Posted by: niadilova | 08/05/2017

Minang saisuak #301: Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Toemanggoeng (1905-1962)

Foto-albumo DT (2)-c

Nama wanita gempal yang duduk di tengah dalam foto ini adalah Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Tomanggoeng (selanjutnya: [Rangkayo] Chailan Sjamsoe). Gelar ‘Rangkayo’ di awal namanya jelas mengindikasikan bahwa dia berasal dari kalangan berada dan terpelajar d[ar]i Minangkabau. Memang dalam masyarakat matrilineal terbesar di dunia itu, gelar ‘rangkayo’ hanya diperuntukkan bagi wanita. Sedangkan gelar ‘Datoek Toemanggoeng’ di akhir namanya adalah nama adat suaminya, Landjoemin Datoek Toemanggoeng, seorang intelektual Minangkabau dan penggiat pers pribumi di Batavia di awal abad 20.

Lahir di Bukittinggi pada 6 April 1905, Rangkayo Chailan terkenal sebagai seorang feminis dan penggiat penyebaran Bahasa Esperanto di Indonesia. Informasi yang lebih lengkap mengenai wanita Minangkabau yang berpikiran progresif ini dapat dibaca dalam dua artikel Heidi Goes yang menyebutnya sebagai “politician, female-rights activist and journalist”: 1) “Mengenang Kembali Chailan Sjamsoe (1905-1962)”, Kompasiana, 21-11-2012; 2) “The Esperanto movement in the Dutch East Indies and Indonesia”, Wacana Vol. 16 No. 2 (2015): 441-469. Informasi singkat mengenai Rangkayo Chailan Sjamsoe dalam tulisan ini sepenuhnya merujuk kepada kedua tulisan Heidi tersebut.

Sejak masa mudanya, malah sebelum menikah dengan Landjoemin Datoek Toemanggoeng dan pindah ke Batavia, Chailan Sjamsoe yang mendapat pendidikan sekolah Belanda itu sudah aktif dalam berbagai kegiatan yang memperjuangkan persamaan hak-hak kaum wanita dengan kaum pria. Beberapa tahun lamanya beliau menjadi ketua Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-Anak (P4A) yang didirikan di Batavia tahun 1931. Pandangan-pandangannya tentang masalah ini dinukilkannya dalam dua artikel yang termuat dalam buku tahunan Indisch Europees Verbond 1936. Sebelumnya, pada tahun 1931, Chailan Sjamsoe (bersama seorang wanita pribumi lainnya, R.A. Roekmini Santoso) sudah memperjuangkan hak pilih untuk perempuan dengan bergabung dalam Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht in Nederlands-Indië dan kemudian menjadi anggota dewan utama asosiasi itu (gerakan ini sudah muncul di Hindia Belanda sejak 1908).

Sejak 1932 Rangkayo Chailan Sjamsoe menjadi pemimpin majalah Pedoman Istri yang ia dirikan. Majalah itu menampung tulisan-tulisan yang tidak saja memberi kesadaran kepada kaum perempuan Indonesia tentang hak dan kewajiban mereka, tapi juga memberikan informasi tentang berbagai keterampilan yang harus dikuasai oleh kaum wanita. Ia juga aktif memperjuangkan hak perempuan untuk menjadi anggota Volksraad.

Pada bulan Juni 1938, Rangkayo Chailan Sjamsoe mengikuti Kongres Bahasa Indonesia di Solo, sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh kaum muda untuk mengenang Sumpah Pemuda 1928. Desember 1938, ia mendirikan dan sekaligus menjadi ketua Persatuan Kaum Ibu Minangkabau, cabang wanita Persatoean Minangkabau Djakarta.

Selepas Perang Dunia II, Rangkayo Chailan tetap aktif dan menulis beberapa buku seputar hak-hak dan peningkatan keterampilan bagi kaum perempuan, seperti buku 30 tahun menentang polygami (1958), dll.

Setelah kematian suaminya yang tragis di pada 1947 di kampung halamannya, Minangkabau, karena huru-hara sosial menyusul Agresi Belanda I (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2014/04/07/minang-saisuak-170-lanjumin-gelar-datuak-tumangguang/), Rangkayo Chailan Sjamsoe tetap tinggal di Jakarta dan aktif menyebarkan Bahasa Esperanto di Indonesia. Ia menjadi anggota Universal Esperanto Association (UEA) dan, seperti dapat dikesan dari foto di atas, menyelenggarakan dan mengunjungi berbagai kegiatan dan pertemuan untuk mempopulerkan dan membicarakan‘bahasa dunia’ itu, baik di tingkat nasional maupun internasional (lebih rinci diinformasikan dalam kedua artikel Heidi Goes di atas).

Demikianlah sedikit kisah hidup Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Toemanggoeng, yang meninggal di Jakarta pada 23 November 1962 dalam usia 57 tahun. Adakah peran seorang Rangkayo Chailan Sjamsoe masih terlintas dalam ingatan orang Indonesia masa kini, khususnya di kalangan pejuang hak-hak perempuan? ENTAHLAH! (Sumber foto: koleksi dan kiriman dari Heidi Goes, Gent University, Belgia).

Suryadi – Leiden, Belanda / Harian Singgalang, Minggu 7 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: