Posted by: niadilova | 05/11/2017

Matu Mona: Pengarang Roman Medan

Foto Matu Mona -cropBILA mendengar nama Matu Mona, tentu kita teringat roman populer Indonesia yang terbit di tahun 1930-an sampai 1960an, dimana ‘roman Medan’ adalah bagian dari korpus besar ini (Suryadi, ‘Roman Medan’: Reflekesi Budaya Urban’, Waspada, 20/09/2017).

Memang Matu Mona adalah salah seorang pengarang prolifik roman populer Indonesia yang oleh R. Roolvink (1950) disebut ‘dubbeltjes-roman’ (roman picisan) (lihat juga: Siti Faizah Rivai, 1963). Pada masa itu, karya sastra jenis ini terbit di beberapa kota, seperti Medan (paling banyak), Tebing Tinggi, Sigli, Bukittinggi, Padang, Jakarta, Solo, dan Malang.

Korpus besar ini meliputi beberapa seri yang, karena berbagai faktor (pembaca, keuangan, perang, distribusi, dll.), sering hanya mampu bertahan beberapa tahun sebelum digantikan atau disaingi oleh seri yang lain. Demikianlah, ada seri Loekisan Poedjangga, Doenia Pengalaman, Goebahan Maya dan Soesana Baroe (Medan), Roman Pergaoelan (Bukittinggi; lihat: Sudarmoko 2008), Roman Indonesia (Padang), dan Loekisan Soesana (Jakarta). Medan adalah kota utama penerbitan genre ini sehingga acap kali orang mengasosiasikannya dengan istilah ‘roman Medan’.

Matu Mona adalah nama pena pengarang ini, yang berasal dari Tapanuli Selatan. Dalam bahasa Mandailing kata itu berarti ‘baru mulai’. Pada masa itu banyak pengarang memakai nama pena (pseudonym) untuk menyamar dan menghindari intaian penguasa kolonial. (‘Matu Mona’ sebenarnya hanya dari satu kata ‘matumona’, dijadikan dua kata untuk penyamaran).

Dilahirkan di Kesawan (semasih bernama Kedai Panjang) pada 15 Juni 1910, nama asli Matu Mona adalah Hasboellah Parindurie. Ayahnya, Haji Mohammad Thahir Parindurie asal Mandailing, Tapanuli Selatan, adalah mengarang Syair Puteri Maryam Zanari yang dicetak di Singapura tahun 1928. Sang ayahlah yang mendorongnya agar menggeluti dunia karang-mengarang dan kewartawanan (Rita Matu Mona [anak], kom. pribadi, 15/03/2015).

Selepas lulus dari St. Anthony’s Boys School Medan tahun 1930, Matu Mona segera terjun ke dunia karang-mengarang sambil menjadi guru dan wartawan. Januari 1931 ia memulai karir jurnalistiknya di koran Pewarta Deli, yang kemudian membawanya ke berbagai media lain. Dua kali ia masuk penjara (di Medan dan Bandung [Penjara Sukamiskin]) karena terkena ranjau pers kolonial tersebab oleh tulisan-tulisannya yang mengeritik Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Sangat mungkin karya ‘roman’ pertama karangan Matu Mona adalah Sedjarah Zaman yang dimuat dalam bentuk feuilleton dalam surat kabar Pewarta Deli sepanjang bulan Januari 1932. Dalam tulisan itu tercantum nama pengarang dengan inisial ‘MM’ yang tiada lain pastilah Matu Mona. Kemudian, sepanjang September dan Oktober tahjun yang sama muncul feuilleton Matu Mona yang lain di surat kabar yang sama yang berjudul Setahoen Setengah Teraniaja. (Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Paul Tickel yang telah memberitahu saya tentang kedua karya Matu Mona ini; komunikasi pribadi, November 2017).

Karya romannya yang awal, M. Joessjah Journalist (1932), di samping Harta Terpendam (1931), seolah ingin menegaskan ketertarikannya ke dunia jurnalistik. Namun, karyanya Rol Pacar Merah Indonesia cs-lah (Medan: Centrale Courant & Boekhandel, 1934 [cet. 1] yang kemudian diterbitkan berulangkali) yang membuat namanya melejit di dunia kepengarangan. Dalam tahun 1940an Matu Mona pergi ke Jawa. Namun, setelah penyerahan kedaulatan, ia kembali ke Sumatera.

Pacar-Merah-crop

Matu Mona melekatkan semangat kepahlawanan, pemberontakan, dan perang ke dalam diri tokoh-tokoh rekaan dalam karya-karyanya dan meletakkanya dalam percampuran antara fisksi dan realitas sejarah. Dan inilah salah satu ciri literer ‘roman Medan’ yang penting, yang membedakannya dengan roman-roman populer Indonesia pada masa sesudahnya. Rol Pacar Merah Indonesia cs sendiri sering dianggap sebagai representasi dari kisah perjuangan Tan Malaka.

Kiranya cukup masuk akal mengapa Matu Mona memilih bentuk roman populer untuk mengekspresikan talenta literernya. Genre ini pada masa itu merupakan ikon perlawanan literer terhadap dominasi center of excellent Batavia (pusat keluasaan kolonial) yang mau mengatur segalanya. Dengan semangat menjadi antipoda Balai Poestaka, ‘roman Medan’ (dan seri-seri lainnya yang terbit di kota-kota lain) menawarkan kebebasan dalam berekspresi sambil menyelipkan semangat anti kolonialisme, baik secara halus maupun secara terang-terangan. Meminjam kata-kata M. Sjarqawi dari Centrale-Courant en Boekhandel yang memberi ‘Pendahoeloean-kata’ untuk Spionage-Dienst (Patjar Merah Indonesia) (1938:1), di dalam karya-karya Matu Mona “tersemat-tersoelam keadaan peristiwa zaman sekarang, soal-soal hangat jang setiap hari terdapat dan tampak dalam masjarakat kita, satoe bangsa jang hidoep dan bergerak kearah kemadjoean dan mentjapai poentjak tjita-tjitanja.”

Spionage-dienst-crop

Selain diterbitkan sebagai seri-seri ‘roman Medan’, karya-karya Matu Mona juga diterbitkan dalam seri-seri yang lain, seperti seri Loekisan Soeasana yang terbit di Jakarta tahun 1940an dan 50an, dan juga secara bebas (tidak termasuk ke dalam seri tertentu). Berikut senarai karya-karyanya yang berhasil diindentifikasi:

Rol Pacar Merah Indonesia cs (Medan: Centrale Courant & Boekhandel, 1934), Dja Umenek Djadi-djadian (1937), Spionage Dienst = Patjar Merah Indonesia (Medan: Centrale Courant & Boekhandel, 1938), Penderitaan Seorang Iboe (Medan: Goebahan Maya, 1939), Detective Rindu: Tjintjin Berlian dari Golconda (Medan: Doenia Pengalaman, 1939), Front Demokrasi contra Timoer-Raja (Medan: Tjendrawasih, 1941), Chariul Barijah (Medan: Loekisan Soeasana, 1946), Barisan Semoet (Medan: Loekisan Soesana, 1946), Darah Mentawai (Medan: Loekisan Soesana, 1946), Djambatan Gelap (Medan: Loekisan Soesana, 1946).

Matu Mona.DETECTIEF RINDU (Tjintjin berlian dari Golconda) (Medan,Doenia Pengalaman, 1939)

Selanjutnya: Air Mata Marianna (Medan: Loekisan Soesana, 1946), Arek Soerobojo (Djakarta: Loekisan Soesana, 1946), Tjindur Binuang Saudara Kembar (Djakarta: Loekisan Soesana, 1948), Banteng Ketaton (Djakarta: Loekisan Soeasana, 1946), Masjarakat Hitam (Medan: Loekisan Soesana, 1946), Noersheba Bianglala (Medan: Loekisan Soesana, 1946),  Zaman Gemilang (Medan: Centrale Courant & Boekhandel, 1950), [dengan Djohar Arifin] Penjelidik Militer Chusus (Gedong Hantu) (Djakarta: Bintang Mas, 1950), Akibat Perang (Djakarta: Gapura, 1950), Tjintjin Permata dari Kambodja (Medan: Pustaka Djajabaja, 1950), Dracula Indonesia (Putera dja umenek) (Djakarta: Analisa, 1961), Pendekar Selat Malaka (Djakarta: Analisa, 1961), Derita Istri Perampok (Djakarta: Analisa, 1965).Matu Mona.PENDERITAAN SEORANG IBOE (Medan, Goebahan Maya, 1939)

Tiga karya awal Matu Mona, yaitu Harta Terpendam (1931), M. Joessjah Journalist (1932), Panggilan Tanah Air (1934) (lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Matu_Mona; dikunjungi 10-09-2017) belum ditemukan bentuk fisiknya, termasuk di Leiden University Library, sehingga belum dapat dicatatkan penerbitnya.

Matu Mona.TJINJIN PERMATA DARI KAMBODJA_ROMAN SEDJARAH (Medan, Pustaka Djajabaja, 1950)

Matu Mona meninggal di Jakarta pada 8 Juli 1987 da dimakamkan di Perkuburan Karet. (Diberitakan oleh Kompas dua hari sesudahnya). Demikianlah sedikit tentang riwayat hidup Matu Mona dan karya-karyanya yang pernah meramaikan jagad budaya populer di kota Medan pada dua pertiga pertama abad ke-20.

*Dr. Suryadi, dosen di Leiden University, Belanda.

* Esei ini diterbitkan dalam harian Waspada (Medan), Rabu 1 November 2017. Lihat: https://issuu.com/waspada/docs/waspada__rabu_01_november_2017 (diakses 05-11-2017).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: