Fadli Zon, Orkes Gumarang: Kisah Syaiful Nawas. Jakarta: Fadli Zon Library [etc.], 2017, viii+264 hlm.; ISBN 978-602-7898-15-8; (hard cover); ilustrasi

Cover-2

Buku ini adalah referensi bibliografis paling lengkap yang kini tersedia tentang Orkes Gumarang, sebuah grup musik yang asosiatif dengan etnis Minangkabau, tapi harum namannya di pentas nasional pada sejak 1950an sampai awal 1970an. Penulisnya, Fadli Zon, sebagaimana sudah sama kita ketahui, adalah salah seorang pelitikus muda Indonesia yang terkemuka sekarang ini.

Membaca buku ini, yang sangat kaya dengan petikan teks lagu-lagu yang dipopulerkan oleh Orkes Gumarang sendiri dan ilustrasi yang diambil langsung dari berbagai macam sumber pertama (koran, majalah, sampul piringan hitam dan piringan hitamnya sendiri, foto-foto klasik milik mantan personel grup musik ini dan foto-foto dokumentasi pribadi penulisnya), saya mendapat kesan betapa tingginya talenta akademis Fadli Zon. Ini adalah sesuatu yang unik dan mungkin agak ‘menyimpang’ dari image kebanyakan politisi Indonesia sekarang yang jauh dari kesan intelektual dan cenderung larut dalam budaya lisan semata.

Buku ini terbit setelah Fadli Zon bersama Teguh Yuwono menerbitkan buku yang lain tentang keris Minangkabau. Peraih doktor dari Universitas Indonesia yang mengkaji pemikiran ekonomi Mohammad Hatta dalam disertasinya (diterbitkan Fadli Zon Library tahun 2016) memiliki perhatian yang tinggi pada isu-isu kebudayaan. Hal itu terefleksi dari Fadli Zon Library yang didirikannya di Jakarta yang berisi koleksi berbagai macam benda budaya yang bernilai sejarah, sejak dari rokok sampai piringan hitam, sejak dari berbagai majalah dan koran tua sampai foto-foto klasik. Untuk menyusun buku ini, Fadli Zon yang sehari-harinya memiliki kesibukan luar biasa di dunia politik, masih sempat menziarahi makam Nurseha, salah seorang biduanita Orkes Gumarang yang terkenal, di kompleks pemakaman Tanah Kusir, Jakarta (hlm. 244).

Mengandung 33 bagian dengan bab-bab yang relatif pendek dan enak dibaca, buku yang ditulis dengan gaya narasi storytelling dan alur cerita yang lentur ini merangkai lika-liku dan suka-duka kisah hidup Orkes Gumarang melalui cerita salah seorang personelnya yang masih hidup, Syaiful Nawas. Fadli Zon yang bertindak sebagai storyteller telah melakukan wawancara mendalam dengan Syaiful Nawas.

Jatuhnya pilihan kepada Syaiful Nawas untuk berbagi cerita tentang sejarah Orkes Gumarang, melalui Fadli Zon sebagai penyambung kalam tiada lain karena keduanya sudah lama memendam keinginan yang sama untuk menulis sejarah grup musik yang telah mengharumkan nama Minangkabau itu. Kebetulan, Syaiful Nawas banyak menyimpan dokumentasi (tekstual, musikal, dan visual) mengenai Orkes Gumarang. Walau bagaimanapun dokumen-dokumen milik Syaiful Nawas harus dilengkapi dengan data yang lain yang dikumpulkan melalui penelusuran kepustakaan yang ekstensif. Hasil wawancara mendalam Fadli Zon dengan Syaiful Nawas diperkaya dengan hasil wawancara dengan beberapa personel Orkes Gumarang lainnya yang masih hidup, seperti Anas Joesoef dan mantan Kapolri Awaloedin Djamin dan dilengkapi pula dengan sumber-sumber kedua. Fadli Zon mengakui bahwa “melalui proses panjang karena pencarian data dan narasumber, akhirnya penulisan buku Orkes Gumarang ini bisa selesai”  dan baru dapat dihadirkan kepada pembaca kurang lebih 63 tahun setelah grup musik ini lahir (hlm.21).

Orkes Gumarang lahir pada tahun 1954 di Jakarta, bermula dari gagasan yang sudah muncul setahun sebelumya dari beberapa orang anak muda perantau Minang di kota itu yang memiliki jiwa seni, seperti Syaiful Nawas, Awaloedin Djamin (yang kemudian menjadi Kapolri, 1978-1982), Yus Bahri, Alidir, Dhira Suhud, Joesfar Khairudin, dan Taufik. Nama “Gumarang” dipilih karena itu adalah nama kuda yang digambarkan sangat tangkas dan mampu berlari kencang dalam kaba (cerita lisan) Minangkabau Cindua Mato yang sangat terkenal (Bagian 2). Ciri musikal Orkes Gumarang sangat kuat dipengaruhi oleh irama Hawaiian atau irama musik Latin (dengan alat musik utama gedang, bongo, maracas, piano dan gitar) yang sangat terkenal dan disukai masyarakat Indonesia pada tahun 1950an, yang dikombinasikan dengan unsur musik dan bahasa Minangkabau. Personel Orkes Gumarang sendiri tampil dalam aura kemelayuan (misalnya memakai baju teluk belanga) ketimbang ekslusif Minangkabau.

Berkat latihan keras, disiplin tinggi dan kekompakan di antara anggotanya, Orkes Gumarang lolos seleksi untuk tampil mengisi acara musik di RRI Jakarta (hlm.37-42). Itulah awal debut grup musik ini yang kemudian membawa namanya menjadi salah satu ikon penting dalam blantika permusikan nasional selama tiga dasawarsa (1950an-1970an).

Membaca bagian demi bagian buku ini, paling tidak ada tiga aspek penting tentang Orkes Gumarang yang diinformasikan kepada pembaca. Pertama, para pemimpin dan anggota personel Orkes Gumarang, baik para pendirinya, sebagaimana telah disebutkan di atas, maupun mereka yang belakangan bergabung dengan grup musik ini, seperti Zainal Ardi, Asbon Madjid, Januar Arifin, Sutan Perang Bustami dan si “kutilang Minang” Elly Kasim. Beberapa bagian (lihat misalnya Bagian 8 dan 9) menceritakan suksesi kepemimpinan Orkes Gumarang dari Anwar Anif kepada Alidir, kemudian kepada Asbon Madjid. Dapat dikesan bahwa perasaan etnisitas (karena sesama orang Minangkabau) merupakan salah satu alasan penting dalam keikutsertaan mereka dalam Orkes Gumarang.

Kedua, penampilan-penampilan Orkes Gumarang dalam forum-forum penting, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Demikianlah umpamanya, Orkes Gumarang diminta mengisi acara hiburan di Departemen Luar Negeri untuk menyambut tamu negara Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew pada tahun 1956 (Bagian 13), mengisi acara persembahan untuk Bung Hatta dan untuk hari ulang tahun beliau (Bagian 11 dan 18). Selain menceritakan pementasan-pementasan yang pernah dilakukan Orkes Gumarang di Jakarta, buku ini mencatat tour-tour di luar Jakarta dan di luar Pulau Jawa yang pernah diadakan oleh grup musik ini, seperti di Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Palembang, Tanjung Pinang, Padang, Medan, dan Banda Aceh. Dapat dikesan betapa Orkes Gumarang sangat populer di pentas nasional pada era 60an dan 70an. Hal inilah yang mendorong Pemerintah memutuskan untuk mengirim grup musik ini untuk mewakili Indonesia dalam New York World’s Fair pada tahun 1964 dan The EXPO Fair di Osaka pada tahun 1970, sebagaimana dicatat dalam buku Kumpulan Lagu Minang Modern, Orkes Gumarang pimp. Asbon M. (Jakarta: Rora Karya, 1997: xix-xx).

Ketiga, peran media modern, dalam hal ini teknologi gramofon dan piringan hitam dalam mempopulerkan Orkes Gumarang di tingkat nasional, bahkan dalam batas tertentu juga di tingkat internasional. Setelah piringan hitam pertama Orkes Gumarang “Kampung nan Djauh di Mata” produksi Irama Record (Jakarta, 1956) beredar di pasaran, nama grup musik ini terus melejit. Albumnya yang pertama itu meledak di pasaran (Bagian 15). Setelah itu menyusul beredar piringan-piringan hitam berikutnya dari grup musik ini. Dalam disertasi saya, The Recording Industry and ‘Regional’ Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau (Leiden University, 2014), saya menunjukkan peran penting teknologi rekaman yang mengasilkan ‘modern mechanical sound’ dalam mempopulerkan musik Minangkabau, termasuk Orkes Gumarang, dan memelihara apa yang saya sebut sebagai ‘Minangkabau ethnic sensibility’ atau ‘the Minangness’ di kalangan orang Minangkabau yang secara geografis hidup berpencar-pencar di zaman modern ini karena tradisi merantau.

Bagian akhir buku ini mengisahkan akhir hidup Orkes Gumarang. Ironisnya, hal itu terjadi setelah grup musik ini tampil di Sumatera Barat, ranah bunda para personelnya sendiri. Selepas pertunjukan di Padang pada tahun 1972 atas undangan Gubernur Sumatera Barat Harus Zain, grup musik ini menghilang dari publik. Gumarang bubar karena beberapa orang pernonelnya yang penting meninggal dunia dan yang lainnya pergi mencari menghidupan lain. Ada yang menjadi pegawai negeri, wartawan, dan wiraswasta. Perubahan sosial-ekonomi Jakarta yang pesat tidak lagi memberi jaminan kepada personil Gumarang untuk dapat menunjang hidup dan ekonomi keluarga mereka hanya melalui dunia musik. Pada tahun 1983, sisa-sisa personel Gumarang mengadakan pertunjukan terakhir mereka di Jakarta yang diorganisir oleh Idris Sardi. Selepas itu, Gumarang menghilang untuk selamanya. Dalam Bagian 32 buku ini, Fadli Zon mengutip kata-kata Syaiful Nawas yang meresonasikan larik terkenal puisi Chairil Anwar: “Sekali berarti, setelah itu mati.”

Tentu saja banyak aspek lain seputar kisah perjalanan sebuah grup musik yang pernah mengharumkan nama Minangkabau khususnya dan Indonesia umumnya yang dapat dipetik dari buku ini. Orkes Gumarang: Kisah Syaiful Nawas adalah buku yang perlu dibaca oleh kalangan akademik maupun masyarakat umum yang berminat pada sejarah kebudayaaan dan permusikan Indonesia.

***

Dr. Suryadi, MA – dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies, Leiden University, Belanda. Email: s.suryadi@hum.leidenuniv.nl.

* Resensi ini terbit di harian Padang Ekspres, Minggu 14 Januari 2018

 


Responses

  1. Orkes Gumarang adalah pelopor musik pop Indonesia, lagu-lagu mereka bisa didengar di semua radio di Nusantara, termasuk Malaya dan Singapura pada saat masa jayanya, Lagu-lagu berbahasa Minang dari Orkes Gumarang tersebut mereka putar sebagai ;lagu-lagu pop masa itu dan tidak dianggap sebagai lagu daerah.. Berbeda dengan lagu-lagu Minang pada saat ini yang hanya dikenal oleh masyarakat Sumbar dan di sekitarnya dan disebut sebagai lagu-lagu daerah Minang dan kalau diperdengarkan di radio-radio, termasuk RRI sudah pasti judulnya “Lagu-lagu Daerah.

    Lagu-lagu dari Orkes Gumarang yang paling ngetop adalah Laruik Sanjo dan “Ayam den lapeh” yang masingp-masing dibawakan oleh Anas Jusuf dan Nurseha. Kedua judul lagu tersebut diangkat menjadi film cerita layar lebar.

    Selain itu saya kepingin tahu apakah Elly Kasim pernah bergabung dengan Orkes Gumarang ?. Menurut saya Elly Kasim sangat medok dengan cengkok Minangnya, sedangkan lagu-lagu Gumarang sama sekali tidak pakai cengkok Minang dan. saya cenderung mengnggap lagu-lagu Gumarang lebih berciri kemelayuan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: