Posted by: niadilova | 31/05/2017

Awal Ramadan 2017 di Belanda: antara ‘pabukoan’ dan bikini

XTRA - Boerkini
Sumber: https://digitalehofstad.wordpress.com/tag/svp/

ENTAH beruntung entah buntung, hari pertama Ramadan tahun ini di Belanda, yang jatuh pada hari Sabtu 27 Mei 2017, disambut oleh cuaca cerah bersuhu 30 derajat Celcius. Beruntung, karena suhu satu derajat lebih rendah dari suhu rata-rata di Jakarta dan Padang itu adalah anugrah ‘sorga’ bagi orang Belanda yang hampir sepanjang tahun disungkup oleh udara dingin. Oleh karena itulah mereka selalu menyambut cuaca cerah dengan perasaan riang gembira. Bila suhu menghangat, matahari bersinar, dan langit menjadi biru bersih, orang Belanda akan pergi ke luar rumah, sendiri atau bersama keluarga. Mereka akan melakukan berbagai aktivitas: bersepeda menelusuri jalan-jalan desa, naik perahu atau mendayung kano menyusuri kanal-kanal yang simpang siur dan berkelok-kelok, berebahan sambil membaca di taman-taman dan hutan kota, ngobrol bak lebah buncah dan minum-minum di kafe-kafe, berjemur dan mandi di pantai, dan lain sebagainya. Dan….semua wajah kelihatan ceria!

Buntung, karena bagi umat Islam yang memulai puasa, suhu setinggi itu tentu meletihkan, apalagi karena siang memanjang sampai hampir pukul 10 malam. Tapi bukan itu saja, tantangan yang lebih berat tentunya karena dalam suhu yang nyaris menyamai suhu di negeri-negeri tropis itu, hampir semua orang, tak peduli di mana saja mereka berada, tampil dengan pakaian minim. Ini masa untuk memerkan kepelbagavariasian bentuk tubuh manusia.

Sudah sejak sehari sebelum sahur pertama, cuaca di Belanda bagus, membuat orang-orang tampil dengan wajah penuh kegembiraan dimana-mana. Kami (saya dan anak-anak) pergi ke pantai Katwijk yang letaknya tidak begitu jauh dari Leiden (Anda bisa naik bus nomor 31 dari Stasiun Bus di depan Centraal Station/Stasiun Kereta Api Leiden). Pantai itu tentu tidak seindah Pantai Pariaman, Pantai Pulau Derawan, atau Pantai Nihiwatu. Airnya keruh dan lautnya jauh dari biru mata kucing. Tapi itulah salah satu pantai yang terbaik di Belanda, selain pantai Scheveningen di Den Haag. Walaupun begitu, pantai itu penuh dengan manusia, lantaran cuaca bagus sekali. Di Belanda, orang tak akan mengingat pantai jika suhu udara menghadirkan gigil di badan. Oleh karena itulah pada hari itu, sampai beberapa hari berikutnya, pantai-pantai Belanda penuh dengan orang-orang yang berjemur dan berenang di laut. Seperti biasa, mereka tidak menyia-nyiakan kehadiran sinar matahari yang terasa begitu mahal di Belanda.

Seorang rekan facebook yang melihat tayangan foto anak saya, yang berpakaian biasa, sedang melukis di pantai, dikelilingi oleh orang-orang yang berbikini, berkomentar: ‘Pai balimau co iko, lai mukabua puaso ko?” (pergi berlimau ke sini, apakah puasa Anda makbul?) Entahlah…, jawab saya dalam hati. Saya dan keluarga hidup di sebuah negeri dengan kebudayaannya sendiri, yang sama sekali lain dengan kebudayaan negeri asal saya. Alhamdulillah, saya dan keluarga masih merasa sebagai orang Timur, orang Indonesia, walau sudah berpuluh tahun tinggal dalam lingkungan kebudayaan Eropa. Saya (memilih) menjadi muslim moderat saja. Saya tinggal di negeri orang, karenanya saya perlu pula menghormati budaya mereka tanpa harus berubah menjadi mereka atau menutup diri rapat-rapat dari mereka. Sebaliknya, ada pula orang Indonesia yang baru setahun-dua – untuk tidak mengatakan sebulan-dua – tinggal di Belanda, minum bir dan anggur sudah bak minum air mentah saja olehnya. Malah ada pula yang jadi ateis dan mencerca-cerca agamanya sendiri. Tapi ada pula yang justru jadi sempit cara berpikirnya: semua unsur kebudayaan Belanda/Eropa, tempat dia tinggal, dianggapnya akan merusak keislamannya.

Begitulah, bulan puasa tahun ini di Belanda, khususnya di Leiden, diawali dengan hari yang cerah dan suasana lingkungan yang menampilkan keceriaan musim panas ala Eropa. Nuansa Ramadan sedikit terasa jika kita berkunjung ke toko-toko milik orang Maroko, seperti Slagerij Mabroek  yang beralamat di Nieuwe Beestenmarkt 2, 2312 CH Leiden. Aneka makanan dan buah-buahan khas Timur Tengah tersedia, kebanyakan manisnya di atas rata-rata. Kesibukan di toko itu terasa bertambah, bukan hanya karena orang-orang muslim mancanegara yang akan membeli pabukoan, tapi juga karena orang Belanda pun banyak yang berbelanja di toko itu. Aneka makanan dari negeri-negeri Islam di sekitar Laut Tengah, khususnya Maroko, sudah sangat berintegrasi dengan lidah dan usus orang Belanda. Selain itu, pada malam menjelang sahur masih terdengar suara-suara lelaki di luar: orang-orang muslim Maroko yang begadang menunggu sahur dan subuh. Ini tradisi dari negeri asal mereka yang masih mereka praktekkan di Belanda. Akan tetapi mereka berada di luar sampai larut malam karena cuaca cerah dan hangat. Jika Ramadan di Belanda jatuh pada musim dingin, siapa yang kuat berada di luar rumah pada dinihari? Walau orang muslim dari negeri-negeri Timur Tengah dan Magribi sekalipun, mereka pasti memilih bergelung dalam selimut di dalam rumah.

Hari pertama puasa (seperti dapat dilihat dalam link ini https://www.salahtimes.com/netherlands/leiden/ramadan; dikunjungi 28-05-2017), waktu fajar (menahan) dimulai pada pukul 03:12 pagi, dan waktu magrib (berbuka) pada pukul 21:47. Artinya, lama menahan kurang lebih 19 jam. Sebaliknya, waktu untuk diperbolehkan makan hanya sekitar 5-6 jam saja (antara pukul 21:47 sampai pukul 03:12). Pada akhir Ramadan, yang akan jatuh pada hari Minggu 25 Juni 2017, waktu menahan dimulai pada pukul 03:12 pagi dan waktu berbuka jatuh pada pukul 22:07. Artinya, di ujung Ramadan tahun ini, kaum muslim Belanda, menahan hampir mencapai 20 jam lamanya, dan waktu untuk diperbolehkan makan sekitar 5 jam saja.

Begitulah suasana awal Ramadan di Belanda tahun ini. Siapa tahu amal ibadah puasa kaum muslim akan diganjar secara berbeda oleh Allah SWT menurut geografi tempat mereka tinggal. Entahlah! Kadang terlintas renungan begini di kepala sambil menunggu taraweh di mesjid baru milik komunitas Maroko yang jaraknya hanya sekitar tiga pelemparan batu dari apartemen kami. Ya, hanya Allah s.w.t. yang mengetahuinya. Seperti kata-kata hikmah yang pernah saya dengar: “Siapa di antara manusia yang tahu benar apa sesungguhnya dosa dan pahala di mata Tuhan?”

Selamat berbuka puasa. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah s.w.t.

Leiden, 28 Mei 2017

* Esai ini juga diterbitkan di harian Singgalang, Selasa 30 Mei 2017.


Responses

  1. Alhamdulillah dan astaghfirullah …..

  2. Berserah diri kita kepada Allah s.w.t. Manusia adalah makhluk yang sangat lemah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: