Posted by: niadilova | 30/05/2017

Visual Klasik Nusantara #79 – Para Walinegara Penyokong BFO (1949)

De locomotief [tt2] Semarangsch handels- en advertentie-blad 17-06-1949

Keterangan foto milik IPPHOS-ANETA ini menyebutkan bahwa foto ini mengabadikan pertemuan para walinegara yang mendukung ide BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleeg) alias negara federasi  di bawah Uni Indonesia-Belanda. “[…] Van links naar rechts [dari kiri ke kanan]: dr. Mansoer (Sumatra’s Ooskust [Negara Sumatera Timur], mr. Djoemhana, minister-president van Pasoendan [Perdana menteri Negara Pasundan; walinegaranya sendiri adalah R.A.A. Wiranantakoesoema[h], yang mengambil alih peran Soeria Kartalegawa], mr. J. Vleer, secretaris BFO, R.A.A. Tjakraningrat ([Walinegara Negara] Madoera), R.A.A. Wiranatakoesoemah ([Walinegara Negara] Pasoendan), Tjokorde Gde Rake Soekawati ([Walinegara] Oost-Indonesië [Negara Indonesia Timur (N.I.T)), Sultan Hamid II ([Walinegara] West Borneo [Negara Kalimantan Barat]), Abdul Malik [Walinegara] Zuid Sumatra [Negara Sumatera Selatan]), Achmad Koesomonegoro ([Walinegara] Oost Java [Negara Jawa Timur]), Anak Agoeng Gde Agoeng, premier [Perdana Menteri] van Oost-Indonesië [Negara Indonesia Timur]), en [dan] dr. Soeparmo, lid van de bijzondere delegatie uit de BFO, van Madoera [anggota delegasi khusus BFO asal Madura].”

Sumber: De locomotief: Semarangsch handels- en advertentie-blad, 17-06-1949

Catatan: Seperti telah saya sebutkan dalam rubrik ini nomor #80, studi mendalam mengenai BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleeg) ini perlu dilakukan. Selama ini orang hanya tahu wakil BFO Sultan Hamid II, Sultan Kerajaan Pontianak, yang mewakili BFO ke Sidang KMB yang berlangsung dari 23 Agustus sampai 2 November 1949 di Den Haag, Belanda. Hal-hal yang lebih rinci mengenai BFO ini belum banyak diketahui: Mengapa beberapa daerah (Sumatera Selatan, Sumatera Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Madura, Bali, dll.) ingin membentuk negara sendiri di bawah payung Belanda dan daerah-daerah lainnya tidak mau?; Siapa(-siapa saja) penggagasnya?; Apa alasan mereka mendukung konsep BFO?; Apa peran yang telah dimainkan oleh Van Mook?; Bagaimana dinamika politik di antara para politisi yang mendukung ide BFO  ini di berbagai daerah di Indonesia?; Bagaimana hubungan mereka dengan Pemerintah Republik Indonesia (Sukarno-Hatta)?; Bagaimana reaksi rakyat di berbagai daerah?; Bagaimana posisi para politisi pendukung BFO ini dalam revolusi sosial 1946-47?; Bagaimana nasib para pendukung BFO ini setelah Indonesia kembali ke Negara Kesatuan pada 17 Agustus 1950?; dlsb. Karena BFO ini adalah bagian penting dari sejarah Indonesia, kiranya perlu dilakukan penelitian mendalam (kalau perlu di tingkat disertasi) tentang peran dan dinamika internal BFO yang berusia singkat itu.


Responses

  1. Pak Suryadi, selain dari rincian sejarah mengenai latar belakang BFO berikut pendukung-pendukungnya, menurut hemat saya perlu juga generasi muda sekarang mengetahui bahwa ada juga orang Indonesia asli/Jawa yang menjadi Ketua Juru Runding pihak Kerajaan Belanda pada masa perjuangan dulu (1945-1950) dengan pihak Republik Indonesia, yakni Mr. Abdoel Kadir Djojoatmodjo. Saya coba googling nama tersebut, tapi kok nggak ada, rasanya beberapa tahun yang lalu nama tersebut ada di Google.

    Salam,
    Tarmizi Bustamam

  2. Maaf, pak Suryadi. Setelah saya googiling pakai ejaan baru, ternyata nama tersebut ada di Wikipedia bahasa Indonesia. Dalam perundingan Renville, Abdulkadir adalah utusan delegasi dari pihak Belanda.Mr. Abdoellkadir yang menandatangani perjanjian ini mewakili pihak Belanda.

    Salam Tarmizi.Bustamam

  3. Terima kasih banyak atas informasi ini, Pak Tarmizi. Apakah Bapak punya koleksi foto Mr. Abdoelkadir ini? Saya coba pula cari. Mudah2an dapat.

  4. Ternyata dia adalah salah seorang anggota Federale Raad, Pak Tarmizi. Anggota lainnya adalah: mr Toeankoe Dzoelkarnain, Prof. P.A. Hoesein Djajadiningrat, dr. J.A. Karamoy, Pangeran Kartanagara, Raden Soeria Santoso,dan mr. Wisaksono Wirjodihardjo. (lihat surat kabar: Nieuwsblad van Friesland:Hepkemas’courant (Heerenveen), edisi 14-01-1948). Tapi tenyata kemudian Abdoelkadir dipecar dari keanggotaan Federale Raad.

  5. Pak Suryadi,
    Tanggapan saya selanjutnya mengenai Mr. Abdoel Kadir Widjojoatmodjo,, saya kirimkan pakai e-mail.

    Salam,
    Tarmizi Bustamam

  6. Salam Bapak Tarmizi. Terima kasih atas tanggapan dari Bapak. Saya akan cek email saya secepatnya.

    Wassalam,
    Suryadi

  7. Tambahan Mr. Abdoelkadir Widjojoatmodjo waktu itu adalah Kolonel KNIL, inlander dengan pangkat tertinggi di KNIL.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: