Posted by: niadilova | 09/09/2017

Seorang Pendakwah Ulung dengan Gagasan tentang Bangsa Malaysia Modern yang Islamis

Foto buku Sidek BabaSidek Baba, Memoir Dakwah dan Tarbiah, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2017, xii+433 halaman ISBN 978-983-49-0735-8

Di Malaysia, nama Profesor Datuk Dr. Sidek Baba – sekarang menjadi Dekan International Institute of Malay World and Islamic Civilisation (MALAY WORLD), International Islamic University Malaysia (IIUM) – mungkin tidak asing lagi. Namanya dikenal luas, baik oleh masyarakat awam maupun kaum intelektual. Sidek telah menyampaikan ratusan tausiah agama di hampir seluruh pelosok Malaysia. Bahkan, dia juga telah melakukan perjalanan dakwah di berbagai negara di dunia.

Memoir Dakwah dan Tarbiah adalah rekaman lengkap perjalanan dakwah Sidek Baba selama lebih dari 40 tahun, baik di negaranya sendiri, Malaysia, maupun di luar Malaysia. Buku ini juga merekam pemikiran-pemikiran Sidek di seputar islamisasi ilmu pengetahuan dan cabaran-cabaran yang telah dihadapinya dalam mewujudkan gagasan-gagasan intelektualnya itu demi kemajuan rakyat Malaysia. Kegigihannya dalam mengkampanyekan islamisasi ilmu pengetahuan telah meninggalkan jejak yang jelas dalam masyarakat negara itu, termasuk dalam dunia pendidikan.

Buku setebal 433 (+xii) halaman ini mengandung 65 esei yang dikelompokkan menjadi enam bahagian. Bagian Pertama, yang berjudul ‘Kembali kepada Fitrah’, berisi 7 esei;  Bahagian Kedua, yang bertajuk  ‘Dai dan Murabbi’, mengandung 10 esei; Bahagian Ketiga, yang terdiri atas 6 esei, bertajuk ‘ Usrah Asas Tarbiyah’; Bahagian Keempat, yang bertajuk  ‘Horizon Dakwah Berkembang’, berisi 8 esei; Bahagian Kelima, yang bertajuk ‘ Rehlah Ilmu dan Tajdid’, mengandung 18 esei; dan Bahagian Keenam berisi 16 esei, dengan tajuk ‘Aliran Kefahaman Semasa dan Fikrah Islami’.

Memoir Dakwah merekma cita-cita besar Sidek Baba: menjadikan Malaysia sebagai sebuah bangsa yang bertamadun tinggi dan dihormati di dunia dengan bersandar kuat kepada agama Islam. Oleh sebab itulah ketika Malaysia, yang waktu itu berada di bawah Pemerintahan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi, melancarkan konsep Islam Hadhari, Sidek sangat menyokongnya.  Ia berkata: “Bagiku Islam yang didekati secara tamadun ini ada faedahnya untuk masyarakat Malaysia. Walaupun secara politik konsep ini ditentang, namun aku tetap melihat pendekatan ini boleh menimbulkan kesedaran terhadap Islam. Islam yang difahami secara rohani semata-mata, pada hematku tidak cukup untuk membangunkan upaya berfikir umat. Melainkan ada perancangan strategik yang menampilkan cita-cita umat ke arah ketamadunan, maka barulah Islam dapat dilihat secara nyata dalam sistem.” (hlm.71).

Secara umum dapat dikatakan bahwa buku ini merupakan pencarian seorang intelektual islamis Malaysia yang bernama Sidek Baba untuk menemukan sebuah model masyarakat (umat) dan negara ideal yang berdasarkan kepada Islam di tengah kenyataan Malaysia sendiri yang merupakan sebuah nationstate yang heterogen dari segi agama, budaya, dan etnisitas. Meskipun Islam dinyatakan sebagai agama resmi negara dalam pelembagaan Kerajaan Malaysia, tapi Malaysia sendiri bukanlah negara Islam. Oleh sebab itu gagasan-gagasan Sidek dari segi politik nasional mungkin tidak dapat diimplementasikan sepenuhnya karena konsep perpaduan kaum di Malaysia tetap menghargai perbedaan budaya dan agama berbagai puak yang ada di negara itu. Oleh sebab itu, gagasan-gagasannya lebih ditujukan pada  pembangunan kehidupan umat Islam yang maju, berkualitas, tapi tetap agamis, dan dalam konteks ini tentu fokusnya adalah kepada puak Melayu dan puak-puak lain yang beragama Islam.

Memang usaha untuk membumikan gagasan-gagasan keislaman itu di Malaysia tidak lepas dari jalan organisasi, yang berarti juga menyinggung ranah politik, dimana Sidek adalah salah seorang yang aktif dalam kepengurusan banyak organisasi-organisasi keislaman di negaranya. Dalam biografi singkat penulis di sampul belakang buku ini disebutkan bahwa pria kelahiran Melaka dan peraih doktor bidang pendidikan dari University Northern Illinois ini melibatkan diri secara aktif sebagai anggota lembaga pengarah atau pemegang banyak institusi keislaman di Malaysia, seperti Majlis Perundingan Islam Malaysia,  Darul Quran Malaysia, Yayasan Dakwah Islamiyah Malaysia (YADIM), Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM), Majlis Agama Islam Malaysia (MAIS), dan Yayasan Murni Akidah. Di masa mudanya, Sidek juga terlibat dalam organisasi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM). Organisasi-organisasi yang bersifat keislaman itu, sampai batas tertentu, telah ikut mewarnai kehidupan rakyat Malaysia yang berpuak Melayu atau puak lain yang beragama Islam, tapi tentu tidak kentara di kalangan puak-puak non-Islam.

Malaysia terus bertransformasi menjadi negara modern. Sekarang, Pemerintah Kerajaan Malaysia telah mencanangkan pula program “Transformasi Nasional 2050” (TN250). Dalam perkisaran zaman yang terasa makin kencang, gagasan-gagasan tentang masyarakat Malaysia yang maju dan berlandaskan Islam tentu akan terus diuji dan mengalami dinamika. Kini kita melihat kehidupan rakyat Malaysia yang makin berorientasi kebendaan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Bersamaan dengan itu, identitas kemelayuan, atau kebangsaan Malaysia secara umum, terus dipertanyakan, yang dikhawatirkan akan melepuh atau berganti rupa dengan yang lain. Hal ini tiada lain disebabkan oleh ekspansi budaya luar (terutamanya diasosiasikan dengan Barat, tetapi kini juga bangsa-bagsa Asia Timur) yang semakin kuat melanda bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara. Kiranya tidak berlebihan apa yang dikatakan oleh Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, Penasihat Sosio-Budaya Kerajaan Malaysia, dalam kertas ucap utama yang disampaikannya dalam International Conference on Culture, Arts and Humanities (ICCAH) tanggal 7-8 September 2017 di Universitas Andalas, Padang: “[W]e are living more and more within the precincts of the culture of exporting countries, largely from the West and on a smaller scale, from the East itself. Indonesia, Malaysia, Brunei and Singapore are enmeshed to live by the cultures of others than by the values of their own.”  Kini kita melihat pula gejala Arabisasi dalam masyarakat kita. Hal ini telah memunculkan pula suara-suara kritis dalam masyarakat. Kita orang Melayu tetap bisa menjadi muslim tanpa perlu menjadi orang Arab.

Dengan kata lain, kewujudan bangsa Malaysia yang modern tapi tetap agamis (berlandaskan Islam), sebagaimana yang diimpikan oleh Sidek Baba, akan terus mengalami dinamika dan menghadapi berbagai tantangan, di mana faktor-faktor sosio-politik domesitik (dalam negeri), regional, dan internasional akan saling memberikan pengaruh. Teori-teori sosiologi merumuskan bahwa modernisasi berjalan searah dengan sekularisasi karena ia membawa budaya konsumerisme dan materialisme (kebendaan). Akankah masyarakat Malaysia memperlihatkan fenomena yang sebaliknya dari apa yang sering dirumuskan oleh para ahli sosiologi di atas? Mari sama-sama kita lihat, dan tentu generasi Malaysia di tahun 2050 akan dapat mengalami dan merasakannya sendiri.

Suryadi, Leiden University / visiting fellow International Institute of Malay World and Islamic Civilisation (MALAY WORLD), International Islamic University Malaysia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: