Posted by: niadilova | 20/11/2017

Minang saisuak #320: A. Damhoeri: Pengarang Prolifik dari Halaban

2604_002-Damhoeri crop

Salah seorang penulis prolifik putra Minangkabau yang pernah malang melintang di dunia karang-mengarang adalah A[hmad] Damhoeri. Lahir di desa Batu Payuang, Kecamatan Perwakilan Sago Halaban, Kabupaten 50 Koto pada tanggal 31 Agustus 1915, A. Damhoeri sebenarnya berasal dari keluarga biasa dan mendapat keterampilan dalam dunia karang-mengarang dengan belajar secara otodidak. Seperti halnya A.A. Navis, A. Damhoeri lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di kampung halaman daripada di rantau. Latar belakang pendidikannya hanya sampai Sekolah Normal di Padang Panjang (tamat 1932), setelah didahului oleh Sekolah Gubernemen di Bangkinang yang diselesaikannya pada tahun 1928 (Atisah, Biografi A. Damhoeri dan Karyanya, 1995:8).

Dalam hidupnya A. Damhoeri pernah menjadi guru, di samping aktif di lapangan kebudayaan dan kesusastraan. Sejak karangannya yang pertama muncul dalam majalah Pandji Poestaka pada akhir 1931, A. Damhoeri kemudian tak berhenti menulis sampai setidaknya awal 1990an. Buah karyanya muncul dalam genre puisi, cerpen, novel/roman, esai budaya dan bahasa, dan artikel-artikel mengenai sejarah dan agama Islam. Karya-karyanya diterbitkan di berbagai media cetak di Sumatera dan Jawa. Puisi-puisinya banyak dimuat dalam majalah Pandji Poestaka dan cerpen-cerpennya banyak dimuat dalam majalah Pandji Islam dan juga Pandji Poestaka.

Akan tetapi A. Damhoeri lebih dikenal sebagai salah seorang pengarang roman Sumatera yang sangat prolifik. Ia menyumbang banyak nomor untuk seri-seri roman Medan, seperti seri Doenia Pengalaman, Loekisan Poedjangga dan Tjendrawasih yang terbit tahun 1930an dan 1950an. Selain itu, buku-buku romannya juga diterbitkan di Bukittinggi, Payakumbuh, dan Jakarta.

Tema novel/roman karangan A. Damhoeri beragam, sejak dari perjodohan sampai poligami, sejak dari kekejaman penjajah sampai semangat nasionalisme, sejak refleksi fakta sejarah sampai kisah detektif-fiktif. Demikianlah umpamanya, ia antara lain menyumbang judul-judul berikut untuk seri Doenia Pengalaman: Boeaja Deli Diserkap Matjan Singapoera (1938), Azimat Toea Abad 17 (Topeng Hitam) (1938), Pertanda (1939), Hoeloe balang Teukoe Oemar (1939), Majapada (1939), Hantoe Laoet diselat Malaka (1939), Rahsia Kaloeng Moetiara (1939) yang memakai nama pena ‘Aria Diningrat’), dan Pahlawan Padang Pasir (1940).

Untuk seri Loekisan Poedjangga, A. Damhoeri antara lain menyumbang: Terbeli Mahal: Tonil Empat Babak (1941) dan Kurir (1950). Untuk seri Tjendrawasih, sumbangannya yang baru berhasil diidentifikasi  adalah: Zender NIROM (Medan, 1940). Sedangkan untuk  seri Balai Poestaka dia antara lain menyumbang: Mentjari Djodoh (1935).

Banyak roman karya A. Damhoeri tidak tercatat masuk dalam seri tertentu, misalnya Pertanda (Medan, 1939), Depok Anak Pagai (Medan, 1940), Palawan Padang Pasir (Medan, 1940), Dari Gunung ke Gunung (Medan, 1950), Neraka tak Berapi (Djakarta, 1955), Manusia Abadi (Medan, 1955), Dukun Mistik (Djakarta, 1956), Isteri jang Didjual (Medan, 1958), Hawa Nafsu (Medan, 1958), Detik Kehantjuran Oom Senang (Bukittinggi, 1959), Bergelimang Dosa (Bukittinggi, 1963), Pekikan Maut di Malam Buta (Bukittinggi, 1963), Telaga Darah (Pajakumbuh, 1964), Membela Kehormatan, Jilid 1 & 2 (Djakarta, 1964), Djajanegara (Djakarta, 1965), Tjinta Bersimpang Djalan (Djakarta, 1965), Tiang Salib Bulan Bintang (Medan, 19??), Mawar dari Isfahan (Djakarta, 19??), dan Puteri Tawanan (Djakarta, 19??).

A. Damhoeri meninggal di Halaban pada tanggal 6 Agustus 2000. Perannya di lapangan sastra terkesan sedikit dilupakan. Pengarang 3 zaman ini (Zaman Belanda, Zaman Jepang, dan Zaman Kemerdekaan) jelas telah memberi kontribusi secara signifikan dalam perkembangan sastra dan dialog kebudayaan di Sumatera khususnya dan Indonesia pada umumnya. A. Damhoeri tidak sekedar seorang pengarang roman picisan sebagaimana dikategorilan oleh A. Teeuw (Atisah, ibid.:102). Pandangan ini tentu sangat dipengaruhi oleh seorang Belanda yang melihat sastra Indonesia dari geladak kapal Eropa. Saya mohon seorang mahasiswa FIB UNAND atau UNP (Prodi Bahasa/Sastra Indonesia) menulis skripsi tentang A. Damhoeri. Bahkan dosennya yang mau mengambil program doktor dapat menjadikan A. Damhoeri dan karya-karya sebagai objek disertasi. (Sumber foto: Suryadi, “The Image of Radio Technology in Modern Indonesian Literature”, in: Lalita Sinha (Ed.), Raibows of Malay Literature and Beyond: Festchrift in Honour of Professor Md. Saleh Jaapar. Pulau Pinang: Penerbit USM, 2011:124-160).

Dr. Suryadi, M.A. – Leiden University, Belanda / Harian Singgalang (Padang), Minggu, 19 November 2017.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: