Posted by: niadilova | 27/09/2017

Renung #73: PKI

PKISebentar lagi bangsa Indonesia – orang awam, anggota militer dan (mungkin juga) penguasa – akan memperingati lagi Peristiwa G 30 S PKI. Sejak sekitar tiga tahun lalu wacana publik sudah dihebohkan lagi oleh isu-isu tentang kebangkitan komunis, di samping tentunya soal korupsi yang semakn tidak berkeruncingan di negeri ini. Dalam minggu-minggu terakhir ini, isu seputar PKI makin menghebohkan masyarakat. Imbasnya: berbagai media menayangkan beragam acara seputar PKI. Suara pro-kontra bersipongang, menyusul rencana Panglima ABRI mewajibkan anggota militer, dan juga mengimbau masyarakat umum untuk menonton kembali film Pengkhianatan G 30 S PKI yang pernah menjadi film wajib tonton di Zaman Orde Baru. Presiden Joko Widodo mengusulkan agar dibuat film tentang G 30 S PKI dengan penafsiran baru untuk konsumsi generasi milenia, dan hal itu telah menimbulkan berbagai tanggapan dan penafsiran pula. Dan seperti biasa, isu kebangkitan PKI ini telah membuat orang Indonesia, dari penganut paham yang saling berseberangan, yang pintar maupun yang bodoh, hingga para ‘penembak di atas kuda’ saling sindir-menyindir, saling caci-mencaci, hina-menghina dan kuyo-menguyo lagi di media sosial.

Aku dan Jibun, teman sekampungku yang agak lurus tabung itu, yang hampir menjadi penghuni setia palanta lepau Uncu Cipuang, kedai kopi yang paling ramai di kampung kami, tertegun-tegun saja melihat sifat dan kurenah orang-orang pintar menanggapi isu bergalau seputar PKI itu. Di Jakarta mereka masih adu mulut, sementara sanak keluarga para korban di kampung-kampung di seluruh Indonesia boleh dikatakan sudah berdamai dengan masa lampau yang kelam itu. Mata jibun tak beranjak dari layar televisi tua di lepau itu yang sedang menayangkan acara ILC-nya Karni Ilyas: “PKI: Hantu atau Nyata?”

“Jibun, tahukah waang [kamu] bahwa yang sedang beradu ujung pinjak [jarum] di ‘lepau’ Uwan Karni Ilyas itu hampir semuanya adalah orang Minang? Lihatlah! Tokoh utama PKI yang didakwa dan sudah lama mati itu berdarah Minang. Yang pro dan mendukungnya pun orang Minang. Yang bersikap kontra juga orang Minang. Yang yakin PKI itu hanya isu murahan juga orang Minang. Pembuat film G 30 S PKI yang dipermasalahkan itu orang Minang juo. Dan….si ‘juru janang’, Uwan Karni Ilyas, he he…orang Minang pula.”

Ha ha ha, ini ibaratnya lepau kopi Minang dipindahkan ke TV One. Pintar sekali Uwan Karni Ilyas menggalas ya! Boleh jadi nenek moyangnya dulu penggalas babelok dari Kumango”, imbuh Jibun sambil ketawa terkekeh-kekeh yang memperlihatkan giginya yang menguning oleh nikotin rokok.

“Bertanya aden [saya] ke waang [kamu]. Waang kan orang yang makan bangku sekolah, tidak seperti aden yang tiap hari memegang tangkai cangkul dan tidak pernah beranjak dari kampung kita ini. Mengapa orang di kampung kita, kalau mereka marah kepada orang yang menculasinya, sekalipun teman sendiri, yang bersifat licik, yang suka menghina dan mengintimidasi dan segala sifat buruk lainnya, selalu diteriaki: ‘PKI waang mah!’ (Dasar PKI loe!). Sering benar saya mendengar umpatan penuh kemarahan seperti itu keluar dari mulut ibu-ibu atau bapak-bapak di kampung kita ini”, tanya Jibun kepadaku.

“Ha ha ha, mungkin sifat orang PKI dulu seperti itu”, jawabku sekenanya. Tapi sesungguhnya aku berpikir dan merenung: sebuah ungkapan yang dikenal luas di kalangan orang kampungku yang masih kuat tradisi kelisanannya sangat mungkin merupakan hasil endapan pengalaman masa lampau yang nyata dalam alam bawah sadar mereka.

“Menurut den, ‘rekonsiliasi’ yang disebut-sebut di acara ‘lepau’ Karni Ilyas itu tampaknya masih belum mungkin terlaksana dalam waktu dekat. Den lihat orang-orang yang berseberangan ideologi dan pendapat dalam perdebatan itu masih  bersitegang urat leher dan masih saling menunjuk hidung. Dari raut wajah dan nada bicara mereka, aden yang orang awam ini mendapat kesan kedua belah pihak masih belum legowo dan tampaknya masing-masing masih menyimpan sisa-sisa dendam di hati. Kadang-kadang aden yang orang kampung ini geli melihatnya”, kata Jibun sambil menyalakan rokoknya sebatang lagi.

Aku hanya mengangguk-angguk balam saja mendengar komentar Jibun. Orang-orang kampung yang sederhana kadangkala lebih jernih dalam melihat suatu persoalan. Dalam hati, aku juga ragu apakah bangsa ini, terutama orang-orang pintar yang berada di puncak piramid hirarki sosial di negeri ini, yang keluarganya terlibat dalam peristiwa ’65, dapat berdamai dengan masa lampau yang kelam itu. Selama berada di rantau yang jauh, aku membaca banyak buku, surat kabar, dan majalah tua yang terbit pada tahun 1940an – 60an. Dari bacaan yang beragam itu aku mendapat gambaran betapa gelap dan bengisnya zaman itu: entah berapa banyak yang jadi korban kekejaman orang-orang PKI, yang akhirnya menjadi bumerang pada diri mereka sendiri. Mereka dibasmi dengan tak kalah kejamnya oleh orang-orang yang sebelumnya sudah begitu lama memendam ketakutan disebabkan oleh intimidasi dan teror yang mereka lakukan. Mengapakah kiranya ada anggota dan simpatisan partai politik berbuat seperti itu? Betul kiranya pepatah lama: “Siapa yang menabur angin, dialah yang akan menuai badai.” Di kampungku sendiri, sampai sekarang masih hidup cerita tentang tokoh PKI si Bagak yang dikubur hidup-hidup menyusul terjadinya peristiwa ‘65 itu, karena begitu bencinya masyarakat yang selalu mendapat intimidasi, siksaan, teror dan pembunuhan yang dilakukan olehnya bersama anak buahnya ketika PKI masih berkuasa.

“Itu adalah masa yang benar-benar menakutkan kami orang-orang kecil, Buyung”, kata ibuku yang biasa kupanggil ‘Umi’ yang, bila aku pulang ke kampung, selalu kuminta untuk bercerita tentang zaman bagolak, hari-hari ketika orang Minangkabau dibuat berkuah darah oleh peristiwa PRRI dan PKI. Perempuan yang kini sudah sangat sepuh itu baru berusia 20an ketika peristiwa ’65 meletus. Dan waktu itu diriku masih seorang bayi merah dua bulanan dalam timangan wanita yang sering sakit-sakitan setelah melahirkan diriku.

“Pada masa itu kami orang kampung hidup di bawah teror, intimidasi, penculikan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang komunis. Dan akhirnya pembalasan dari masyarakat pun datang ketika mereka sudah menjadi pecundang”, kenang Umi.

“Tiap hari ada saja mayat yang hanyut di dekat rumah kita ini, Buyung”, kata Umi. “Entah mayat siapa, kami tak pernah tahu, karena sudah menggembung dan membusuk dibawa arus air ke muara”, kenang Umi lagi.

Sambil memijit betisnya yang sudah layu, Umi terus bercerita tentang hari-hari yang menakutkan di sebuah desa yang amat jauh dari pusat kekuasaan, Jakarta.

“Mereka meneror kami yang pergi salat ke surau, mengintimidasi siapa saja yang mereka anggap lawan mereka. Bahkan, di malam hari mereka mengintip penduduk yang sedang sembahyang dari sela-sela dinding bambu rumah mereka. Kalau sudah demikian, esoknya di dinding rumah mereka sudah ditemukan coretan gambar palu arit. Itulah salah satu cara orang-orang PKI meneror penduduk yang tidak mau ikut partai mereka”, kata Umi lagi.

Cerita ibuku itu mengingatkanku pada tulisan Hamka yang mengisahkan pengalaman beliau dengan orang komunis dalam tahun-tahun menjelang meletusnya peristiwa ‘65 (dimuat dalam majalah Aliran Islam, No. 52, Tahun Ke VII, Agustus 1953 [Nomor Madiun Affair]: 60-64, ejaan disesuaikan). Hamka mengisahkan betapa sampai ke lepau-lepau kopi di Minangkabau orang-orang komunis mengancam dan mengintimidasi masyarakat. Hamka mengatakan, menghadapi ancaman seperti itu orang-orang Islam tidak boleh gentar. Beliau menulis:

Di Simabur Batusangkar tersiarlah surat [be]rantai, bahwa pemimpin-pemimpin Masyumi dan Muhammadiyah seluruh Kabupaten Tanah Datar, 275 orang banyaknya, akan di “bersihkan”. Kabar-kabar begini, biasanya baru mulai terdengar, memang mengagetkan. Dan kalau iman lemah, bisa hilang semangat dibuatnya.
Maka datanglah engku Duski Samad ke Simabur. Seorang pemuda yang imannya masih goyang memperlihatkan surat itu kepada beliau.
“Adakan tabligh, saya hendak bicara”, kata engku Duski.
Di hadapan Tabligh itu pembicara agama yang terkenal itu mulai menghantam sifat “pengecut”. “Pengecut adalah alamat tak beriman!”
“Saya mendengar kabar”, kata beliau, “bahwa di sini disiarkan orang surat [be]rantai, [yang] mengatakan bahwa 275 pemimpin Masyumi-Muhammadiyah hendak disembelih. Lalu ada yang mengadu kepada saya dengan muka pucat! Seluruh Tanah Datar ini Islam, seluruhnya Masyumi! Muhammadiyah Perti. Seluruhnya bermesjid! Puluhan ribu rakyat di sini Islam semua dan Masyumi semua! Pemimpinnya 275 [orang] akan diculik! Akan disembelih! Sedangkan menangkap anak ayam, lagi susah. Apatah lagi hendak menculik 275 pemimpin dan pemuka rakyat! Siapa dan dari mana [orang] yang akan menculik itu? Saya tahu Kominis di Batusangkar ini tidak cukup seratus orang. Mungkinkah 100 orang, yang terpencar di sana dan di sini, dapat dicatat di mana rumahnya dan di mana kampungnya, dan semuanya dikenal namanya, hendak menculik 275 orang pilihan, yang hidup di tengah-tengah beribu-ribu rakyat? Apakah disangkanya [kita ini] batu semua?”
“Awas”, kata beliau pula: “Jika terdengar ada saja di antara pemuka Masyumi diganggu orang, 100 jiwa [pengikut komunis itu] akan menjadi tebusannya.”
Kemudian dilabraknya kembali sifat pengecut. Pengecut tidak ada dalam tarikh perjuangan Islam. “Saudara-saudara ingat sabda Nabi”, kata beliau: “Timbul kegentaran musuh, sebulan lebih dahulu, jika kaum pengikut Muhammad akan mengambil sikap! Bukan kita yang gentar, tetapi mereka”, kata beliau.
Sejak tabligh itu, hilang sendirinyalah pengaruh surat [be]rantai tadi. Dan Kominis tentu belum kehilangan akal, atau belum kehilangan alat lain, yang telah tersusun dalam program perjuangannya untuk mengganti surat [be]rantai yang kehilangan pengaruh itu.

Di palanta lepau Uncu Cipuang itu, malam terus merangkak naik. Tayangan ILC Karni Ilyas sudah sedari tadi selesai. Dentaman batu domino di meja lepau sudah tak terdengar lagi. Orang-orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Ini adalah masa ketika orang-orang bujang yang masih ada di kampung tak hendak lagi tidur di surau. Tinggal aku dan Jibun yang masih duduk di lepau Uncu Cipuang. Ia kelihatan sudah mulai terkantuk-kantuk sambil menaikkan kain sarungnya ke bahu.

Sambil sesekali menepuk nyamuk yang mendengung bagai pesawat capung Jepang di telingaku, aku merenung tentang tabiat bangsa ini. Berliku jalan yang sudah kutempuh, banyak negeri lain yang sudah kulihat. Masing-masing bangsa rupanya punya karakter sendiri. Sejak merdeka, bahkan sejak Hatta dan kawan-kawan masih membayangkan sebuah ‘rumah bersama’ yang bernama ‘Indonesia merdeka’ di Leiden dan Den Haag sana, di negara penjajah (meminjam tajuk buku Harry Poeze, 2008), para intelektuanya sudah saling beradu pintar dan saling bertelingkah karena perbedaan ideologi dan cara memilih jalan menuju kemerdekaan. Ketika Republik ini masih bayi, rentetan kekisruhan politik yang dibarengi pula dengan pemberontakan bersenjata terus mendera bangsa ini. PKI menikam dari belakang di Madiun pada 1948. Kalangan Islam yang tersinggung oleh kebijakan politik Soekarno yang makin condong ke kiri, dan karena sikapnya yang makin lupa daratan dan makin senang menari lenso dengan perempuan-perempuan cantik, melakukan pemberontakan bersenjata yang telah mengambil nyawa ribuan anak bangsa. Puncak kekisruhan politik yang paling tragis adalah peristiwa ’65 itu. Perjalanan sejarah bangsa ini penuh genangan darah. Kiranya itu sudah cukup!

“Lepau akan ditutup, sudah lewat tengah malam”, kata Uncu Cipuang.

Aku tersentak dari lamunanku. Aku dan Jibun segera pergi ke surau yang terletak di samping lepau itu setelah membayar harga dua gelas teh telur yang limpahan ruok-nya sudah sejak tadi mengering di piring tadah.

Aku dan Jibun tidur menelentang di dekat mihrab surau yang makin lengang itu. Lampu sudah dimatikan. Menjelang kelopak mata kami terutup rapat karena sudah diserang kantuk berat, Jibun masih sempat berkata: “Aden harap PKI jangan bangkit lagi dari kuburnya di negeri ini. Kalau reinkarnasi Aidit, Sudisman, Njoto, Lukman, Njono, Ir. Sakirman, Anwar Sanusi, dll. muncul lagi di negeri ini, aden tak mungkin dapat tidur bebas di surau ini. Bisa hilang malam den”, katanya.

“Ah! Tak mungkin PKI bangkit lagi! Bisa digebuk oleh Presiden Jokowi”, kataku.

Masih kudengar kekeh Jibun, walau sudah agak redup karena kantuk. Setelah itu kami pun tertidur pulas ditemani mimpi masing-masing. Suara jangkrik, cancing tanah, dan kodok yang saling bersahutan menemani tidurku, suara yang akrab dengan masa kecilku, yang selalu membuat aku rindu untuk menjenguk ranah bunda, suara yang tak pernah kudengar selama bertahun-tahun hidup di rantau ‘tanah dingin’ nan jauh.

Tepian Laut Utara, akhir September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: