Posted by: niadilova | 30/12/2017

Tari dan politik di Indonesia: kasus ‘Lenso’

Tari Lenso (sumber.TARI dan politik di Indonesia sudah sejak lama berkelindan satu sama lain. Bahkan kelindan itu mungkin lebih luas lagi: sampai kepada aspek sosial budaya. Dalam perspektif lokal, dikenal istilah seni rakyat dan seni keraton, yang juga terefleksi dalam tari. Demikianlah umpamanya, dalam kebudayaan Jawa dikenal tari Srimpi Pandhelori, tarian yang identik dengan budaya keraton Jawa. Sedangkan di Bali dikenal tari Legong Keraton Asmarandana yang asosiatif dengan keraton-keraton Bali.

Di kutub lain, tari-tari rakyat diidentikkan dengan tari-tarian massal yang bernuansa pergaulan. Sampai batas tertentu, tarian-tarian seperti ini sering dianggap kurang adiluhung dibanding kelompok pertama tadi. Tari-tarian rakyat dapat ditemukan secara luas dalam mayarakat Indonesia yang berbilang etnis itu. Salah satu tarian rakyat yang dulu populer secara nasional di tahun 1950an dan 1960an adalah tari Lenso.

Lenso: tarian rakyat Maluku

Dalam situs Negeriku Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika (http://www.negerikuindonesia.com/2015/11/tari-lenso-tarian-tradisional-dari.html; dikunjungi 29-12-2017) disebutkan bahwa Lenso adalah salah satu tarian tradisional dari daerah Maluku. Konon tari Lenso ini dulunya berasal dari tarian orang Portugis. Kita sudah sama mengetahui bahwa orang Portugis adalah salah satu bangsa Barat yang pertama kali menjejakkan kaki di ‘kepulauan rempah-rempah’ Maluku, dan sejarah telah mencatat bahwa para pedagang Portugis yang hadir di beberapa tempat di Kepulauan Nusantara juga membawa serta kesenian mereka, khususnya musik dan tari.

Seiring dengan perjalanan waktu, unsur-unsur kesenian Portugis itu mengalami domestikasi dan penyesuaian di tempat yang baru, yang jauh dari negeri asalnya. Maka, di Batavia misalnya, kita mengenal musik kroncong yang antara lain mengandung unsur musik Portugis. Di Padang pula, dikenal musik Gamaik (atau Gamad) dan tari Balanse Madam yang punya kakikat hibrida dan juga mengandung unsur-unsur musik Portugis dan Spanyol. Satu ciri khas dari jenis musik dan tarian yang mengandung unsur-unsur kebudayaan Portugis ini adalah bahwa ia berkembang di kota-kota bandar (entrepot) seperti Batavia, Padang, Ambon, Dili, dll.

Setelah kononialisme bangsa-bangsa Barat berakhir di Kepulauan Nusantara dan setelah bangsa Portugis meninggalkan kepulauan Maluku, tari Lenso tetap dipelihara dan diapresiasi oleh masyarakat setempat dan terus mengalami penyesuaian.

Kata Lenso dalam bahasa daerah Maluku berarti “sapu tangan”. Memang tarian ini adalah tarian pergaulan dengan menggunakan “sapu tangan” sebagai medium untuk ‘berkomunikasi’ dalam menyampaikan pesan. Strukturnya mirip sekali dengan tari Balanse Madam yang mengiringi musik Gamaik di Padang yang juga menggunakan sapu tangan sebagai atributnya.

Menurut sumber yang dirujuk di atas (dan foto pertama diambil dari situs tersebut), secara tradisional tari Lenso ditarikan oleh kaum wanita saja, dengan sapu tangan sebagai atributnya. Fungsi tari ini adalah untuk penyambutan tamu-tamu kehormatan. Jumlah penarinya berkisar antara 6 sampai 9 orang. Tarian ini diiringi oleh alunan musik tradisional seperti totobuang dan tifa dengan irama bertempo sedang dan menggambarkan keceriaan. Kostum penarinya berupa pakaian tradisional Maluku: baju kebaya khas Maluku yang berwarna putih dan bagian bawah berupa kain panjang khas Maluku. “Gerakan dalam tari Lenso biasanya lebih didominasi oleh gerakan tangan yang melambai ke depan dan gerakan kaki melangkah. Dalam tari Lenso ini terdapat 3 gerakan utama, yaitu gerak maju, gerak jumput dan gerak mundur. Semua gerakan tersebut tentunya disesuaikan dengan irama musik pengiringnya” (ibid.)

Tari Lenso dan politik nasional

Tari Lenso mulai dikenal secara nasional menyusul munculnya gerakan kebudayaan nasional menyusul kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme bangsa-bangsa asing. Ini adalah bagian dari kampanye pemerintah untuk membentuk dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, sebuah negara-bangsa (nationstate) yang baru lahir dan ingin tumbuh dengan kepribadian dan identitasnya sendiri.

Pada tahun 1950an Presiden Soekarno melancarkan kampanye nasional untuk mengembangkan dan memperkokoh kebudayaan Indonesia. Berbagai unsur kebudayaan daerah yang dianggap menonjol diangkat ke tingkat nasional, termasuk tari Lenso. Pada paroh kedua dekade 1950an tari Lenso, seruling Ambon dan satu tari Maluku lainnya yang bernama Tjakaiba [Cakaiba]) sudah disiarkan dalam program-program radio di Jawa, seperti di Bandung (lihat ilustrasi; sumber: Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 25-04-1956, 19-03-1957). Sangat mungkin bahwa penasionalan kesenian Maluku ini terkait dengan kampanye yang sedang dijalankan Presiden Soekarno untuk mengintegrasikan bagian timur Nusantara, khususnya Irian Barat, ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan untuk mengambil simpati rakyat Indonesia bagian timur untuk mendukung politik konfrontasi Soekarno melawan Belanda mengenai Irian Barat.

Seruling Ambon & Tari Lenso (Algemeen Indisch dagblad de Preangerbode, 25-04-1956)

Dalam rangka membentuk kebudayaan dan kepribadian nasional itu pula, pada tahun-tahun berikutnya, berbagai misi kesenian dikirim oleh Pemerintah Indonesia ke luar negeri dan sering dilepas oleh Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Tujuannya: untuk memperkenalkan kebudayaan dan identitas bangsa Indonesia kepada warga dunia. Inilah arketip dari misi-misi kesenian ke luar negeri yang menghabiskan banyak uang negara dan berurat berakar sampai sekarang.

Namun, fakta sejarah telah mencatat bahwa kampanye kebudayaan yang dilancarkan oleh Presiden Soekarno itu tidak terlepas dari pesaingan dua blok di dunia: Blok Barat dan Blok Timur. Maka, yang terjadi kemudian adalah munculnya dua gerakan kebudayaan yang saling bersitegang di kiri dan kanan Soekarno: Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang condong ke Blok Timur kontra Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang condong ke Blok Barat.

Tari Lenso dan Tjakaiba (Algemeen Indisch dagblad de Preangerbode, 19-03-1957)

Dalam gerakan-gerakan kebudayaan untuk menentang imperialisme Barat, PKI antara lain menggunakan unsur-unsur tarian rakyat untuk memanipulasi dan menggalang kekuatan massa. Mereka menonjolkan kontras tarian-tarian tersebut dengan tarian-tarian keraton yang mereka anggap feodalistik dan genre-genre kesenian populer produk Amerika yang tentunya sangat mereka benci.

Lenso kemudian dijadikan salah satu ikon seni progresif, seni rakyat tersebut. Selain itu, kita juga mengenal beberapa lagu yang dipopulerkan oleh PKI untuk memobilisasi massa rakyat, seperti lagu GenjerGenjer dan lain-lain.

Dalam Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang diorganisir oleh PKI dan diketuai oleh HR Bandaharo yang berlangsung di Jakarta dari 27 Agustus sampai 2 September 1964 , dikeluarkan beberapa keputusan yang terkait dengan isu kebudayaan, antara lain menjadikan tari Lenso sebagai “tari pergaulan seluruh bangsa” yang dapat digunakan untuk memperkuat semangat revolusioner rakyat. Di bawah judul “KEPUTUSAN2 KSSR: Resolusi KSSR tentang Referat D.N. Aidit, DENGAN SASTRA DAN SENI JANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL MENGABDI BURUH, TANI DAN PRADJURIT” yang dimuat dalam majalah Bintang Merah, No. 9/10, 1964:10-47 disebutkan (hlm. 36-37):

DJADIKAN TARI LENSO MALUKU SEBAGAI TARI PERGAULAN SELURUH BANGSA
        Konfernas Sastra Dan Seni Revolusioner (KSSR) jang diselenggarakan oleh CC PKI dan di[l]angsungkan pada tanggal 27 Agustus s/d 2 September 1964 di Djakarta, sesuai dengan garis referat Kawan Ketua D.N. Aidit telah mendiskusikan tentang dibutuhkannya suatu tari pergaulan bagi massa revolusioner dinegeri kita dewasa ini.
      KSSR mengakui kenjataan, bahwa sampai sekarang ini belum ada tari pergaulan jang sudah tjukup meluas dan diterima oleh semua sukubangsa dinegeri kita. Mengingat betapa pentingnya peranan tari pergaulan ini dalam mengakrabkan hubungan dan mempererat solidariteit antar sukubangsa dari berbagai golongan masjarakat maupun dalam pertemuan2 gembira massa revolusioner, maka tari pergaulan ini perlu setjepat mungkin digubah.
      KSSR berpendapat, bahwa tari pergaulan harus memenuhi sjarat2 mudah, meriah dan massal. Mudah berarti bisa ditarikan oleh setiap orang dalam waktu jang se-singkat2nja, meriah berarti bisa menimbulkan suasana gembira bersopan-santun, sedang massal berarti bisa ditarikan bersama2 dan beramai-ramai. Untuk menggubah tari pergaulan ini perlu diambil unsur positif dari gerak2 dalam kerdja. Oleh karena bagian terbesar Rakjat kita adalah kaum tani, tepatlah djika gerak2 jang digubah itu diramu terutama dari gerak2 kerdja kaum tani, baik dari gerak2 kerdja ketika panen maupun dari gerak2 tarian pada pesta2 panen tradisional. Gerak2 tari bersama jang banjak dilahirkan oleh aksi2 massa, perlu pula mendapat sorotan dalam penggubahan ini.
      KSSR mengakui tepat kebidjaksanaan Presiden Sukarno untuk memilih tari2 daerah, terutama tari Lenso dari Maluku, untuk ditaikan ber-sama2 diberbagai pertemuan untuk mengisi atjara2 akrab dan bersahabat dan untuk memeriahkan suasana. Hal ini sekaligus merupakan usaha memetjahkan masalah tari pergaulan ini.
      KSSR dengan bulat memutuskan untuk mendjadikan tari Lenso Maluku tersebut sebagai tari pergaulan seluruh bangsa dan kepada seniman2 revolusioner diharapakan, supaya dalam waktu jang tidak terlalu lama bisa menggubah satu tari pergaulan jang mentjakup unsur dan memenuhi sjarat2 mudah, murah dan massal.
                                                                                         Djakarta, 2 September 1964.
                                                                          Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner.

 

Dari kutipan di atas dapat dikesan dengan jelas bahwa muncul ide para seniman komunis untuk mentransformasikan tari Lenso dari bentuk tradisionalnya menjadi bentuk yang lebih ‘modern’ yang disesuaikan dengan keperluan-keperluan politik PKI. Caranya antara lain dengan meramunya dengan “gerak2 kerdja kaum tani, baik dari gerak2 kerdja ketika panen maupun dari gerak2 tarian pada pesta2 panen tradisional” dan  “gerak2 tari bersama jang banjak dilahirkan oleh aksi2 massa.”

Sejarah telah mencatat bahwa tari Lenso kemudian menjadi salah satu tarian yang populer di lingkaran elit kekuasaan Orde Lama. Tari ini dimodifikasi dan menjadi salah satu tari pilihan dalam pesta-pesta penyambutan tamu negara. Lenso ditarikan di istana Merdeka dan Istana Bogor. Tarian itu tidak lagi identik dengan penari wanita, tapi dilakukan secara berpasangan antara lelaki dan wanita.

KSSR juga menggesa supaya dilakukan pula upaya-upaya yang terarah untuk menumbuhkan kebudayaan yang revolusioner di kalangan rakyat. Upaya-upaya itu mencakup berbagai genre kesenian. Demikianlah umpamanya, konferensi tersebut menyimpulkan bahwa perlu dilakukan gerakan untuk menggubah “tarian2 kolektif jang mampu menghangatkan aksi2” (Bintang Merah, ibid.:36). Kesimpulan konferensi nasional (konfernas) itu selanjutnya menyebutkan (hlm. 36-37):

Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) […] telah mendiskusikan setjara mendalam bagian2 dari Referat Kawan Ketua D.N. Aidit jang mengenai tari dan peranannja, berpendapat dengan bulat bahwa ditaraf meningkatnja perdjuangan massa Rakjat, terutama aksi2 kaum tani, dewasa ini penting sekali arti tarian kolektif.
      KSSR menjedari kenjataan jang menggembirakan, bahwa kegiatan menggubah tarian2 baru achir2 ini sangat meluas. Ini adalah sesuai dengan tuntutan objektif dari makin mematangnja kebangkitan massa Rakjat dalam perlawanan menentang imperialisme dan feodalisme, disusul oleh makin mematangnja kebangkitan spirituil jang meminta pengutjapan dalam berbagai bentuk kesenian, dan telah mendorong seniman dan pekerdja tari untuk lebih baik dan lebih tegas mengabdikan tarian kepada massa Rakjat.
     Pendapat, bahwa tarian hanjalah sekedar hiburan, pada umumnja sudah tidak ada lagi dikalangan seminan revolusioner. Kehangatan perdjuangan massa Rakjat itu sendiri sudah berhasil menarik sedjumlah besar seniman dan pekerdja tari kedalamnja, dan perdjuangan itu merupakan guru jang baik untuk memberikan pandangan jang tepat bagi haridepan tari, jang terlepas dari belenggu konservatisme. Berbitjara tentang mengabdikan tarian kepada kaum buruh, kaum tani dan pradjurit, KSSR mengartikan ini sebagai pengikisan habis sifat individualisme, sifat pengagungan pahlawan2 perseorangan tanpa dukungan massa, jang merupakan moral utama daripada tarian2 lama. Djuga unsur2 keisengan, erotisme dan formalisme dari tarian2 lama harus dibuang.
      Tarian harus merupakan refleksi artistik dalam bentuk gerak dari kehidupan, perdjuangan dan kebangkitan massa Rakjat pekerdja, terutama buruh, tani dan pradjurit, serta harus mampu mentjerminkan perasaan, fikiran dan aspirasi massa Rakjat dalam kesedaran kehidupannja, dalam arti penggambaran setjara baik kegiatan kerdja dan djuang.
      Konfernas djuga membenarkan pendapat Kawan Ketua D.N. Aidit dalam referatnja, bahwa mempeladjari gerak tarian folklor serta musiknja akan sangat memperkaja kemungkinan2 untuk menggubah tarian2 baru.
      KSSR memutuskan, supaja para seniman dan pekerdja tari Komunis menggubah tarian2 kolektif jang mentjerminkan persatuan dan perlawanan massa Rakjat, jang mengungkapkan aksi2 revolusioner, kegiatan2 kolektif, saling-bantu dan solidariteit, dalam penuangan jang artistik. Dengan berpegang teguh pada garis pentjiptaan 1 – 5 – 1, dengan mengintensifkan riset, melakukan kompetisi2 dan perluasan pusat2 latihan, maka KSSR jakin pasti akan bisa digubah tarian2 kolektif jang mampu memeriahkan aksi2 revolusioner, terutama aksi2 kaum tani.
                                                                                          Djakarta, 2 September 1964.
                                                                           Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner.

 

Selanjutnya, konfernas tersebut juga menginstruksikan (Ibid.: 39-40):

PERBANJAK LAGU2 POPULER JANG KERAKJATAN DAN LUASKAN ROMBONGAN2 PADUAN SUARA UNTUK MELAWAN MUSIK DAN LAGU2 DEKADEN IMPERIALIS AMERIKA SERIKAT.
Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) […] telah mendengarkan dan mendiskusikan setjara mendalam Referat Kawan Ketua CC PKI, D.N. Aidit jang berdjudul “Dengan sastra dan seni jang berkepribadian nasional mengabdi buruh, tani dan pradjurit” serta setelah mendengarkan pandangan2 dari para peserta lain dari pusat maupun daerah, menjetudjui sepenhnja konstatasi tentang pentingnja mempertinggi kewaspadaan terhadap agresi ideologi lewat musik oleh imperialis AS. Perdjuangan melawan pengaruh2 dekaden musik imperialis AS terhadap kehidupan musik nasional dan sukubangsa adalah bagian mutlak dari perdjuangan untuk mengembangkan patriotisme dan memperkuat kepribadian nasional musik.
      Musik sebagai bentuk seni jang sangat langsung dan tjepat mempengaruhi manusia, terutama pemuda2, telah ditundjukkan betapa bahajanja pengaruh musik ngak-ngik-ngok, tjengeng, brengsek, bedjat moral, jang harus segera diachiri dengan perlawanan melewati kegiatan2 memperbanjak lagu2 populer kerakjatan dan meluaskan rombongan2 paduansuara dengan semangat mendjadikan musik sebagai sendjata ditangan Rakjat.
      Adanja ketjenderungan2 jang tidak tepat, jaitu melakukan pembaruan musik daerah atau musik sukubangsa dengan mengabaikan unsur melodi, ritme, maupun tehnik tradisional, djustru bisa terdjerembab kedalam djaringan agresi musik dekaden dan tertjabut dari akan tradisionil[nja]. Sebaliknja ada ketjenderungan lain jang menolak setiap usaha pembaruan, sehingga bersifat konsevatif, dan terdjerembab kedalam kebiasaan pentjarian efek2 kenikmatan jang mentjerminkan kemalasan atau mat2an feodal.
      Untuk mendjawab situasi dan untuk mengembangkan patriotisme dilapangan musik, harus dikembangkan keberanian kreatif atas dasar pengintegrasian total dengan Rakjat pekerdja, terutama kaum tani. Adanja kenjataan kurangnja lagu2 perdjuangan, terutama lagu2 untuk pradjurit, harus segera diatasi. Untuk membina keluarga revolusioner jang dihangati oleh semangat perdjuangan harus dikembangkan penggubahan lagu2 untuk anak2 jang akan mendjadi pelaksana dan pewaris revolusi.
      KSSR berpendapat bahwa djalan memperluas kegiatan dan djumlah paduansuara2 sampai ditiap ketjamatan, bahkan sampai didesa-desa, merupakan bagian dari perdjuangan untuk memperhebat ofensif Manipolis dan ofensif kepribadian dibidang kebudajaan, untuk memperhebat gempuran2 Rakjat terhadap agresi musik imperialis AS dan sisa2 mat2an feodal. Perdjuangan untuk memperluas kompetisi2, festival2 maupun mengisi siaran2 RRI/TV dengan lagu2 patriotik dan revolusioner sangat erat hubungannja dengan kegiatan memperbanjak kreasi dibidang musik dan pembentukan ansambel2 njanji dan tari ditiap ibukota Daswati I. Pembentukan grup2 atau rombongan musik dengan alat2 (instrumen) jang murah dan massal seperti angklung, suling, harmonika, totoboang, Kulintang dll. adalah merupakan aksi perlawanan terhadap musik dekaden dengan memobilisasi dan mengorganisasi massa jang luas.
      Perbanjak lagu2 populer kerakjatan dan luaskan rombongan2 paduansuara2 untuk melawan musik dan lagu2 dekaden imperialis AS.
                                                                                          Djakarta, 2 September 1964.
                                                                          Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner.

 

Kutipan di atas menjelaskan dan merefleksikan konsep PKI di bidang seni-budaya dalam melawan imperialisme budaya Barat. Dengan demikian dapat dipahami mengapa pada tahun-tahun sesudahnya perbalahan antara Lekra kontra Manikebu makin meruncing. Sejarah telah mencatat bahwa ujung dari semua itu adalah jatuhnya rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno. Kekuatan Barat akhirnya berhasil melumpuhkan rezim itu yang pada tahun-tahun terakhir masa kekuasaannya makin dekat dengan PKI.

Tari Lenso dihujat

Hancurnya rezim Orde Lama telah menghasilkan kemenangan di pihak Manikebu. Maka, sudah dapat diduga bahwa tari Lenso pun menerima akibatnya. Menyusul perlucutan kekuasaan Soekarno dan munculnya kekuatan Orde Baru, semua hal yang berbau Orde Lama, yang berbau Soekarno, disingkirkan. Tari Lenso pun menerima nasibnya: disingkirkan dari pentas nasional.

Pada tahun 1967, menjelang Orde Lama tamat, media-media Islam menghujat tari Lenso. Tari tersebut dinilai telah mencemari istana dan moral para elit Orde Lama. Aksi dansa-dansi di Istana Merdeka dan Bogor dalam penyambutan para tamu-tamu negara dinilai tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Semikianlah umpamanya, dalam majalah KIBLAT, No. 17 – Februari – ke I, Th. XIII -1967) dimuat laporan-laporan yang mengejek dan mengeritik kebiasaan para petinggi Orde Lama yang doyan menari Lenso dengan perempuan-perempuan cantik yang bukan muhrimnya (lihat ilustrasi) dalam kemewahan istana, sementara rakyat makin miskin dan menderita. Dalam pandangan kaum Muslim, pesta ber-lenso ria tersebut telah menyebabkan merebaknya dekadensi moral di kalangan petinggi Orde Lama. Salah seorang petinggi Orde Lama yang dikritik karena suka menari Lenso dengan perempuan-perempuan cantik adalah Joesoef Moeda Dalam (lihat ilustrasi).

Sukarno menari lenso-crop-CROP

Memasuki tahun-tahun awal kekuasaan Orde Baru, nama tari Lenso di pentas nasional jadi makin redup. Rezim baru melancarkan politik kebudayaan yang berbeda. Rezim lama tenggelam dan dihabisi sampai ke akar-akarnya.

Soekarno lenso-1-crop baru

Soekarno lenso 3-crop

Dan kini….sebagaimana sama kita ketahui, tari Lenso telah lama kembali ke geografi asalnya: tanah Maluku. Lenso yang sudah menasional kembali surut ke asalnya. Demikianlah, bila rezim berganti, unsur-unsur kebudayaan berubah: ada yang mengalami pasang surut dan, sebaliknya, ada yang mendapat pamor baru di pentas nasional. Tapi, apa yang dikhawatirnya PKI sekarang jadi kenyataan: meruyaknya “pengaruh2 dekaden musik imperialis…. .”

Leiden, sehari menjelang berakhirnya tahun 2017

***

Dr. Suryadi, M.A., dosen & peneliti di Department of South and Southeast Asian Studies, Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Faculteit der Geesteswetenschappen, Universiteit Leiden, Belanda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: