Posted by: niadilova | 12/06/2017

Minang saisuak #306: Perlombaan kuda di Fort van der Capellen

Perlombaan kuda di Fort van der Capellen c.1880-Tropenmuseum-c

Rubrik Minang saisuak minggu ini menurunkan foto klasik yang mendokumentasikan sebuah perlombaan kuda di Batusangkar. Foto ini bertarikh ca 1880. Sumber foto ini mencatat: “De paardenrenbaan te Fort  van der Capellen, Padangse Bovenlanden, Sumatra’s Westkust.” (Perlombaan kuda di Fort van der Capellen [sekarang: Batusangkar], Padang Darat, Sumatera Barat).

Jadi, ini bukan pacu kuda, tapi ajang memamerkan kuda-kuda yang terbaik dan tercantik. Acara ini dulunya tentu sangat bergengsi. Yang memiliki kuda dan bendi, seperti dapat dikesan dalam gambar ini, adalah orang-orang yang berasal dari kelas sosial tinggi dalam masyarakat: para penghulu, orang kaya, dan pejabat kulit putih. Pada masa itu orang yang punya kudan dan bendi hanya mereka yang berasal dari golongan elit lokal ini. Pemandangan datuk-datuk, engku demang, penghulu, dan orang kaya kecil yang naik bendi berhias pernak-pernik dan diiringi oleh beberapa orang anak buah atau para bujang dapat ditemukan di daerah darek maupun rantau. Jika ada alek di nagari lain, para elit lokal itu akan datang dengan rombongannya menunggang kuda dan mengendarai bendi terbaik mereka, dan mereka akan disambut dengan meriah oleh si pangkalan (tuan rumah).

Untuk konteks zaman itu, orang pakudo seperti ini mungkin agak condong ke parewa ketimbang ke ulama. Acara pacuan kuda dan lomba memperagakan kuda-kuda yang bagus adalah bagian dari acara badunia, yang tentu saja dari sudut tertentu dipandang agak negatif oleh kaum agama.

Tradisi ini dikembangkan oleh orang Belanda. Dalam foto ini, di sebelah kiri, kita dapat melihat tiga orang pejabat Belanda. Juga ada dua bendera tiga corak (bendera Belanda) di salah satu ruah di pinggir lapangan (mungkin sekretariat panitia). Jadi, tampaknya acara seperti ini diadakan atas inisiatif pejabat kulit putih, seperti tuan kontrolir (controleur) atau assistent resident.

Pada akhir abad ke-19 lapangan pacuan kuda mulai dibangun di beberapa tempat seperti Fort de Kock dan Padang Panjang. Kemeriaan pacuan kuda, yang dihadiri oleh kaum pribumi dan elit kulit putih, dilukiskan dalam setting beberapa novel berlatar Minangkabau. Salah seorang yang memperkenalkan tradisi pacu kuda di Padang Darat adalah L.C. Westenenk, Asisten Residen Agama Tua, yang  juga memperkenalkan tradisi pasar malam di Fort de Kock tahun 1907 (tentang hal ini sudah kami turunkan dalam rubik ini edisi 19 Desember 2010). Begitulah, kuda yang semula sebagai alat pembawa beban dalam masyarakat tradisional kita kemudian mendapat nilai seni dan gengsi, dan itu masih dapat dikesan sampai hari ini. (Sumber foto: Tropenmuseum, Amsterdam).

Suryadi – Leiden University, Belanda / Singgalang, Minggu 11 Juni 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: