Posted by: niadilova | 26/01/2017

Renung #67 – ‘Om…telolet Om!’ dan ‘hipnotis’ suara modern

om-telolet-omOrang Indonesia tidak berhenti ‘didera’ oleh suara modern (modern sound) atau suara mekanik (mechanical sound). Mereka menikmatinya dalam kegelisahan dan pikiran yang berpirau. Nenek moyang kita telah mengalaminya sejak hari-hari pertama teknologi reproduksi suara berupa phonoraph dan radio memasuki tanah Jawa di tahun 1880an. Mereka kagum kepada orang putih yang menciptakan alat-alat itu dan mengakui secara diam-diam supremasi bangsa berhidung mancung dari Benua Dingin itu. Ketika pertama kali mendengarkan ‘suara modern’ dalam phonograf, seorang Jawa menulis dalam koran Primbon Soerabaia edisi 25 Agustus 1902: “Londo gaweannee werna werni, pienteranee oradjamak”.

Masih di sekitar pergantian abad itu, seperti digambarkan oleh Jan Fabricius dalam bukunya Tempo doeloe: uit de goeie ouwe tijd (Den Haag: Leopold, 1949:185), seorang jongos Jawa yang menerima panggilan telepon dari tuan putihnya membungkuk di hadapan pesawat telepon sebelum ia mengangkat gagangnya, seolah-olah tuan putih tinggi-gemuk-bergarambeh, mister-nya, berdiri di hadapannya dengan suara berat-lantang yang bernada memerintah (lihat gambar).

sddff

Tak jarang pada masa itu, dan…lihatlah…bahkan sampai sekarang, suara modern atau suara mekanik acap kali menimbulkan masalah di negeri ini. Di bulan Mei 1892, Prof. Douglas Archibad yang berasal dari Inggris menonjok wajah Pemimpin Redaksi Soerabaija-Courant  H.E. Eijssel di kantornya di Jalan Kali Asin No. 429 Surabaya karena ia mengolok-olok sang profesor menyusul pertunjukan phonografnya yang gagal di depan orang-orang penting dan terhormat di schouwburg Surabaya. Kasus itu dibawa ke pengadilan, dan berminggu-minggu lamanya professor yang datang dari London itu menjadi bulan-bulanan dalam berita koran-koran di Jawa, sehingga ia terpaksa meninggalkan Hindia Belanda secepatnya karena merasa dipermalukan.

Persoalan si pribumi dengan suara modern berlanjut ketika kitab suci umat Islam AlQuran mulai direkam dalam piringan hitam sekitar tahun 1900 dan diputar dengan ‘mesin bitjara’ untuk diperdengarkan di depan umum. Seorang Arab di Batavia rupanya sudah berkeliling Jawa dengan rekaman AlQuran dan mesin ajaib itu untuk mencari uang dengan cara mempertunjukkannya dari pekan ke pekan di mana pendengar dipungut bayaran. Kontan saja, kaum muslim Nusantara pun tergagap dengan kemunculan fenomena ini. Mereka bertanya kepada para ulama apa hukumnya mendengarkan rekaman Al-Quran yang direkam dalam mesin buatan orang kafir itu.

Karena desakan pertanyaan dari umat Islam di Hindia Belanda dan Negeri-Negeri Selat, Sayyid Uthman, ulama kharismatik di Batavia, dan Syekh Al Zawawi, ulama Arab yang terpaksa mengungsi ke Negeri Melayu karena dimusuhi di negeri asalnya Saudi Arabia, harus bertanya kepada rekan-rekan dan patron mereka di Kairo dan Damaskus terlebih dahulu sebelum mengeluarkan fatwa mengenai berdosa atau tidaknya umat Islam Melayu-Nusantara mendengarkan rekaman Al-Quran dalam piringan hitam. Hal itu dicatat oleh C. Snouck Hurgronje dalam artikelnya, ‘Islam und phonograph’, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 42 (1900): 393-427.

Sepanjang zaman, tampaknya suara modern atau suara mekanik selalu menimbulkan ‘masalah’ di negeri ini. Jika di awal abad 20, Pemerintah Kolonial Inggris di Singapura dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Padang pernah mengeluarkan peraturan untuk melarang orang membunyikan gramophone setelah jam 9 malam (lihat: Sinar Sumatra, 19 Desember 1939), maka pada hari ini penguasa juga merasa risih mendengar suara azan yang dikumandangkan dari mesjid dengan memakai mikrofon.

Walaupun demikian,suara modern atau suara mekanik yang acap kali menimbulkan iritasi itu, tetap disukai, menjadi atraksi dan telah terintegrasi ke dalam soundscape kota-kota Indonesia, bahkan juga sampai ke wilayah pedesaan. Ingatlah ‘bius’ bunyi radio di Hindia Belanda dan Hindia Inggris di tahun 1930an dan 40an, sebagaimana terefleksi dalam banyak roman Indonesia yang terbit semasa. (Mengenai hal ini saya menulis sedikit dalam: Suryadi, ‘The image of radio technology in modern Indonesian literature’, dalam: Lalita Sinha (ed.), Rainbow of Malay literature and beyond: festschrift in honour of Professor Dato’ Dr. Md. Salleh Yaapar, pp. 124-160. Penang: USM Press, 2011).

Sekarang, muncul istilah “Om telolet Om!” yang menjadi viral di media sosial. Yang kita lihat adalah: anak-anak kecil dan kadang-kadang juga para bujang tanggung yang iseng berdiri di pinggir-pinggir jalan (mudah-mudahan tak lupa pergi sekolah), baik siang maupum malam hari, yang meminta para sopir bus membunyikan klakson busnya secara berirama. Mungkinkah ini semacam ‘klep’ katarsis sementara dalam menghadapi sulitnya kehidupan? Entahlah!

Akan tetapi ketika saya melihat postingan-postingan “Om teolet Om!’ di YouTube, saya teringat dengan fenomena ‘kalason oto Gumarang’ yang justru lebih mendayu-dayu dan juga ‘viral’ di Minangkabau dan sekitarnya di tahun 1980an. Sebagaimana disebut oleh etnomusikolog Marc Perlman dalam makalahnya ‘Music technology and cultural memory’ yang dipresentasikan dalam The International Conference on Performance and Mediatization di Universiteit Leiden (1-5 December 1998), yang membicarakan fenomena ‘kalason oto Gumarang’ ini, bunyi klason bus-bus yang membawa pergi dan pulang para perantau Minang ke dan dari rantau pada masa itu, menjadi semacam ‘simbol’ budaya dan ‘tali emosi’ bagi para perantau Minang untuk selalu mengingat ranah bunda dan tempat mandi yang dirindukannya, yang pada suatu saat, jika sudah berhasil di rantau, wajib untuk dikunjungi, baik dengan cara sendiri-sendiri maupun dengan cara ‘pulang basamo’.

Saya masih ingat, di masa kecil saya, ketika mendengar ‘kalason oto Gumarang’ yang mendayu-dayu itu, yang komposisinya didasarkan atas bunyi musik Minangkabau,  pikiran saya langsung dikaitkan dengan perasaan bahwa ada orang yang pulang dari rantau atau, sebaliknya, ada yang akan pergi lagi ke rantau, meninggalkan kampung halaman yang (makin) lengang. Menurut perasaan saya, fenomena “kalason oto Gumarang” jauh lebih dahsyat dibanding fenomena “Om telolet Om!” Tapi mungkin saya sedang bernostalgia.

Yang jelas, ‘hipnotis’ suara modern atau suara mekanik berupa klakson bus  kini merebak lagi. Dulu orang-orang di Minangkabau galau oleh kalason oto Gumarang, kini orang-orang di Jawa heboh oleh suara klason bus-bus antar kota.

“Om telolet Om!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: