Posted by: niadilova | 18/09/2017

Minang saisuak #314: Bis perantau Minang: Bukittinggi – Medan (1960-an)

minsuk

Ketika kodak tua ini muncul di fb group Sumatra Barat Tempo Dulu, hampir 600 orang memberi tanda jempol dan lebih dari 70 orang men-share-nya. Foto ini memang menghadirkan nostalgia yang kuat yang terkait dengan dunia perantauan orang Minang pada tahun 1960an dan 70-an, dalam hal ini kota Medan (yang sering juga disebut ‘Medan Deli’). Bagi generasi Minang sezaman, mereka yang selamat dari prahara PRRI, tentu masih ingat betapa besarnya tuah rantau Medan, selain Jakarta dan kota-kota lainnya di Jawa.

Foto ini mengabadikan sebuah armada P.O. (Perusahaan Oto)  Tjahaja nomor 17 trayek Medan – Bukittinggi yang sedang berjuang melewati jalan bakubang. Pada masa itu tentu jalan yang beraspal masih sangat terbatas panjangnya. Al Ikhsan, seorang penanggap berkomentar tentang latar foto ini:  “Ko di Palupuah, manjalang pandakian Kodok dari arah Lubuak Sikapiang.” “Mobil ini NOPOLnya [nomor polisinya] BB, [berarti] dari daerah Tapanuli”, kata penanggap yang bernama Ari Hariman Nasution. Para penanggap lain mengekspresikan kenangan masing-masing: ini masa jaya beberapa perusahaan oto dengan berbagai merek dinding: Tjahaja, Sibualbuali, Enggano, Purnama Raja, PMTT, dll. “Iko oto Chevrolet tahun ‘57 , jadi kamungkinannyo [foto] iko [dibuat] di tahun 60-70”, kata penanggap yang bernama Asrul Rida. Penanggap lain, Wahyunir Sutan Bagindo, mengingat: masa itu para penumpang membawa golok (ladiang) untuk menjaga diri, sebab jalan yang mereka lewati menempuh rimba raya Bukit Barisan di ‘tulang punggung’ Pulau Sumatera yang sering ditunggui oleh ‘penyamun Bukit Tambun Tulang’.

Masa itu Medan adalah salah satu destinasi perantauan yang favorit bagi orang Minang. Tak tahulah apakah ini efek dari novel Hamka Merantau ke Deli. Siapa yang tidak kenal kawasan Kesawan yang  modern dan penuh hawa duniawi itu. Medan adalah kota yang menjajikan kesenangan hidup dan tuah. “Oh, anak si anu, kemenakan si anu, sudah sukses di Medan!”, demikian sering terdengar pujian dari mulun induakinduak di kampung-kampung di Minangkabau. Tapi banyak juga yang ‘hanyut’ di sana.

Sudah sejak dekade-dekade pertama abad 20 Medan menjadi terkenal seiring dengan tumbuh suburnya urban culture di kota itu. Pelabuhan Belawan-nya menjadi berjaya, membuat Emmahaven (Teluk Bayur) turun pamor. Akan tetapi Medan tidak akan jadi begitu jika tidak dikaca oleh tangan para perantau Minang. Dalam periode 1920an-60-an, dunia kepenulisan di kota itu diwarnai secara pekat oleh si Minang. Sebutlah dunia roman populer (roman Medan) yang sangat fenomenal itu. Hampir di semua elemen yang terkait dengannya (penulis, ilustrator, penerbit, pengedar, dll.) si Minang dapat ditemui. Demikianlah umpamanya, kita mengenal nama: Martha [Maisir Thaib], Joesoef Sou’yb, Aziz Thaib, Rohana, Z. St. Alamsjah, Tamar Djaja, Bachtiar Joenoes, Hamka, A. Damhoeri, S. Djarens, Dali Moetiara, Z. Jusuff, Yusdja, Taher Samad, dan banyak lagi. Klub intelektual pertama di kota itu, ‘Taman Kemadjoean’ (1940), didirikan oleh Dr. M. Amir, putra Talawi lulusan Utrecht University itu. Semua nama yang disebutkan itu aktif dalam dunia kepenulisan di Medan, termasuk dunia pers.

Demikianlah peran orang Minang di Medan sepanjang paroh pertama abad ke-20 sampai satu-dua dekade berikutnya. Dan perusahaan oto seperti Tjahaja telah menjadi ‘jembatan’ penghubung bagi si perantau Minang menuju dan kembali dari rantau Medan yang bertuah itu. (Sumber foto: www.cascus.co.id via fb Sumatera Barat Tempo Dulu). Suryadi – Leiden, Belanda.

Singgalang, Minggu 17 September 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: