Posted by: niadilova | 07/01/2018

Puisi Nusantara 3: Semangat Konferensi Asia-Afrika dalam puisi (1965)

Sadjak Sadjak Afrika-Asia

Menjambut dasawarsa semangat bandung

ZULKABIR, (INDONESIA).

KAMI SERTA KAU BANDUNG

namamu tak terlupakan sajang

memberikan arti pada luasan masakini

menentukan apakah suatu ide berhak hidup

menghangati bumi yang dipanasi sinar Allah

dari zaman jang penuh pertentangan kepentingan

antara kebiadaban jang diwarnai megahnja keduniawian

antara kolotnya konsepsi jang berkendaraan budaja materi

dengan apa jang kaulahirkan: semangat bandung

 

Bandung, kau kota dingin dikawah gunung

berdiri teguh dengan restu pendirimu nan djaja

dengan segala keramahan; wudjud dan isimu

jang tak pernah menolak damai dalam kemerdekaan

ini djiwamu – ini djiwa seluruh kami wargamu

tekad jang didasari oleh kejakinan teguh: Maha Besarnja Allah

jang tak ada sarekat bagiNja – dengarlah: Allah satu

 

namamu jang penuh arti tegas berdiri teguh itu

memberikan api – memberikan semangat – membakar

memaraknjalakan bumi Allah: malaikat mautnja penindas

Biarlah dunia lama jang lapuk itu terbakar hangus – meng-erang2

dan mati dan diatasnja kita dengungkan kumandang abadi: Allahu Akbar

dunia baru jang penuh kedamaian dan kemerdekaan: sosialisme

Dan kau – kami takkan kehabisan itu api

(ambil dan bakarkan, itu inti tambah besarnja kita)

 

Selamat, selamatlah kau Bandung kota wibawa’

Jang dari kandunganmu diikrarkan dolidaritas Islam

Jang dari djantung hatimu diangungkan: ini pahlawan Islam dan

Kemerdekaan

Tentu, tentu ini maha halilintar djutaan volt bagi penindas dengan segala

Manifestasinja

Ja, sebab Islam agama jang hak dan terevolusioner

musuh bebujutan untukmu hai zalimun

tjatat ini, tjatat: tak ada damai sampai kapanpun

 

Bandung, Bandung – kita tak terpisahkan lagi

kita teruskan rambahan djalan ini

kita selesaikan – kita tjiptakan: baldatun thajjibatun wa Rabbun ghafur

Dirgahajulah engkau, dirgahajulah seluruh jang dihangati semangatmu

(kami relakan ia djadi ibukotanja bangsa2 jang inginkan dunia baru)

 

 

G.T.U. TAM’I (KONGO BRAZAVILLE)

KERETA DJENAZAH

Anak jatim telah mati dalam topan

dimulutnja masih terpasang pipa lempung

lempung dari bumi hauskan gemuruh

dinamit

sepandjang abad demi abad remuk

anak jatim itu telah mati. Terpukau

menghirup tjaja matahari garang

dengan pipa lempungnja kemerahan

pipa bumi Kongo. Berdarah

diapun bernjanji pilu

kemudian abad2 menggilas’

mengaliri djiwaku

 

kereta djenazah itu lewat bawah djendela

kusambut kau dengan hati terbuka

angin menggerisik daun pepohonan

betapa singkatnja ingatan berlalu

anak jatim sahabatku

betapa banjak sungai telah berlagu

antara kita

 

aku sebenarnja telah lama mesti berkubur

karena memulai sedjarah Kongo

karena melupakan sakit gigiku dan bitjara djudjur

tindju jang diatjungkan. Dihutan rimba

irama lagu

disebuah sungai kumasuki tubuh djiwamu

dan menjanjikan

suara batin dan djasadmu dalam hudjan

dileher gagak2 hitam

kubatja kebahagiaan jang hilang

 

(alihbahasa: Hidajat Ismail)

 

 

U KHIN ZAW, (BURMA)

NJANJI MENUMBUK PADI

(Diangkat dari lagu2 rakjat Burma)

 

Siapkan alu, deretan rapi-rapi

Gadis2 Shwe Naung: atur batu lesung

Mari kita berlagu beriang hati

Sambil menumbuk dendang menggaung

 

Suara apa itu, gemeresik disana:

Oh, ibu Shwe Naung naruh sedekahan

Diiring irama tabuh dan gendang

 

Tjaja keemasan binar-berbinar

Dipintu langit memetjahkan fajar?

Oh djubah merah para pendeta

Melenggang dengan bedjana

Kemari, sini, isi sampai rata!

 

LIhatlah kembang chickrassia-ku ini

Indah bukan? Tunas mungil diranting ranting

Tapi dia kan laju kehilangan arti

Djika belum mengembang telah kausunting

 

Hai anak dara sedang menenun

Kain apa sedang kaudjalin?

Aih masa kau tak tahu

Seperai katun untuk diriku

 

Rumahku terbuat dari kaju tjati

Bersuluh benderang dimalam hari

Benar orangtuaku orang berharta

Tapi djika kau takut datang sendiri

Kirimlah surat dengan sembunji

 

Telah kubeli sepasang sandal

Warnanja merah udjung-keudjung

Dan tak pernah akan kupakai

Sebelum kita djadi mempelai

 

(alihbahasa: Hidajat Ismail)

 

 

JOSEPH KARIUKI, (KENYA)

MARI PERGI, KASIHKU

 

Mari pergi, kasihku, dari djalanan

Dari mata2 dengki jang menganak-tirikan

Dari katja2 toko. Jang membias bajangan berbeda

Istirahlah dalam naung kamarku jang setia

 

Disitu, bebas dari opini, terlindung dibelakang

Daku sendiri, daku tjuma lihat dirimu;

Dan dimatahitamku kelabumu

Akan menghilang

 

Kemerlap lilin memantulkan

Dua bajangan hitam didinding

Jang lebur djadi satu ketika aku mendekatimu

 

Kitika tjahaja penghabisan berpendar

Kurasai sentuh tanganmu dalam genggaman

Dua manusia bernapas dalam satu tarikan

Dan piano menjanjikan

Keselarasan jang tak kundjung pudar

 

(alihbahasa: Jujun Suriasumantri)

 

 

AGOSTINHO NETO, (ANGOLA)

KATA2 PERPISAHAN

(fragmen)

 

Kami botjah2 telandjang dirumpun2 sanzala

Brandal2 tak bersekolah jang menjepaki bola2 pasir

dipadang hari

kami

jang disewa menelantarkan hidup diladang kopi

orang2 hitam bodoh

jang membungkuk terhadap kulit putih

dan silau kena kelihatan escudo jang memutih

kami anak2mu lorong kampung penduduk asli

 

dimana listrik tak menerangi

pemabuk sekarat

sendiri dihiruk-pikuk tamtam maut

anaknja jang lapar

jang haus

jang malu memanggilmu ibu

jang takut menjeberangi djalan raja

jang takut kepada manusia

 

Kami, kamilah, kami itu sendiri

Perebut kembali harapan hidup ini

 

(alihbahasa: Jujun Suriasumantri)

 

 

CHALIL MATRAN, (LIBANON)

KENANGAN PADA DUNIA KANAK2

 

Masih ingatkah kau, masa botjah kita

Sekali lama, didesa Zahreh karunia

Betapa dikebun anggur dua bajang bertemu

Bertukar gelak dirimbun semak rindu

 

Masih ingatkah kau, bila kita bersirebutan

Memetiki gugusan anggur paling matang?

Dan semua kita bajar dengan rekah senjuman

Berasa manis mabuk kepajang

 

Masih ingatkah kau pagi bidadari berdua

Pada pelukannja kemesraan dan kesajangan

Melambungkan kita kekialu-kilau angkasa

Meninggi hingga kita melingkari kajangan?

 

Dan bagaimana sungai jang selalu kita mudiki

Masihkah ia mengalir dengan biru tanah tepi?

Ah, begitu tjinta merangkuh semua

Memeritjik pepohonan denhan kesegarannja.

 

(alihbahasa: Hijajat Ismail)

 

AZIZAH HARUN, (SYIRIA)

MENANTI LAGU

 

Kalau kautanja aku,

aku dalam duri, kasih

Kutengok kepahitan kutelan api untuk seniku

akulah ratapan dunia

dendangkan kemiskinan

rasa tjinta jang getir

dalam djantungku

dalam mulutku

 

dalam gelap menambah tjinta dan bentjiku

kuisap hidupku dari kesedihan, dari darahku

dalam derita aku tidak sendiri, kawan

kulihat djantung2 merintih depan mataku

kutiupkan api dari relung hatiku

supaja bangkit

 

betapa kubakar djantungku dengan api membara

bebasku dan bagiaku mungkin dalam hantjurku

kawan, aku bosan ditawan dalam tipuan

merdeka jang penuh kasih menggores dinding

takkan kutangisi lukaku mengadu kepada manusia

kan kunjanjikan ditaman tjinta

dan burung menjambut senandungku

rintih dan tangisan kuperdengarkan dibintang malam

api takkan takut lagi karena angin jang bertiup menderam

 

(alihbahasa: Ali Audah)

 

 

DAVID DIOP, (SENEGAL)

AFRIKA

Afrika wahai Afrika

Afrika perdjurit2 perkasa dipadang rumput mojangku

Afrika jang dinjanjikan para leluhur

Ditepi sungai jang djauh

Aku tak pernah mengenal dikau

Tapi darahmu mengalir kentjang diseluruh urat

Darah hitam kemilau jang mengirigasi padang2

Darah dari keringat

Keringat dari kerdjamu

Kerdja kaum budak

Perbudakan anak2mu

Afrika wahai Afrika tjeritakanlah padaku

Inikah kau dengan punggung bungkuk

Jang tersuruk dibawah dera penghinaan

Punggung jang menggigil penuh parut2 merah

Dan mendjawab baik terhadap letjutan matahari terik

Sura perlahan padaku berbisik

Lihatlah pohon itu anakku jang baik

Pohon teramat muda dan kuat

Pohon dibelantara sepi keliling bunga putih jang memutjat

Itulah Afrika, Afrikamu

Jang tumbuh kembali menjeruak kelangit

Dengan buah jang mengendapkan

Sari kemerdekaan jang pahit

 

(alihbahasa: Jujun Suriasumantri)

 

(Sumber: Majalah Gema Islam, No. 71, Th. IV, 1 April 1965 / 20 Dzulkaidah 1384:[17-18])

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: