Posted by: niadilova | 07/08/2017

PPM #119: Poligami di Minangkabau (1920)

DIMANA ORANG SOEKA BERBINI BANJAK?

     Soal berbini lebih dari seorang soedah semangkin diperhatikan orang, karena dari pihak perempoean sendiri soedah keloear soeara mengatakan tak senangnja melihat atoeran atoeran dan kehendak sebagian pihak laki laki itoe.

     Daripada peritoengan djiwa jang telah dilangsoengkan pada tahoen 1920 jang baroe laloe ini dimana segala sesoeatoe ada ditjatet dan dikompoel[,] ada kenjataan tentang perbandingan orang orang jang berbini lebih dari seorang.

Djawa dan Madoera 15 dalam 1000 orang.

Tanah Seberang       33     ,,    1000   ,,

Minangkabau          78   ,,    1000   ,,

Lampoeng               78      ,,    1000   ,,

Tapanoeli                 40      ,,    1000   ,,

Soematera Timoer   22      ,,    1000   ,,

Atjeh                       44      ,,    1000   ,,

Bali dan Lombok     40     ,,     1000   ,,

     Jang paling banjak sekali kelihatan njatalah Minangkabau dan Lampoeng, sampai 78 dalam seriboe. Berbini 3 dan 4 disana poela jang terbanjak.

     Hal itoe tak mengherankan karena adat semanda jang diadatkan di sana, sedang di Lampoeng tidak poela berbeda djaoeh dengan di Minangkabau.”

***

Laporan surat kabar Bintang Hindia [yang dieditori oleh Parada Harahap dan terbit di Batavia, bukan Bintang Hindia yang terbit di Amsterdam, 1901-1907] Tahun IV, No.9, Saptoe, 25 Februari 1925 yang menginformasikan data kuantitatif mengenai poligami di Hindia Belanda. Saya mengucapkan terima kasih kepada Aditia Gunawan yang telah membawa saya ke sumber ini.

Data ini menunjukkan bahwa tingkat poligami di Minangkabau termasuk paling tinggi pada zaman itu. Disebutkan pula bahwa suara-suara yang menentang tradisi laki-laki berbini banyak ini di Minangkabau ini sudah ada sejak dulu. Namun, baru setelah zaman Orde Baru tradisi itu mulai hapus karena politik Pemerintahan Suharto dalam urusan perkawinan yang menggalakkan perkawinan monogami, terutama di kalangan pegawai pemerintah.

Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 6 Agustus 2017

Advertisements

Responses

  1. Saya punya buku “ADAT EN ISLAMIETISCHE PLICHTENLEER IN INDONESIE”, menurut buku tersebut pada Sensus (Volkstelling) 1930, 8,7 % dari pria yang telah kawin di Minangkabau berpoligami., terutama di beberapa kenagarian di Agam dan Pariaman prosentasenya sangat tinggi. Bahkan, di kawasan Agam Tuo (Bukit Tinggi dan sekitarnya, seperti Banuhamapu, Sungai Puar, Kurai, IV Angkek, IIV Koto dll) prosentasenya 19 %, sepertinya tertinggi di Indonesia pada waktu itu. Scanning halaman terkait dari buku tersebut saya email-kan. Salam, Tarmizi Bustamam

  2. Terima kasih banyak, Pak Tarmizi. Ini menarik! Saya tidak tahu apakah sudah ada sejarah sosial Minangkabau yang mengeksplorasi kecenderungan poligami lelaki Minang ini. Saya tunggu kiriman emailnya dengan penuh harap, Pak Tarmizi. Terima kasih saya ucapkan terlebih dahulu.

  3. Assalamualaikum, Pak. Saya ingin bertanya, Pak. Apakah benar data yg disampaikan oleh Pak Tarmizi Bustamam tsbt?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: