Posted by: niadilova | 02/03/2017

Kilas balik: PERGURUAN TINGGI DI PADANG

img_2320-garuda-no-1225-maret-1951-p-14-15-cOleh: Nuzzy Irwan

BARANGKALI tidak banjak jang menduga pada masa2 sebelum perang Dunia ke II dahulu, bahwa di Sumatera akan bisa terwujud satu Perguruan Tinggi (universiteit). Tetapi sekarang, kesangsian tsb. tidak lagi beralasan sama sekali.

Sedjak udara kemerdekaan berhembus di Nusantara, mulailah tumbuh tjita2 untuk memperbanjak sekolah2, mentjukupi keperluan jang tertjipta dari kehausan peladjar2 jang semakin membanjak djua.

Sebagai tjonto dapat kita adjukan disini, S.M. dan S.M.A. PERMINDO (Perg. Men. Ind.), sebuah sekolah jang diolah mula2 oleh badan partikulir telah diambil oleh Pemerintah dan didjadikan S.M. Negeri, karena semendjak clash ke-2 di Padang belum lagi ada S.M. [Sekolah Menengah] kepunjaan Pemerintah. Kemudian dengan ber-angsur2 kebutuhan2 ini segera dapat ditutup dengan mengadakan S.M. disetiap ibu kota kabupaten.

Kendatipun demikian, kehausan peladjar2 akan peladjaran jang tjukup sempurna serta memuaskan belum lagi terpenuhi sama sekali oleh Pemerintah maupun badan2 partikulir. Ternjata semakin membanjaknja peladjar2 jang mengalir ke Djawa (1949-1950). Alasannja matjam2.

Ada jang merasa ta’ puas dengan peladjran2 jang diberikan disekolah mereka, jang kalau dibandingkan denegan di Djawa masih amat rendah nilai peladjarannja; ada pula jg. karena betul2 karena tidak mendapat tempat dan tentu tidak sedikit jang ke Djawa itu hanja untuk memuaskan hati belaka dengan mengemukakan alasan “pergi sekolah”. Hingga dengan djalan demikian, timbullah berbagai akibat, jaitu sesampainja di Djawa mereka luntang-lantung kian kemari karena djuga ta’ mendapat tempat.

Ketjuali ta’ bersekolah itu, ongkos beaja hiduppun merupakan faktor jang memberati sekali. Sehingga mau tidak mau mereka harus menjerdjunkan dirinja ketengah masjarakat untuk mentjukupi kebutuhan hidup.

Oleh sebab itulah, setelah kita mendengar bahwa di Padang akan didirikan sebuah Perguruan Tinggi (dimulai dgn. Kehakiman), sungguh patut kita sambut [d]engan perasaan jang gembira sekali. Tindakan kedjurusan ini boleh kit hargai benar2. Usaha ini dirantjang menurut inisiatip JAJASAN SRIWIDJAJA, jang baru sadja berumur 3 bulan lamanja. Dan usaha kedjurusan itu kini telah mulai kelihatan.

Gedong tempat kuliah hampir selesai diperbaiki, letaknja didjalan Dipo ditepi pantai sebelah Barat. Sedangkan sumbangan2 jang telah diterima dari 3 kota sadja sedjumlah R 150.000.- , diantaranja R 10.000. dari sepasang penganten Tiong Hwa jang diambil dari bekal uang pesta. Perlu djuga kita terangkan disini bahwa JAJASAN SRIWIDJAJA itu didirikan atas usah Badan Partikulir diketahui oleh Dr. Rasidin, acting Wali Kota Padang.

Diantara sokongan jang lainnja jang bekal diterima, beberapa buah buku2 jang dihadiahkan oleh Presiden, Perdana Menteri Natsir, mr. Assaat dan djuga dari Menteri P.P. & K. dr. Bahder Djihan. Begitu pula Gabungan Pedagang Buku Indonesia di Djakarta menjumbang buku2, dan djuga bersedia memesan buku2 untuk mahasiswa.

Harian Penerangan jg. terbit di Padang antara lain mengabarkan sbb: …..bahwa diwaktu pertemuan antara Dr. Rasidin dengan para terkemuka di Djakarta dikediaman P.M. Natsir sadja sudah dapat terkumpul uang sebanjak R. 78.000,-. Dan sudah pula terbentuk satu Badang Panitya Pembantu Jajasan Sriwidjaja tsb.

Pertemuan dirumah P.M. Natsir itu dimaksud[kan] juga sebagai “bindingsfactor” antara orang2 jang berasal dari Sumatera di Djakarta, dimana selama ini sifat mementingkan “individu” banjak terdapat, dan ini tidak bermaksud membangkitkan sembojan “Sumatra untuk anak Sumatra”. Badan Pembantu Jajasan Sriwidaja itu berdjanji akan mentjukupkan pengumpulan uang sampai djumlah R 100.000.-.

Selandjutnja Harian Penerangan mengabarkan ketika interpiu dgn. Dr. Rasidin jang menerangkan, bahwa Bung Karno mengusulkan kepada beliau untuk menindjau Perguruan Tinggi Pilipina, buat melihat apa2 jang tidak mesti ditjontoj oleh Perg. Tinggi jang bekal berdiri itu. Dengan Prof. Djokosutono beliau membitjarakan bahwa kultur Nasional dimana sadja harus didirikan dan pertumbuhan Perguruan2 Tinggi jg. mendjadi pusat kultur dari masing2 daerah itulah jang mendjadi “overkapping” mentjari antrakkingpunt untuk mendapat kultur Nasional jg. sebenarnja. Disamping itu selain dari kwantiteit, jang mesti didjaga ialah kwaliteit Perguruan Tinggi itu.

Oleh Menteri P.P.&K. didjan{14}djikan akan memberikan beasiswa untuk Perguruan Tinggi ini. Presidium Gadjah Madapun mendjadjikan seorang mahaguru disamping mahaguru2 jang telah bersedia memberikan peladjaran.

Dengan berdirinja sebuah Perguruan Tinggi di Padang, maka dapatlah mahasiswa2 jang kini menuntut peladjaran dipelbagai universiteit di Djawa (jang berasal dari Sumatera) dipindahkan ke Padang. Hal ini bukan sadja mengentengkan ongkos2 akan tetapi djuga bagi jang kurang mampu kesempatan untuk beladjar lebih luas.

Demikianlah, kita sangat berharap jang Perguruan Tinggi Jajasan Sriwidjaja ini bisa lekas dimulai dan mendapat sokongan penuh dari masjarakat hendaknja, untuk kemadjuan Nusa dan Bangsa.

Dan tjita2 para pemuda bisa tertjapai! {15}

***

Sumber: Majalah Garuda, No. 12, 25 Maret 1951: 14-15. Teks disalin sesuai ejaan aslinya, dengan sedikit penambahan pungtuasi dan tambahan beberapa (suku)kata dalam tanda ‘[ ]’ oleh penyalin. Ilustrasi berasal dari teks aslinya (di hlm. 14).

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: