Posted by: niadilova | 14/05/2017

Tradisi Lisan Batak dalam Edaran Zaman

Cover buku ClaraClara Brakel-Papenhuijzen, Dairi Stories and Pakpak Storytelling: A Storytelling Tradition from the North Sumatran Rainforest. Leiden – Boston: Brill, 2014, 363 pp.; ISBN: 978 90 67 18387 1 (hardback); 978 90 04 26173 0 (e-book) (Seri Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde Vol. 279)

Dairi Stories and Pakpak Storytelling: A Storytelling Tradition from the North Sumatran Rainforest adalah sebuah publikasi internasional terbaru yang cukup komprehensif membicarakan tradisi lisan masyarakat Pakpak-Dairi, salah satu subetnik Batak di Sumatera Utara. Kehadiran buku ini mengilatkan bahwa studi mengenai tradisi lisan berbagai etnis yang ada di Sumatera belum dilupakan oleh para sarjana antarbangsa. Simposium Stories and storytelling in Indonesia yang baru diselenggarakan di Leiden  tanggal 13 May 2017 (lihat: http://www.kitlv.nl/event/symposium-stories-storytelling-indonesian-archipelago-leiden-asia-year/; dikunjungi 4-05-2017) menunjukkan bahwa studi mengenai tradisi lisan Indonesia masih tetap menjadi perhatian komunitas akademik di Universiteit Leiden, yang mudah-mudahan juga masih tetap menjadi titik perhatian akademis di bagian dunia lain.

Memang hampir dua dekade setelah terbitnya disertasi Will Derks, The Feast of Storytelling on Malay Oral Tradition (1994) dan karya Williams A. Collin The Guritan Radin Suane: A Study of Besemah Oral Epic from South Sumatra (1998), lama kita tidak mendengar lagi publikasi internasional mengenai tradisi lisan di Sumatera. Baru sekitar 14 tahun kemudian muncul disertasi Juniator Tulius, Family Stories: Oral Tradition, Memories of the Past, and Contemporary Conflicts over Land in Mentawai – Indonesia (Leiden University, 2012), yang memudian disusul oleh buku ini (2014).

Buku ini seolah menjemput masa lalu dan membawanya ke masa kini. Penulisnya, Clara Brakel-Papenhuijzen, menghimpun tujuh cerita lisan dari masyarakat Pakpak-Dairi yang didokumentasikan oleh sarjana Belanda Herman Neubronner van Der Tuuk (1824-1894) yang naskah-naskah aslinya sekarang tersimpan di Perpustakaan Universiteit Leiden dan memperkaya serta membandingkannya dengan cerita-cerita dari subetnik yang sama yang direkam oleh suaminya, Lode Frank Brakel, antara tahun 1977-1979. Dalam penelitiannya itu, Lode Frank Brakel, dibantu oleh istrinya, Clara, antara lain telah merekam repertoar lisan Sonang Sitakar, seorang tukang cerita (storyteller) profesional di Desa Sukarame (Sukaramai) dekat Sidikalang, Kabupaten Dairi, pada bulan Januari 1979. Buku ini adalah persembahan Clara kepada suaminya yang meninggal secara mendadak pada bulan Juni 1981 yang membuat proyek penelitiannya tentang tradisi lisan di Sumatera Utara terbengkalai (hlm. 9). Buku ini adalah dedikasi Clara untuk almarhum suaminya sekaligus mewujudkan hasil penelitian suaminya dalam bentuk publikasi internasional yang lama tertunda karena kematian Lode Frank Brakel yang mendadak itu.

Buku ini terdiri dari dua bagian yang keseluruhannya mengadung sembilan bab. Bagian pertama (Bab 2-5, kecuali Bab 1 yang merupakan introduksi yang menjelaskan posisi [traditional] literary traditions di Sumatera Utara) menggambarkan koleksi naskah Batak di Perpustakaan Universiteit Leiden dan sejarah hidup kolektornya, Herman Neubronner van der Tuuk. Sarjana Belanda yang menguasai beberapa bahasa daerah di Indonesia ini telah tinggal di Sumatera (Sibolga dan Barus, juga sebentar di Padang) antara 1851-1857 untuk Misi Penginjilan Belanda (Dutch Bijbelgenootschap) di Tanah Batak (mengenai  keterlibatan Van der Tuuk dan misi penginjilan itu, lihat Kees Groeneboer, Een vorst onder de taalgeleerden: Herman Neubronner van der Tuuk, taalafgevaardigde voor Indië van het Bijbelgenootschap, 1847-1873, Leiden: KITLV Uitgeverij, 2002). Dengan bantuan beberapa penyalin lokal (dua di antaranya yang sering disebut-sebut adalah Tuanku Sigambo-Gambo dan Si Liek gelar Marah Nujum), Van der Tuuk menyuruh salin dan mengumpulkan banyak cerita lisan yang hidup dalam masyarakat setempat. Pada tahun 1896 naskah-naskah koleksi Van der Tuuk dihibahkan ke Leiden University Library. Menurut identifikasi Clara, naskah-naskah Sumatera koleksi Van der Tuuk, khususnya yang berasal dari Tanah Batak, yang umumnya ditulis dalam huruf lokal Batak dengan bahan kulit kayu (pustaha) dan bambu, berisi hal-hal yang terkait dengan kepercayaan dan praktek keagamaan lokal yang, langsung atau tidak, merefleksikan aktifitas pengumpulnya sebagai anggota dari misi penginjilan di Tanah Batak yang tentunya ingin mengetahui lebih dalam kepercayaan lokal orang Batak yang dianggap paganistik itu untuk dapat diganti dengan kepercayaan kepada agama Kristen.

Clara Brakel-Papenhuijzen menyeleksi tujuh cerita dalam koleksi Van der Tuuk untuk disajikan teks dan terjemahan Inggrisnya dalam buku ini (Bab 5), yaitu Kayuara merlendung (Or 3406: 147-149), Si Bilalang (Or 3406: 149-151), Si Jinaka (Or 3406: 152/57-153/58), Si Mbuyak-mbuyak (Or 3406: 153/58-159/64), Datu Tunggal ni Begu (Or 3406: 170/175-173/178), Guru Tonggal Begu (Or. 3399: 120-171; 12.475 IV: 143-163) dan Si Mbacang Gumale-gale (Or 3410:1-20; Or 3420:361-376; Or 12.475 IV:164-172). Aspes-aspek dan ciri kelisanan ketujuh cerita itu (storyline, struktur naratif dan motif-motif, gaya penceritaan dan keformulaikan) dibicarakan di dalam Bab 4.

Dalam Bab 1 Clara membuat kategori terhadap sastra lisan Batak. Menurutnya sastra lisan Pakpak-Dairi dapat dibagi atas beberapa genre, yaitu ende (or lagu, nyanyian, langgam), odongodong (nyanyian), tangis(-tangis) (ratap), tonggo-tonggo (doa), mangamang (sejenis mantra), tabas (doa pendek/‘spell’ yang populer di kalangan anak-anak), (e)mpama (perumpamaan), kuning-kuningen (teka-teki sederhana), torkan-torkan (cerita pendek sebagai jawaban terhadap satu teka-teki), sukut-sukuten atau turi-turin (cerita).

Bagian kedua buku ini (Bab 6-9) berfokus kepada salah satu cerita yang paling populer dalam masyarakat Pakpak-Dairi, yaitu cerita Si Buah Mburle yang menceritakan genealogi orang Pakpak-Dairi. Dalam Bab 6 penulis membandingkan versi-versi cerita Si Buah Mburle yang yang pernah terdokumentasikan. Clara membandingkan versi yang terdapat dalam koleksi Van er Tuuk – cerita Si Mbacang Gumale-Gale (Or 3410:1-20 dan Or 3420:361-76) dan versi Tobanya, Si Ambasang Gumalegale (Or 3417:229-31), dan cerita Datu Tonggal ni Begu (Or 3406) – dengan sukut-sukuten Si Buah Mburle yang didokumentasikan oleh seorang pegawai dinas kebudayaan Kabupaten Dairi yang bernama M.R. Solin yang masih berbentuk naskah yang berlum pernah diterbitkan, versi yang dicatat oleh Lynette Moore dalam disertasinya ‘Songs of the Pakpak of North Sumatra’ (Monash University, Australia, 1985) yang direkam dari tukang cerita Mpung Sumar di kampung Aornakan pada bulan November 1980, dan versi yang direkam sendiri oleh Clara dan Suaminya, Lode Frank Brakel, pada tahun 1979. Menurut Clara, terdapat perbedaan-perbedaan di antara versi-versi itu. Ia antara lain mengatakan: “It is strange that, according to Moore, in Mpung Sumar’s version the main character Si Buah Mburle is said to have been born from an egg, and no reference is made to the wild mango fruit (mburle) after which he has been named.” (hlm. 207)

Dalam dua bab berikutnya penulis menganalisis dan menyajikan transkripsi dan terjemahan cerita Si Buah Mburle yang direkam oleh Lode Frank Brakel tahun 1979. Analisis Clara tentang  ‘spoken sections’ dan ‘chanted sections’ dalam penyampaian cerita Si Buah Mburle menunjukkan ciri umum cara penyampaian cerita lisan di kawasan Nusantara Bab 7 berisi analisis tentang aspek intrinsik dan ciri kelisanan cerita Si Buah Mburle. Sementara Bab 8 menyajikan transkripsi dan terjemahan Inggris cerita ini.

Dalam Bab 9 (Final remarks) Clara mencatat perbedaan-perbedaan dasar (basic differences) cerita Si Buah Mburle yang tertulis (dari koleksi Van der Tuuk) dan yang direkam secara lisan. Penulis juga menyimpulkan bahwa interkasi antara tulisan dan lisan dalam budaya Pakpak-Dairi dan Batak pada umumnya sudah berlaku sebelum datangnya kuasa Barat. Tradisi pustaha adalah bentuk ‘literasi’ asli Batak yang sudah semula ada sebelum kuasa (literasi) Barat datang ke Sumatera. Oleh sebab itu, dalam kasus sastra lisan Pak-Pak Dairi, tak ada kekhawatiran bahwa budaya keberaksaraan akan mengancam budaya kelisanan sebagaimana sering dikhawatirkan oleh beberapa sarjana.

Dalam Simposium Stories and storytelling in Indonesia sebagaimana telah disebutan di atas, Clara Brakel-Papenhuijzen dalam prsentasinya “Between hulu and hilir – Storytelling in North Sumatra” melanjutkan sharing data penelitian bersama suaminya yang dilakukan di Sumatera Utara pada akhir 1970an. Ceramahnya itu memberi kesan kepada saya bahwa penyampaian cerita-cerita lisan di Tanah Batak tidak begitu banyak melibatkan alat musik pengiring. Ini berbeda dengan di Minangkabau, misalnya, dimana setiap genre pertunjukan lisan  menggunakan instrumen musik tertentu, seperti rabab galuak (dalam pertunjukan rabab Pariaman), rabab biola (dalam pertunjukan rabab Pasisia), rebana (dalam pertunjukan bataram), rapai (dalam pertunjukan indang tradisi Pariaman), saluang (dalam pertunjukan dendang Pauah dan bagurau), kotak korek api (dalam pertunjukan Sijobang) dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, data-data cerita lisan yang didokumentasikan oleh Lode Frank Brakel di Sumatera Utara pada 1970an berasal dari tukang cerita profesional (seperti Sonang Sitakar) dan juga orang biasa. Ini dapat saya kesan dari foto-foto yang diperlihatkan dan rekaman-rekaman yang diperdengarkan dalam presentasi Clara dalam Simposium itu. Beberapa orang wanita Melayu yang direkam oleh Lode Frank Brakel tampaknya bukan tukang cerita dalam artian ‘profesisional performer’.  Adalah biasa dalam  masyarakat Melayu bahwa beberapa wanita, khususnya yang menjadi guru mengaji bagi anak-anak perempuan di rumahnya, memiliki banyak repertoar lisan yang mereka peroleh dengan mendengar dari penampil cerita lisan profesional laki-laki dan juga melalui teks tercetak untuk kemudian diceritakan kepada murid-muridnya selepas mengaji di malam hari. Repertoar lisan mereka sering diperkaya juga dengan cerita-cerita yang bersifat Islami, seperti Hikayat Nabi Bercukur, Hikayat KanakKanak di Sorga, Hikayat Nabi Mikraj, dan lain-lain.

Seperti dijelaskan oleh Clara, penelitian lapangan suaminya ke kampung-kampung di Sumatera Utara selalu ‘dikawal’ oleh representatif Pemerintah setempat (dari Dinas Kebudayaan). Ini sebaiknya tentu harus dihindarkan oleh peneliti, tapi pada masa itu mungkin sulit untuk menghindar dari pengawasan (oknum) penguasa. Walau bagaimanapaun, stuasi seperti itu tentu mengurangi keleluasaan, baik bagi peneliti sendiri (Loda Fran Brakel dan Clara) dan bagi informan sendiri dalam menyampaikan ceritanya. Masa itu adalah ketika Orde Baru sedang mengadakan konsolidasi politik dimana setiap hal-hal yang datang dari luar (termasuk penelitis asing) dicurigai dan harus diawasi. Clara sendiri mengakui bahwa dalam satu kunjungan ke lapangan tanpa kawalan dari oknum Pemerintah Orde Baru, ia dan suaminya berhasil merekam beberapa cerita yang gaya penuturan dan bahasanya menunjukkan ciri lebih santai.

Sebagaimana diketahui, ada tiga cara penyampaian cerita lisan oleh tukang cerita di dunia Melayu dan sekitarnya, yaitu secara singing, chanting (yang kadang-kadang disertai juga dengan rhythmic), dan speech. Amin Sweeney menjelaskan: cara pertama dan kedua dianggap cara profesional, di mana alat musik tertentu (seperti rebab, gendang, suling dan lain-lain) sering digunakan untuk mengiringinya. Masing-masing cara penyampaian cerita itu mempengaruhi language style teks cerita (lihat Amin Sweeney, “Professional Malay story-telling: some questions of style and presentation”, dalam: William P. Malm dan Amin Sweeney (Eds.), Studies in Malaysian oral and musical traditions, Ann Arbor, MI: University of Michigan, Center for South and Southeast Asian Studies. 1974, hlm. 47-99).  Misalnya, salah hal yang paling jelas adalah bahwa dengan cara pertama dan kedua, teks akan diwarnai oleh ungkapan penyisip (filler syllables), yang mustahil akan muncul jika pencampaian cerita memakai cara ketiga (speech). Di samping itu, cara pertama dan kedua akan menghasilkan teks yang bertruktur puitis, dengan pengucapan mengikut tarikan nafas. Bentuk ini tidak akan dihasilkan jika cerita disampaikan secara speech.

Penyampaian cerita Si Buah Mburle oleh tukang cerita Sonang Sitakar yang direkam oleh Lode Frank Brakel tampaknya tidak diiringi oleh alat musik tertentu. Clara sendiri dalam buku ini tidak berbicara tentang alat musik apapun dalam pertunjukan cerita-cerita lisan Pakpak-Dairi. Buku ini memang lebih berfokus pada teks-teks cerita lisan itu sendiri ketimbang konteks pertunjukannya (yang hanya dibicarakan secara sangat terbatas dalam buku ini). Demikianlah umpamanya, penulis tidak tertarik untuk membicarakan lebih jauh reaksi khalayak dan penampil sendiri, sebagaimana dilakukan oleh Amin Sweeney dalam penelitiannya tentang wayang Kelantan di Malaysia (1972) dan Nigel Phillips dalam penelitiannya tentang sijobang di dataran tinggi Minangkabau (1981).

Namun, lepas dari catatan kecil saya itu, buku karya Clara Brakel-Papenhuijzen ini jelas memberi kontribusi besar bagi studi tradisi lisan Indonesia sambil mengingatkan peneliti lain bahwa masih ada ruang untuk mengeksplorasi aspek-aspek yang terkait dengan penampil (performer) dan khalayak (audience) tradisi lisan di daerah Sumatera Utara yang cenderung dilupakan oleh pengumpul seperti Van der Tuuk dan para sarjana Eropa sarjana sezamannya (ini sering dikritik secara agak pedas oleh Amin Sweeney) dan belum dielaborasi dalam buku ini. Dan tentu saja sudah saatnya pula bagi yang berminat untuk melakukan studi lapangan yang baru tentang tradisi lisan di daerah Sumatera Utara, mengingat data paling baru yang dipakai dalam buku ini berasal dari studi lapangan yang dilakukan hampir 40 tahun yang lalu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: