Posted by: niadilova | 25/09/2017

Minang saisuak #315: Demang Loetan Dt. Rangkayo Maharajo (1884-1941)

Demang Loetan (Mursyid AM, p.56)

Kodak klasik yang kami turunkan kali ini direproduksi dari sebuah buku yang terbit tahun lalu, yaitu karya Mursyid AM, Azizah Etek, dan M. Nazief Etek, Demang Loetan: Sang Politisi Volksraad dari Lereng Merapi (2016). Demikian juga tentang cerita singkat tentang Demang Loetan Dt. Rangkayo Maharajo yang kami sajikan dalam rubrik Minang saisuak minggu ini, datanya diolah dari buku tersebut. Buku yang diberi pengantar oleh Prof. Dr. Mestika Zed dan Dr. Mochtar Naim  itu mengungkap perjalanan hidup Demang Loetan Datuak Rangkayo Maharajo dan karir politiknya dalam jajaran bikrokrasi Binnenlandsch Bestuur (BB) Kolonial Belanda pada paroh pertama abad ke-20.

Demang Loetan lahir pada 25 Agustus 1884 di Batu Palano, anak dari pasangan Syekh Mohammad Ismail (guru agama) dan Upiak Gadang. Masa kecilnya tidak begitu bersentuhan dengan pendidikan sekuler Belanda/Barat. Namun, Loetan muda adalah seorang yang gigih dan berpendirian kuat sehingga sukses membangun karir politik dalam jajaran BB Kolonial Belanda.

Karir Loetan dalam jajaran BB Kolonial Belanda dimulai ketika pada 1908 ia diangkat menjadi kerani di Perusahaan Kereta Api (SS) di Koto Baru. Tahun 1909 ia menjadi Penghulu Kepala di kampungnya. Pada 1912 ia diangkat menjadi menteri Kredit Bumiputera di Fort de Kock, kemudian dipindahtugaskan ke Painan, lalu ke Payakumbuh dan Suliki dengan pangkat terakhir kelas 1. Pada tahun 1913 Loetan menjadi laras di Kinali.

Dari 1914-1922, Loetan berpindah-pindah tugas sebagai Asisten Demang dan Demang yang hanya diselingi oleh tugas belajar di Bestuur School Betawi tahun 1919-1922. Berturut-turut dalam periode itu ia menjabat sebagai Asisten Demang di Saruaso, kantor Demang Maninjau dan Asisten Demang di Candung IV Angkat (1914), pejabat sementara Demang Matur (1916), Demang Matur (1917), dan Demang Batang Hari (1922).

Pada 1924 Loetan terpilih menjadi anggota Volksraad, mengalahkan saingan utamanya, Abdoel Moeis. Loetan menjabat sebagai anggota Volksraad mewakili partai FEB (Politieke Economische Bond). Jabatan itu dipeganggnya sampai tahun 1927.

Setelah berhenti menjadi anggota Volksraad, Loetan Dt. Rangkayo Maharajo kembali ke Sumatera Barat. Dalam periode 1925-1940 ia masih menjadi pejabat BB di beberapa tempat, yaitu sebagai demang di Payakumbuh (1925), di Pariaman (1932), dan di Pariangan (1934), sebagai pengumpul “Dana Kopi Sumatera Barat” (1937). Itulah jabatannya yang terakhir sebelum Loetan memutuskan untuk pensiun pada tahun 1940.

Setahun kemudian, pada 1941, Loetan Dt. Rangkayo Maharajo wafat dalam usia 58 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya di Batu Palano.  Jasad Demang Loetan, yang telah merantau kemana-mana itu, bahkan sampai ke pusat kekuasaan kolonial Hindia Belanda di Batavia, akhirnya kembali jua ke haribaan ranah bundanya. Dalam konteks ini, sesuailah kalau kita arahkan kiasan dua bait pantun Minangkabau yang sampirannya menyebut-nyebut Batu Palano kepada Demang Loetan:

Sariak jo Sungai Pua / Batagak, Batu Palano // Kami mancaliak ladiang tangga / Tapi tak carai jo hulunyo.

Batagak, Batu Palano / Ka balai anak Paninjauan / Rami dek anak mudo-mudo // Dima ka carai jo hulunyo / Ambalau ibo malapehan / Satie jo bawa nan mambedo.

Memang seorang anak Minangkabau tidak begitu mudah melupakan kampuang halamannya. Separoh jiwanya tertinggal di sana, walaupun hidup dirantau bergelimang kesusahan.

Demikian sekilas riwayat hidup dan perjalanan karir Demang Loetan Dt. Rangkayo Maharajo. Pembaca rubrik Minang saisuak yang ingin mengenal riwayat hidup Demang Loetan Dt. Rangkayo Maharajo lebih jauh, silakan membaca buku Mursyid AM, Azizah Etek, dan M. Nazief Etek di atas, yang belum lama berselang telah diluncurkan di Universitas Bung Hatta. Buku itu enak dibaca dan bagi penyuka sejarah Minangkabatu tentu sangat diperlukan. (Sumber foto:  Mursyid AM, Azizah Etek, dan M. Nazief Etek, Demang Loetan: Sang Politisi Volksraad dari Lereng Merapi , Jakarta: Teras, 2016:56).

Suryadi – Leiden University, Belanda / Singgalang, Minggu 24 September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: