Posted by: niadilova | 13/03/2017

PPM#99: Dua ‘perampok’ Padang Ommelanden dipenjara (1927)

Padang 16 April (Aneta). Oléh Landraad telah didjatoehkan hoekoeman pendjara selama hidoep pada doea orang perampok bernama Toekanggadang [Tukang Gadang] dan Boejoenglakang [Buyung Lakang]. Kedoeanja terda’wa memboenoeh seorang sepion bekas Demang di Loeboek Bagaloeng didaérah Ommelanden, Soematera Barat. (J.B.).”

***

Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 32, Tahoen V, 22 April 1927: 526 [Kronik]) tentang pengadilan terhadap dua ‘perampok’ yang biasa beroperasi di daerah pinggiran Padang (Padangsche Ommelanden, daerah Pauah dan sekitarnya) yang bernama Toekanggadang (Tukang Gadang) dan Boejoenglakang (Buyung Lakang) pada sekitar bulan April 1927 Mereka didakwa telah membunuh seorang mantang demang yang menjadi spion Belanda.

Berita ini merefleksikan posisi demang yang menjadi kaki tangan Belanda (mungkin tidak semuanya). Mungkin itulah sebabnya ketika Indonesia mencapai kemerdekaan, disusul dengan revolusi sosial, banyak demang dan anggota familinya pergi meninggalkan kampung halamannya dan ada yang juga lari ke Belanda.

Namun, jauh sebelum itu, di akhir 1920-an, perbalahan antara kamum penghulu yang dekat dengan Belanda ini dengan golongan lainnya dalam masyarakat, terutama yang anti penjajahan, sudah muncul. Selama pemberontakan kaum komunis di Sumatera Barat yang berlangsung singkat, beberapa penghulu yang berafiliasi dengan Belanda ini menjadi sasaran kemarahan rakyat. Mungkin Tukang Gadang dan Buyung Lakang adalah bagian dari golongan yang anti Belanda itu. Mereka yang berani dan sering menganggu keamaan (orde) dicap sebagai ‘perampok’ oleh penguasa kolonial Hindia Belanda.

Si Tukang Gadang dan Buyung Lakang adalah bagian dari tokoh-tokoh ‘perampok’ yang beroperasi di Padangsche Ommelanden. Dalam beberapa nomor selumnya kami sudah menurunkan cerita tentang si Ganjia, si Judin, dan si Patai Rajo Jambi. Kiranya menarik untuk meneliti ‘perbanditan’ di Padang di zaman kolonial ini, seperti dilakukan oleh Margreet van Tijl di kota Batavia (lihat bukunya: Banditry in West Java, 1869-1942, Singapore: NUS Press, 2011).

Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu, 12 Maret 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: