Posted by: niadilova | 11/12/2017

Europalia: ‘Salawat dulang’ Minangkabau tampil memukau di Belanda

Foto 6 pertunjukan salawat dulangMalam Jumat, 8 Desember 2017, dua tim salawat dulang dari Sumatera Barat menampilkan kebolehannya di Leiden, Belanda. Mereka tampil selama kurang lebih selama satu jam di hadapan penonton yang kebanyakan adalah orang Eropa dan juga beberapa orang Indonesia.

Mungkin inilah untuk pertama kalinya, dan itu terjadi di Eropa, pertunjukan salawat dulang ditonton dengan membayar tiket masuk. Harga entry ticket untuk pertunjukan singkat grup Sinar Barapi yang akan berduet dengan grup Panah Arjuna ini dipatok sebesar 15 euro (sekitar Rp. 225.000,-).

Kedua tim salawat dulang tersebut datang ke Eropa dalam rangka Europalia Arts Festival Indonesia yang berlangsung sejak 10 Oktober 2017 sampai 21 Januari 2018. Selama kurang lebih 104 hari, berbagai genre kesenian Indonesia, tradisional dan modern, ditampilkan di berbagai kota Eropa. Kali ini Sumatera Barat ikut diundang mengisi acara dengan mengirim tim kesenian salawat dulang dari Padang Panjang dan Singgalang, Nan Jombang Dance Company pimpinan Ery Mefri dari Padang, silek dari Kuranji (yang bergabung dengan Nan Jombang) dan kesenian saluang jo dendang yang juga berasal dari Kuranji.

Foto 4 pertunjukan salawat dulang

Selama tur Eropa mereka, Sinar Barapi (dengan penampil John Erizal dan Ilham Malik) dan Panah Arjuna (dengan penampil Sjafrizal dan Sabri Wassalam) tampil di tiga kota: Valenciennes, Perancis Utara (7 Desember), dan dua kota Belanda: Leiden (8 Desember) dan Schalkhaar (Deventer) (9 Desember). Di Valenciennes, mereka tampil di Le Phénix scène nationale Boulevard Harpignies F-59301 Valenciennes. Sementara di Leiden mereka tampil di De X Muziekhuis, Middelstegracht 123, 2312 TV Leiden, dan di Schalkhaar (Deventer), mereka mentas di De School van Frieswijk Avergoorsedijk 2, N-7433 Schalkhaar.

Sehari sebelum pertunjukan di Leiden, menangkap esensi salawat dulang, koran Universitas Leiden Mare edisi Jumat 7 Desember 2017 menurunkan laporannya tentang salawat dulang. “Een gevecht met de tong” (‘bertarung dengan lidah’), demikian judul laporan Mare yang merujuk wawancara wartawannya, Marleen van Wesel, dengan Dr. Suryadi, MA., dosen Universitas Leiden yang berasal dari Minangkabau (lihat:http://www.mareonline.nl/archive/2017/12/07/een-gevecht-met-de-tong). Suryadi telah menulis disertasi tentang mediasi kebudayaan Minangkabau dalam media modern, termasuk salawat dulang (lihat: Suryadi, “The recording industry and ‘regional’ culture in Indonesia: The case of Minangkabau”, PhD thesis, Leiden University, 2014).

D.3101_004-crop

Pertunjukan Sinar Barapi dan Panah Arjuna di Leiden didahului dengan pengantar selama 30 menit oleh Dr. Suryadi. Ceramah Suryadi yang berjudul “Salawat dulang: Minangkabau ‘Tongue Fu’ of West Sumatra, Indonesia” itu dimaksudkan untuk memberi gambaran umum mengenai konteks sosial dan kesastraan genre ini. Diharapkan pentonton Eropa terbantu dalam memahami genre ini karena mereka tidak mengerti teksnya yang berbahasa Minangkabau dan penuh dengan istilah-istilah keagamaan (Islam) dan bahasa Arab.

Foto 2 Presentasi Suryadi

Malam itu, pertunjukan diawali oleh grup Sinar Barapi dengan menampilkan pokok kaji tentang penciptaan manusia dan ruh dalam rahim ibu. Grup Panah Arjuna mendapat giliran kedua dengan pokok kaji tentang kehidupan sesudah mati.

Masing-masing grup mengakhiri pertunjukan dengan sedikit guyon tentang dinginnya cuaca Eropa dan ucapan terima kasih kepada panitia Europalia yang telah memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di Eropa. Dalam bincang-bincang sebelum pertunjukan, keempat tukang salawat itu menyampaikan keluhan tentang minimnya perhatian pemerintah daerah kepada mereka.

Foto 4 pertunjukan salawat dulang

Khalayak penonton yang cukup banyak datang memberi aplaus kepada kedua tim salawat dulang yang tampil memukau di De X Muziekhuis Leiden malam itu. Di antara deretan penonton tampak beberapa staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI Den Haag), peneliti dan peminat budaya Indonesia, Dr. Els Bogaerts dan Ken Vos dari VCC (Vos Curating & Consultancy) yang juga koresponden surat kabar Leidsch Dagblad yang akan menurunkan laporan tentang pertunjukan ini dalam edisinya Senin depan.

Kita berharap Sumatera Barat akan diundang lagi untuk berpartisipasi dalam iven-iven kesenian berskala internasional seperti Europalia ini dengan menampilkan genre-genre yang lain. Semoga!

* Harian Singgalang, Senin, 11 Desember 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: