Posted by: niadilova | 22/09/2017

Roman Medan: Refleksi Budaya Urban

Djauh Dihati (1949)SEJARAH sastra Indonesia modern jelas bukan hanya asosiatif dengan segelintir karya pengarang yang diterbitkan oleh Balai Poestaka dan Hasta Mitra saja. Kiranya pengetahuan kita mengenai sejarah sastra Indonesia modern terasa belum lengkap jika belum mengetahui ‘roman Medan’, sebuah korpus sastra pop yang pernah meramaikan jagad sastra Indonesia pada tahun 1930an sampai 1960an. Sayangnya, korpus ini, yang merupakan bagian dari korpus yang lebih besar, yaitu ‘roman Sumatera’, masih terkesan dianaktirikan dalam penelitian tentang sejarah sastra Indonesia modern.

Untunglah beberapa studi sudah mengungkapkan sudut-sudut kecil korpus besar ini, seperti Siti Faizah Rivai (1963), Sudarmoko (2008, tentang seri ‘Roman Pergaoelan’ yang terbit di Bukittinggi tahun 1930-40an), William Bradley Horton mengenai salah seorang pengarang ‘roman Medan’, Abdoe’lxarim M.s. (2012), dan Marije Plomp (2012) tentang budaya urban kota Medan di tahun 1950an yang melatarbelakangi lahir dan berkembangnya banyak karya yang merupakan bagian dari korpus ini.

Dalam istilah umum korpus ini sering disebut ‘roman Medan’ (yang kadang-kadang bertumpang tindih dengan istilah ‘roman Sumatera’. Namun, di kalangan akademisi ia lebih dikenal dengan istilah ‘roman pitjisan’ (picisan). Ada kesan sedikit meremehkan kalaulah tidak merendahkan yang terkandung dalam istilah ini, karena kata ‘picisan’ (dari kosakata Belanda ‘dubbeltje’ = 10 sen) yang semula hanya berarti harganya sangat murah, kemudian meluas maknanya menjadi ‘karya yang (isinya) murahan’. Rupa-rupanya istilah ini menjadi populer di kalangan akademisi Indonesia setelah A. Teeuw menerjemahkan artikel R. Roolvink, “De Indonesiase ‘dubbeltjes-roman’”, dalam A.A. Cense et al. (eds.), Bingkisan Budi, sebuah festchrift untuk merayakan 80 tahun usia Prof. Ph.S. van Ronkel, 1 Agustus 1950 (Leiden & Brussels: A.W. Sijthoff’s Uitgeversmaatschappij N.V., 1950: 255-64) ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Roman Pitjisan Bahasa Indonesia” dalam bukunya, Pokok dan Tokoh dalam Kesusatraan Indonesia Baru, Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1952: 239-251.

Angker (1950)

Korpus ‘roman Medan’ meliputi beberapa seri yang terbit di Medan dan Tebing Tinggi pada tahun 1930an – 1960-an, seperti seri “Doenia Pengalaman” (1930an – 1950an), “Loekisan Poedjangga” (1930an-1940an), “Tjendrawasih” (1940an),  “Suasana Baru” (1940an),  “Gelora” (1950an) dan “Menara” (1960an). Penelurusan kepustakaan yang penulis lakukan menunjukkan bahwa banyak pula judul yang berdiri sendiri.

Pada periode yang kurang lebih sama, jenis karya sastra seperti ini diterbitkan pula di beberapa kota lain di Sumatera, seperti seri “Roman Pergaoelan” (Bukittinggi, 1930an-1940an), “Merdeka” (Bukittinggi, 1940an), “Djiwa Baroe” (Bukittinggi, 1940an), dan “Roman Indonesia” (Padang, 1930an-1940an). Harus diakui bahwa di antara kota-kota itu, Medanlah yang paling menonjol karena di ‘capital of pulp fiction’ inilah – meminjam istilah Marije Plomp (dalam Heirs to World Culture: being Indonesian 1950-1965, 2012: 371-95) – roman ini paling banyak diterbitkan. Oleh karena itulah orang menyebut korpus ini dengan istilah ‘roman Medan’.

‘Roman Medan’ khususnya (dan ‘roman Sumatera’ umumnya) diterbitkan oleh penerbit-penerbit pribumi, dan sedikit oleh penerbit yang dikelola oleh peranakan India, seperti Penerbit Boet Singh, Saiful U.A., Poestaka Andalas, Poestaka Kesatoean, Poestaka Madju,  Poestaka Islam, Poestaka Surja, dan penerbit Tjerdas (yang juga punya cabang di Tebing Tinggi) – untuk menyebut yang berada di kota Medan saja.

Budi Agustono-crop

‘Roman Medan’ terbit rata-rata sekali dua minggu dan dikemas dalam format buku saku dengan ketebalan rata-rata 70-120 halaman. Beberapa judul berupa skrip sandiwara (teater). Latar cerita sering pula melampaui batas-batas teritorial Hindia Belanda dan tokoh-tokoh ceritanya yang kadang-kadang juga bersifat multiras dan multietnik. Termasuk ke dalam korpus ini beberapa roman terjemahan dari penulis-penulis Eropa. Cetakan pertama sering mencapai 1000 eksemplar, dan karena populer, banyak di antaranya yang mengalami cetak ulang dengan jumlah eksemplar lebih banyak lagi. ‘Roman Medan’ diedarkan sampai ke Jawa dan beberapa pulau lainnya di Hindia Belanda, bahkan sering pula sampai ke wilayah Hindia Inggris (The Straits Settlements).

Setelah kemunculannya di Medan pada tahaun 1930an, genre ini juga terbit di beberapa kota di Jawa, seperti di Jakarta, Solo, dan Malang, tapi kurang populer dibanding taranya (counterpart-nya) yang terbit di Sumatera karena kalah pamor oleh karya-karya sastra terbitan Balai Poestaka (Commissie voor de Volkslectuur) yang memang lebih intensif diedarkan di Pulau Jawa. Memang dari segi estetika, ‘roman Medan’/ ‘roman Sumatera’ mengandung hakikat resistensi terhadap karya-karya sastra terbitan Balai Poestaka yang dianggap memenuhi standar moral dan bernilai sastra tinggi. Dengan kata lain, ‘roman Medan’ mengandung hakikat perlawanan estetika dan politis terhadap center of authority Batavia.

Korpus ‘roman Medan’/ ‘Roman Sumatera’ dapat dibedakan dari korpus ‘karya sastra Cina Pernakan’ dan ‘bacaan liar’. Dari segi gaya bahasa dan stilistika ‘roman Medan’ / ‘Roman Sumatera’ memiliki perbedaan yang jelas dengan sastera Cina peranakan, namun dari segi isi dan moral cerita ada persinggungan dengan ‘bacaan liar’ (lihat: Hilmar Farid dan Razif, “Batjaan liar in the Dutch East Indies: a colonial antipoda”, Postcolonial Studies 11(3), 2008: 277-92) yang muncul pada masa yang lebih awal.

Dilereng Hajat (1949)

Latar ‘roman Medan’ merepresentasikan kehidupan ‘modern’ kota Medan, kota terpenting di Pulau Sumatera, pada paroh pertama abad ke-20. Tapi moral ceritanya bukan seringan yang dibayangkan banyak orang, tapi juga mengilatkan semangat kebangsaan yang dikemas dalam kisah-kisah percintaan muda-mudi. Oleh karena itu, ‘roman Medan’ memiliki nuansa literer yang berbeda dengan genre sastra pop yang dikenal sekarang. Hal ini dikarenakan para pengarang ‘roman Medan’ pada umumnya adalah orang-orang muda yang aktif di dunia pergerakan dan memiliki semangat anti penjajahan. Mereka adalah kaum muda pribumi, bukan Cina peranakan atau keturunan/berdarah Asia asing lainnya. Kebanyakan dari mereka (juga ada beberapa wanita) berlatar etnis Minangkabau, tapi ada juga yang berasal dari etnis/daerah lain (misalnya Matu Mona [Hasboellah Parinduri] yang beretnis Mandailing dan Merayu Sukma [M. Sulaiman Hassan] yang beretnis Melayu Kalimantan – untuk sekedar menyebut contoh). Mereka menjalin aliansi kesastraan di luar jalur Balai Poestaka. Jadi, ‘roman Medan’ dapat dianggap sebagai arketip gerakan sastra pedalaman yang di zaman kemerdekaan mencoba melawan dominasi Jakarta.

Satu ciri penting lainnya dari penulis-penulis ‘roman Medan’ / ‘Roman Sumatera’ adalah bahwa banyak di antara mereka berprofesi sebagai wartawan. Pada masa itu, seperti kata jurnalis Adinegoro, seorang wartawan jangan hendaknya menjadi wartawan thok, tapi mesti menjadi pengarang juga. Untuk sekedar menyebut contoh, mereka antara lain adalah: Martha, Joesoef Sou’yb, Roma-Nita, M. Kasim, Aziz Thaib, Rohana, Z. St. Alamsjah, Tamar Djaja, Bachtiar Joenoes, D. Chairat [Rahman]  (Decha), Hamka, A. Damhoeri, S. Djarens, Surapati, Dali Moetiara, Matu Mona, Z. Jusuff, D.E. Manoe Turie, Abu Zul, Yusdja, Taher Samad, I Made Otar, M.N. Sulan.

Dan juga A. Rifai Ali, Mohammad Dimjati, Ghazali Hasan, A.A. Musa, Supomo, K. Tobing, Zalecha, D. Kusuma, Bahrum Us, George Zaidan, Hasan Noel Arifin, Biner, B.D. Onczy, J’niah J.S,  Abdoe’lxarim M.s.,  H. Aboebakar Ja’kub, Deni Ardansa, Arsul Tumenggung, Zainab Yus, Imans, Badaruzzaman, Dja Hurlang, Imaran Nasution, Rifai Ali, M. Anwar Rawy, Achmad Noer, Yochy, Tasrif S, Nursy Hr., Murni Ningsih, Si Uma, Dniar S.B., R.A. Tahir, Doeta, Ehmy, dan Sjamsoedin Nasoetion.

Beberapa pengarang ‘roman Medan’ memakai nama pena (pseudonym). Ini mungkin terkait dengan dimensi politik yang terkandung dalam korpus ini (sehingga beberapa judul pernah dibeslah oleh Belanda), tapi mungkin juga karena trend  kepengarangan yang berlaku pada saat itu.

1917_001-crop

Sebagian besar eksemplar ‘roman Medan’ masih terselamatkan sampai sekarang dan tersimpan di beberapa perpustakaan dunia (seperti di Leiden University Library, Belanda) dan juga perpustakaan-perpustakaan pribadi. Sebagian kecil sulit ditemukan, mungkin tidak tersisa (atau belum ditemukan). Ada beberapa cerita yang sebelum dibukukan dimuat di surat kabar secara bersambung.

Walaupun demikian, adalah sangat mungkin untuk menyusun senarai judul-judul ‘roman Medan’ yang pernah terbit dalam periode 1930an-1960an, karena dalam lembaran sampul dalam dan lembaran akhir judul-judul yang masih dapat ditemukan sekarang sering tersedia informasi mengenai judul-judul yang akan terbit dan yang sudah terbit. Selain itu, peneliti juga dapat melacak judul-judul yang pernah terbit melalui iklan-iklan tentangnya dalam berbagai buku, majalah dan surat kabar yang terbit sezaman. Namun, ini jelas memerlukan ketekunan dan waktu yang panjang untuk melacaknya.

Penulis berpendapat, penelitian yang menyeluruh tentang ‘roman Medan’ perlu dilakukan. Bukan aspek literernya yang pertama-tama lebih penting untuk dikaji, tapi akan lebih menarik melihatnya dari perspektif hubungan sastra dan nasionalisme, sejarah literary life di Indonesia. Semoga ada rekan-rekan sejarawan dan peneliti (sejarah) sastra dan budaya, khususnya di Medan, yang tertarik melakukannya. Dan semoga institusi akademis di kota Medan, seperti Universitas Sumatera Utara, dll., dapat melakukan seminar dan penelitian, tidak saja tentang korpus ‘roman Medan’ ini, tapi juga dalam konteks sejarah kelahiran dan perkembangan budaya urban (urban culture) di kota Medan. Ini penting, agar (warga) kota yang bertumbuh dengan pesat ini tidak kehilangan akar sejarahnya

Dr. Suryadi, pengajar di Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Belanda

* Versi cetak esai ini diterbitkan di harian Waspada (Medan), Rabu, 20 September 2017. Untuk versi onlinenya, kunjungi: https://issuu.com/waspada/docs/waspada_rabu_20_september_2017.  (Kredit foto harian Waspada: Budi Agustono; foto-foto sampul seri Loekisan Poedjangga: Leiden University Library/KITLV Leiden)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: