Posted by: niadilova | 04/06/2017

Visual Klasik Nusantara #80 – Soeria Kartalegawa: Presiden Negara Pasundan (4/4/1947-24/4/1948)

Kartalegawa.Minggoean SADAR No. 2, TH II, DJOEM'AT, 16 MEI 1947,p.8

Sumber: Minggoean SADAR, No. 2, TH II, DJOEM’AT, 16 MEI 1947: 8

Catatan: Belum ada studi mendalam mengenai BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleeg). Munculnya ide Negara Pansundan, yang semula dipimpin Soeria Kartalegawa, tapi kemudian ‘dikudeta’ oleh R.A.A. Wiranatakusuma, merupakan bagian dari ide negara federal yang dikasak-kusuki oleh Huib van Mook. Selama ini orang hanya tahu wakil BFO Sultan Hamid II dari Pontianak, yang mewakili BFO ke Sidang KMB di Den Haag (23 Agustus – 2 November 1949). Hal-hal yang lebih detil mengenai BFO ini belum banyak diketahui: Siapa(-siapa saja) penggagasnya?; Apa peran yang telah dimainkan oleh Van Mook?; Bagaimana dinamika politik di antara para politisi yang mendukung ide BFO  ini di berbagai daerah di Indonesia?; Bagaimana hubungan mereka dengan Pemerintah Republik Indonesia (Sukarno-Hatta)?; Bagaimana posisi para politisi pendukung BFO ini dalam revolusi sosial 1946-47?; Bagaimana nasib para pendukung BFO ini setelah Indonesia kembali ke Negara Kesatuan pada 17 Agustus 1950?; dlsb. Karena BFO ini adalah bagian penting dari sejarah Indonesia, kiranya perlu dilakukan penelitian mendalam (kalau perlu di tingkat disertasi) tentang peran dan dinamika internal BFO yang berusia singkat itu.

Advertisements

Responses

  1. mohon baca:

    “Negara Pasundan 1947-1950 : gejolak menak Sunda menuju integrasi nasional/ Agus Mulyana ; penyunting, Kartika Nugrahini.”

    Pikiran Rakyat, SENIN (PON) 1 MARET 2010

    ” …‘dikudeta’… ” (??)
    RAA Wiranatakusumah saat itu Menteri Dalam Negri-Voorzitter DPA – dan sdg otw ke Yogya dalam keadaan sakit dan lelah, di rawat…Ada pula dokumen (facsimile) di Rijksarchief di Den Haag – korespondensi antara RAA dan Soekarno, sebelum berangkat ke Bandung dari Yogya . Setelah di lantik sbg Wali Negara Pasundan (dan setelah selesainya proses demokratis (melalui ” West Java Konferentie ke-3″) RAA Wiranatakusumah terpilih sbg Wali Negara – Lagu kebangsaan yg di lantunkan saat Negara Pasundan didirikan adalah “Indonesia Raya” – – memang saat itu Van Mook hadir dan duduk sebelah kakek saya, begitu Pula Hilman Djajadiningrat-oleh karena lagu nya bukan “Wilhelmus”, maka wajah nya Van Mook sedikit ‘be-te”-bisa di check di arsip “Beeld en Geluid” di Utrecht

    mohon maaf saya sedikit tersinggung krn ada kata yg “tendentieus” – dalam tanda kutip; sebagai cucu nya RAA Wiranatakusumah, bahkan soeriakartalegawa pun masih saudara kami-dan Keluarga Djajadiningrat pun saya kenal baik(yg terkalahkan sbg calon Wali Negara (dr ” fraksi Recomba “) saya merasa kurang pas dr seseorang intelektual yg bermukim atau bekerja sbg dosen di UvLeiden utk menulis hal-hal spt yg saya baca di atas ini -saya rasa bapak/ibu ( minimal ) sama rasa nasionalisme nya dengan kakek saya – namun pencapaian dan “merit”-nya utk Republik kita ini kurang dapat perhatian yg mendalam, bahkan sejarah nya di “bungkam” dan perjuangannya di tiadakan.

    ps & by the way: overleg-en niet “overleeg”- je schrijft t dus met 1 “e”

  2. ‘Dikudeta’ di sini justru berarti positif, karena berkat Wiranatakoesoema Pasoendan mendekat ke Indonesia dan akhirnya bergabung lagi dengan Indonesia. ITULAH SEBABNYA SAYA LETAKKAN KATA ITU DALAM TANDA PETIK. Mengapa Ibu/Bapak marah? Moga2 masih bisa membaca bahasa Indonesia yang penuh nuansa makna. Bacalah yang tersirat, jangan yang tersurat saja.

    I don’t understans why your reaction like this?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: