Posted by: niadilova | 11/09/2017

Minang saisuak #313: Syekh Harun al-Rasyidi at-Tobohi al-Pariyamani (1885-1959)

Syekh Harun TobohTOKOH yang kami turunkan dalam rubrik Minang saisuak minggu ini mungkin jarang terdengar namanya, baik dalam pembicaraan umum maupun risalah akademik kontemporer. Oleh sebab itu sosok ini perlu diperkenalkan kepada publik. Salah satu sumber mengenai tokoh kita ini adalah tulisan (al-faqir al-haqir) Apria Putra dalam blognya: http://surautuo.blogspot.nl/2013/04/syekh-harun-al-rasyidi-at-tobohi-al.html (dikunjungi 30-08-2017), di samping sebuah artikel yang ditulis oleh anaknya sendiri, Ustadz Zainal Abidin Harun, dalam salah satu edisi majalah Mimbar Ulama Tahun III, Syawal/Zulkaidah 1398 // September/Oktober 1978 dengan judul “Riwayat Hidup Haji Harun El Rasydy” (hlm. 73-80). Apria Putra, anak muda yang memiliki pengetahuan luas tentang sejarah hidup ulama-ulama dan surau-surau tua di Minangkabau ini menulis di blog-nya bahwa Syekh Harun al-Rasyidi at-Tobohi al-Fariyamani [atau al-Pariyamani] (selanjutnya: Syekh Harun Toboh) lahir [tahun 1885] di Kenagarian Toboh Gadang, Kecamatan Lubuak Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Ia sudah ditinggal mati oleh ibunya ketika masih kecil. Ayahnya, Haji Abdul Ganī gelar Tuanku Sidi Buluah Apo, adalah seorang ulama terkemuka di kampungnya. Oleh sebab itulah, namanya sering pula ditulis: Syekh Hārūn bin ‘Abd al-Ġanī aṭ-Tobohī al-Pariyamānī. (Jadi, al-Ganī merujuk kepada nama ayah beliau yang bernama  Abdul Gani gelar Tuanku Buluah Apo).

Apria: Syekh Harun Toboh mengajar di Diniyyah School Nagari Sunur. Sumber keluarga menyebutkan bahwa panggilan akrabnya di kalangan pelajar agama di Toboh Gadang dan tempat-tempat lain dimana ia mengajar adalah: ‘Buya Tuo Tuanku Langik’. Namun, di kalangan umum ia makin dikenal dengan sebutan ‘Engku Mudo’, karena diharapkan akan menggantikan ayahnya sendiri sebagai ulama di daerahnya. Sekolah Diniyyah School tempat Syekh Harun Toboh mengajar dikelola oleh Jam’iyyah Tarbiyah al-Khairiyyah al-Islamiyah Nagari Sunur, sebuah desa pertanian di belakang pantai Pariaman yang pada paroh pertama abad 19 telah melahirkan ulama-sastrawan Syekh Daud Sunur yang telah menulis dua syair yang terkenal: Syair Mekah dan Madinah (Suryadi dalam Henri Chambert-Loir [ed.] 2013, Jilid 1: 249-325) dan Syair Sunur (Suryadi 2004).

Selanjutnya Apria menulis: Hamka pernah bertemu dengan Syekh Harun Toboh selepas peristiwa gempa Padang Panjang (Juni 1926), saat ia dibawa ayahnya, Haji Rasul, menghadiri pengajian di Surau Lubuak Bauak, Batipuah. Hal itu dijelaskannya dalam Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao (1974:146) yang juga menyebutkan bahwa “akbar khadim thalabah al-ilmi’ (‘guru besar’) Diniyyah School Nagari Sunur ini adalah salah seorang ulama terkemuka di Pariaman. Apria juga mengatakan bahwa B.J.O Schrieke dalam tulisannya Pergolakan Agama di Sumatera Barat (terjemahan,) (1973:83) menulis bahwa Syekh Harun Toboh adalah ulama pejuang di kalangan “Kaum Tua” dan memiliki andil dalam perdebatan antara ulama tradisional dan ulama modernis di Minangkabau.

Syekh Harun Toboh telah menulis beberapa buku, antara lain adalah: Falāḥat al-mubtadī fīmā yalzamu ʿalā ʿl-mukallaf min aḥkām aš-šar ʿǐ. Ṭarīqa Ḵhalwatiyya fī masālik nabawiyya Muṣṭafawiyya (Kemenangan bagi pemula, menjelaskan hal-hal yang patut diketahui oleh mukallaf dan hukum-hukum syarak; terdiri dari 3 bagian) (Fort de Kock: s.n., 1330/1911), yang meminjam kata-kata Apria: “sebuah karya apologetic, yang dicatat oleh Schieke (sic!) sebagai bantahan terhadap ulama modernis (kaum muda).”

Syekh Harun Toboh_0001-crop

Halaman pertamaFalāḥat al-mubtadī, 1330H/1911 (Courtesy Leiden University Library) 

Namun, kesimpulan Schrieke itu mungkin perlu ditinjau kembali karena merujuk kepada keterangan dalam Falāḥat al-mubtadī sendiri (yang salah satu kopiannya sekarang tersimpan di Leiden University Library, Belanda), juga sumber-sumber keluarga, kita mendapat kesan bahwa Syekh Harun Toboh justru berpikiran reformis: beliau cukup pedas mengeritik praktek ‘kaji tubuh’ yang biasa dilakukan oleh pengikut ‘agama Ulakan’ (kaum Syattariyah) (hlm. 68-71); maknanya: beliau adalah ulama yang berorientasi fikih. Cukup masuk akal bahwa Syekh Harun Toboh berorientasi fikih karena dia adalah murid langsung Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (ulama terkemuka pengeritik kaum ortodoks) ketika berada di Mekah. Ia berangkat ke Mekah pada tahun 1913. Tiga tahun lamanya ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Masdjidil Haram, sebelum kembali ke kampung halamannya pada tahun 1916.

Selengkapnya, riwayat pendidikan Syekh Harun Toboh adalah sebagai berikut: a) Pendidikan agama tingkat rendah selama kira-kira 3 tahun dengan ayahandanya sendiri, Tuanku Sidi Buluah Apo, di Surau Buluah Apo Toboh Gadang, Lubuak Aluang; b) Pendidikan menengah agama tingkat lanjut pertama di Surau Koto Tangah, Padang Luar Kota, selama kira-kira tiga tahun, yang dimulai tahun 1900 (setelah 1903 ia kembali ke kampungnya); c) Pendidikan menengah agama tingkat atas selama 5 tahun dengan Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang, Luhak 50 Kota; d) Pendidikan Tinggi selama 3 tahun di Masjidil Haram, Mekah, dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Selain itu, Syekh Harun Toboh juga pintar dalam ilmu silat yang dipelajarinya sebelum berangkat ke Mekah. Demikian keterangan yang didapat dalam salah satu tulisan anaknya, Ustadz Zainal Abidin Harun, yang diberikan kepada penulis oleh keturunannya, Syahrudin, SH. Yang sekarang menjadi notaris dan pengusaha perhotelan di Pandeglang Jawa Barat (korespondensi pribadi, 09-09-2017).

Syekh Harun Toboh3_0001

Dua halaman terakhir Falāḥat al-mubtadī, 1330H/1911 (Courtesy Leiden University Library)

Hamka (1974:146) menyebut: Syekh Harun Toboh juga menulis 2 jilid buku kecil tentang sejarah hidup Syekh Burhanuddin. Syekh Harun Toboh juga menulis Mafatih al-Fikriyyah di al-ilm al-Manthiqiyyah (Kunci-kunci berpikir dalam ilmu mantiq) [diterbitkan secara pribadi, 1928] dan; Mafatih al-Mabahist fi Istilah al-Ahadist (Kunci-kunci dalam membahas masalah, dalam menjelaskan istilah-istilah hadis) [Pasir Baru, Padang Panjang: Syarikah Muhammad Thayyib ibn Haji Ahmad, 1928]. Menurut Apria, kedua karya Syekh Harun Toboh yang disebutkan terakhir sangat unik karena keduanya mengajarkan ilmu logika dan berpikir argumentatif kepada calon ulama atau ‘urang siak’ pada umumnya.

Dalam lapangan pendidikan agama, Syekh Harun Toboh pernah mengajar di beberapa tempat: di Surau Lubuak Bauak, Batipuah selama 6 tahun (mulai 1918); di Ngalau Gunuang, Padang Panjang (di sana ia mendirikan perguruan agama, tapi terpaksa ditutup pada tahun 1926 karena hancur oleh gempa bumi); di Sunur Pariaman: mendirikan Tarbiyah Kahairiyyah Islamiyah, sebagaimana telah disebutkan di atas, yang bertahan selama 10 tahun (1926-1936); di Thawalib School Gadur, Koto Tinggi, Padang Pariaman, mulai tahun 1937 (tahun 1947 sekolah itu ditutup menyusul terjadinya Agresi Belanda 1).

Selain aktif dalam dunia pendidikan, Syekh Harun Toboh tentunya juga aktif dalam berdakwah: di daerah Pariaman dan Padang Panjang dan sekitarnya. Selain itu, ia juga aktif dalam berorgasisi, seperti Tarbiyah Khairiyyah Islamiyah, sebagaimana telah disebutkan di atas, yang didirikannya bersama beberapa kawannya di Sunur tahun 1926; Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) pimpinan Haji Abdullah Ahmad dan Dr. H. Karim Amrullah, 1933; dan Majlis Islam Tinggi (MIT) di masa pendudukan Jepang, 1943.

Karena begitu tinggi minatnya pada pendidikan, Syekh Harun Toboh juga mempelopori pendirian beberapa perpustakaan (Kutub Khannah), yaitu di Sunur, Batipuah Baruah, dan Gadur, Koto Tinggi.

Dalam hidupnya, Syekh Harun Toboh menikah tiga kali. Dengan istrinya yang di Sunur beliau beroleh empat anak. (Tampaknya mereka bertemu ketika Syekh Harun Toboh mengajar di Sunur). Salah seorang di antara anaknya dengan istri yang di Sunur, Zainal Abidin Harun (1922-1989), mewarisi ilmu ayahnya: ia menjadi ulama terkenal di Sunur dan Padang Pariaman pada umumnya.

Syekh Harun Toboh meninggal di Surau Lubuak Bauak pada tahun 1959. Barangkali beliau menghabiskan hari tuanya dengan istrinya yang di Padang Panjang. Kuburan beliau yang letaknya tak jauh dari surau itu masih ada sampai sekarang (merujuk kepada keterangan Apria dalam blognya). Sekian biografi singkat mengenai Syekh Harun Toboh. (Sumber foto: keluarga/keturunan Ustadz Zainal Abidin Harun).

Suryadi – Leiden University, Belanda / Singgalang, Minggu 10 September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: