Posted by: niadilova | 01/01/2018

PPM #140: ‘Himpoenan Saudagar Indonesia’ di Fort de Kock berdiri (1932)

H. S. I. Di Fort de Kock. Di Fort de Kock telah didirikan satoe koempoelan saudagar2 jang diandjoei oléh saudagar2 di Fort de Kock dan di Padang.  Koempoelan ini memakai nama H. S. I. Atau Himpoenan Saudagar Indonesia. Kantornja di Schoolstraat Fot de Kock. Toedjoeannja akan mengangkat deradjat saudagar2 Indonesia masa sekarang. (teh Armij.)”

***

Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 29, Tahoen X, 8April 1932, hlm. 452 [Kroniek]) tentang didirikannya satu lagi perkumpulan para saudagar di Fort de Kock (Sekarang: Bukittinggi). Pendirian perhimpunan itu sudah disetujui oleh para saudagar di Fort de Kock dan Padang.

Sebagaimana dapat dibaca dalam kutipan di atas, perhimpunan saudagar Minang yang baru itu diberi nama Himpoenan Saudagar Indonesia yang disingkat menjadi H.S.I. Penggunaan kata ‘Indonesia’ untuk nama perkumpulan para pedagang ini tentunya menarik untuk diamati. Boleh jadi penamaan ini merefleksikan meningkatnya kesadaran nasional menyusul makin maraknya gerakan menuntut kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajah Belanda memasuk dekade 1930an.

Pada akhir kutipan ini juga disebutkan bahwa H.S.I. yang berkantor di Schoolstrat Fort de Kock itu bertujuan untuk “menangkat deradjat saudagar2 Indonesia masa sekarang.

H.S.I. jelas bukan perkumpulan saudagar pertama yang didirikan oleh para pedagang Minangkabau, Demikianlah umpamanya, pata tahun 1914 sudah berdiri di Padang satu perhimpunan para pedagang yang diberi nama “Sjarikat Oesaha” di bawah pimpinan Taher Marah Soetan.

Sejak awal abad ke-20, kesadaran para pedagang Minangkabau untuk berserikat makin meningkat. Ini tentunya terkait dengan kepentingan untuk memajukan bisnis mereka dan untuk mempertahankan usaha mereka dalam persaingan dengan kelompok-kelompok pedgang lain, khususnya dengan para pedagang Cina. Ciri penting perkumpulan-perkumpulan pedagang Minang pada masa itu adalah bahwa mereka sangat dekat dengan kaum intelektualnya, malah sering memberikan bantuan keuangan.

Sejarah entrepreneurship Minangkabau, khususnya dunia perdagangan, yang sering diidentikkan dengan orang Minang, belum banyak dikaji. Selama ini fokus perhatian para sejarawan masih seputar sejarah intelektual suku bangsa ini. Sudah waktunya perspektif ini digeser ke topi topik lain, seperti dunia perdagangan/pedagang suku Minangkabau ini.

Dr. Suryadi, M.A. – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 31 Desember 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: