Posted by: niadilova | 12/02/2017

Renung #68: Dansa

sukarnoApa yang terlintas dalam pikiran kebanyakan orang Indonesia jika mendengar kata ‘dansa’? Tentu yang terbayang adalah sepasang manusia berbeda jenis kelamin, sering juga dalam kerumunan chaos, yang meliuk-liukkan tubuh, melekatkan tangan di pinggang pasangan sambil saling mendekatkan dada, mata dan hidung, bergerak berputar-putar sampai mendekati ambang trance.

Kata dansa akan lekas dihubungkan dengan Barat, dengan ras orang putih yang (menganggap dirinya) lebih pintar, yang perilaku hidup mereka harus disikapi dengan hati-hati dan terus-menerus dicurigai, bahkan tak jarang dibenci.

Dansa memang bukan terlahir dari budaya Timur dengan tanahnya yang hangat sepanjang tahun. Ia adalah produk Benua Dingin di utara sana. Ia mungkin tercipta karena tubuh yang memerlukan kehangatan karena hampir setiap hari didera udara sejuk yang bahkan sering membekukan. Bila orang putih memiliki kata ‘dansa’, kita memiliki kata ‘tari’ yang berkonotasi lain. Walau ada tarian yang menampilkan pasangan lelaki-perempuan dan tak kalah erotisnya dibanding dansa, seperti dikenal dalam budaya Jawa misalnya, tapi toh ia tetap terasa berbeda dengan dansa yang asosiatif dengan orang putih itu.

Bila kita membaca koran-koran dan majalah-majalah lama, sering ditemukan berita yang merekam polemik tak berkeruncingan mengenai dansa di Negeri Angin Semilir Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Pada suatu ketika unsur budaya Barat itu diterima, pada saat lain ia ditolak. Pendek kata, masyarakat Indonesia selalu bersikap pro-kontra dalam menyikapi dan memaknai dansa.

Sampai-sampai soal ““dansa” dibitjarakan kjai2 – partai2”, demikian tajuk sebuah berita yang tersua oleh hamba dalam salah satu edisi majalah Siasat yang terbit tahun 1955. Dalam laporan itu dikatakan: “Masalah “dansa” tg 8/9 [1955] malam dibitjarakan dalam pertemuan jang dihadiri oleh wakil2 golongan alim ulama, partai2, organisasi2, wakil2 pemerintah sipil dan militer di Surabaya. // Dalam prea-adviesnja Residen Winarno antaranja menjatakan, bahwa dlm hubungan kebudajaan bangsa Indonesia sendiri pengaruh dansa itu tidak menguntungkan. Sekalipun kita tidak usah “chauvinistis” sbg. bangsa jang berkebudajaan, wadjiblah kebudajaan jang sudah kita miliki sendiri dibina dan dipelihara sebaik2nja. Dari pengaruh asing dapatlah kiranja kita tapis apa jang baik bagi kepentingan nasional kita sadja, jaitu dalam ilmu pengetahuan, tehnik, dsb., demikian Winarno. // Djuga wakil dari Lekra mengutarakan suatu pandangan jang pada hakekatnja menolak dansa itu.”

Laporan majalah Siasat itu memberi kesan bahwa di era 1950an, kelompok-kelompok yang secara idelogis berseberangan (seperti kaum ulama dan golongan Lekra) justru berpandangan sama mengenai dansa. Laku tubuh yang dianggap ‘liar’ itu dipandang ‘berbahaya’ bagi bangsa Indonesia. Layaknya godaan setan, ia diyakini bisa memberi pengaruh buruk dan “tidak menguntungkan” kepada pribadi dan masyarakat Indonesia. Keadaannya berbeda dengan zaman sekarang dimana kaum ulama sering dituduh ‘perbandangan sempit’ bila menanggapi ancaman (budaya dan politik) asing yang dianggap dapat membahayakan identitas nasional dan merusak bangsa Indonesia.

siasat-th-ke-ix-no-396-9-januari-1955p-15

Bacalah karya-karya sastra yang agak bernuansa pop yang terbit pada tahun 1940an dan 1950an dan juga yang terbit pada dekade-dekade sebelumnya. Dalam karya-karya itu pembaca acap kali disuguhi cerita tentang wira yang hidupnya jadi kacau-balau karena pengaruh dansa dan unsur budaya modern lainnya yang datang dari Benua Utara.

Di dalam banyak roman seperti itu sering digambarkan tokoh-tokoh antagonis perempuan pedansa, perokok, dan menyukai kehidupan malam. Mereka menyeret tokoh utama (protagonis) ke jalan hidup yang salah. Cerita roman-roman seperti itu sering berakhir dengan sad ending: para protagonisnya hidup sengsara atau mati dalam keadaan menjadi Timur tidak Barat pun bukan. Pengarang menyisipkan pesan moral: awas bahaya dansa! Ingat efek buruk budaya Barat! Mungkin dari karya sastra zaman itulah muncul istilah ‘dansadansi’. Kata itu cenderung diasosiasikan dengan wanita yang dianggap ketularan budaya Barat, lupa identitas ketimurannya, dan sering dianggap ‘berbahaya’ bagi kaum laki-laki.

Akan tetapi, terhadap dansa(-dansi), orang Indonesia seperti ‘tobat’ makan sambal cabe: takut kepedasan tapi berulang kali dicicipi juga. Kita pernah punya presiden yang mengeritik budaya Barat, tapi bila bertemu perempuan-perempuan cantik ia segera mengajak mereka berdansa. Banyak elit politik kita menjadi penggila dansa. Tapi usai berdansa-dansi, mereka cepat dan tangkas mengingatkan rakyat agar menjauhinya.

Sampai kini, dansa dalam masyarakat kita tetap seperti teman selingkuh: ia dirindukan, tapi sedapat mungkin jangan sampai diketahui publik. Ia hanya dapat ditemukan di kafe-kafe malam yang dijaga body guard atau di gedung-gedung mewah yang tertutup dan penuh rahasia, tempat berkumpulnya kelas elit berkantong tebal, mirip dengan rumah bola di zaman kolonial.

Dansa menjadi penanda antara ‘orang modern’ dan yang tidak, antara kelas atas dan kelas kawula. Ia memerlukan seperangkat penanda – baju mewah, parfum, minuman yang mengandung alkohol, arloji bermerek, bunyi musik, dekorasi interior gedung, dan lain sebagainya – jika tidak ingin jatuh pamor menjadi sekedar ngibing.

Bagi orang Indonesia yang tinggal di Eropa, dansa juga menjadi semacam penanda keberhasilan ‘berintegrasi’ dengan budaya Barat, menghasilkan perempuan dan lelaki Timur yang mencoba bersalin rupa dan bertukar identitas.

Tapi tidak semua orang Indonesia seperti itu. Masih ada yang tetap menjaga identitas ketimurannya. Hampir dua dekade saya tinggal di Eropa, belum sekalipun saya berdansa. Bukan saya tidak mau dan tidak ingin, tapi lebih karena saya merasa tulang kaki dan tulang pinggang tradisional saya, yang dibikin di sebuah kampung di Sumatera sana, sama sekali tak cocok untuk aksi meliuk-lipatkan tubuh dan berputar-putar kencang bagai gasing tengkorak itu.

Leiden, saat salju turun, 11 Februari 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: