Posted by: niadilova | 23/01/2017

Minang saisuak #289: Sjamsudin Sjafei: Bos Grup Sandiwara ‘Ratu Asia’ yang berdarah Minang

img_4964a-sjamsudin-sjafei-merdeka-th-iv-no-16-21-april-1951-p-13

“Sjamsudin Sjafei, di Sumatera tak ada bandingannja”, demikian tertulis di bawah foto ini dalam sumber aslinya. Hal itu memang tidak berlebihan. Sjamsudin adalah pemimpin grup sandiwara ‘Ratu Asia’ asal Sumatera yang sangat terkenal di Indonesia pada tahun 1940an dan 1950an. ‘Ratu Asia’ pernah pula mentas di Jakarta dan pemainnya seperti Hasnah Tahar pernah direkam dalam piringan hitam oleh Irama Records di Jakarta di awal 1950an.

Sjamsudin Safei (juga ditulis Sjamsuddin Sjafei atau Sjamsudin Sjaffei) lahir di Kutaradja pada 15 Mei 1915 dari seorang ayah yang berasal dari Minangkabau dan ibu dari Tamiang, Aceh Timur. Pendidikan: MULO Gubernemen Klas II, Taman Siswa Bahagian Taman Dewasa, INS Kayu Tanam. Mulai tertarik dengan sandiwara karena sering menonton grup ‘Dardanella’ dan ‘Balero’. Tahun 1936 mendirikan grup tonil ‘Diamond Star’ di Kutaradja. Tahun 1942 mendirikan grup sandiwara ‘Pudji Yama’ yang kemudian dibubarkan oleh Jepang karena alasan politis. Pada masa itu ia juga aktif menulis dan menjadi bagian dari pengarang-pengarang ‘roman Medan’/’roman Sumatera’. Karangan-karangan sastranya antara lain adalah Darah Atjeh dan Siloengkang 1926.

Tahun 1943, bersama Zubir Said mulai memimpin grup sandiwara ‘Ratu Asia’ yang didirikan oleh Leman Sutan Kayo dan kawan-kawan di Padang Panjang. Sjamsudin mengelola ‘Ratu Asia’ bersama teman-temannya: Chaidir Shakti, J. Taharuddin, B. Shambudha, Basjudin Kekek, dan Zubir Said. (Belakangan Zubir hijrah ke Singapura dan menjadi terkenal sebagai pencipta lagu kebangsaan negara itu). Tahun 1945, Sjmasudin dikejar-kejar tentara Iggris yang membantu Belanda karena membangkitkan semangat revolusi melalui pertunjukan-pertunjukan sandiwaranya.

Tahun 1946-1948 Sjamsudin memimpin ‘Ratu Asia’di daerah Sumatera Selatan, menjadi staf Divisi VIII dengan pangkat letnan, dan ditugaskan di bagian dari Jawatan Penerangan divisi itu. Tahun 1948 ditugasi memberikan propaganda di daerah Sumatera Selatan, kemudian mengadakan long march ke Bukittinggi (November 1948).

Selama Agresi Belanda II, Ratu Asia bergabung dengan Jawatan Penerangan dalam dinan ketentaraan kita di Sumatera Tengah.  Selama 8 tahun Sjamsudin aktif bermain sandiwara dan mengakhodai ‘Ratu Asia’. Beberapa berita seputar ‘Ratu Asia’ dan Sjamsudin dapat dilihat dalam: https://seputarteater.wordpress.com/2015/09/21/aneka-1951-sosok-sjamsuddin-sjafei-pimpinan-sandiwara-ratu-asia/ (dikunjungi: 21-12-2016).

Pada bulan April 1951, media yang menjadi sumber foto ini menulis bahwa Sjamsudin dengan ‘Ratu Asia’-nya baru sampai di Jakarta “setelah mengedari pulau Andalas dari Utara sampai Selatan.” Dikatakan pula: “Dia adalah seorang pengarang tjerita sandiwara jang sangat produktif. Selama 8 tahun ia telah menulis dan mempertunjukkan 75 buah tjeritera. Diapun seorang regisseur dan pemain ulung jang tidak ada bandingannja.” Di Jakarta pada waktu itu, Sjamsudin juga akan ikut menjadi pemeran utama dalam film Darah untuk Kemerdekaan produks Persari dengan skenario cerita dari Sjamsudin sendiri.

Sampai 1980-an kelihatannya Sjamsudin masih aktif di dunia kebudayaan. Ia menjadi aktor dalam beberapa film yang dibuat dalam dekade itu, seperti Jaka Sembung, Bergola Ijo, Midah Perawan Buronan, dan Sangkuriang. (Sumber foto: Merdeka: Berita Mingguan untuk Indonesia, No. 16, Th. IV, 21 April 1951: 13)

Suryadi – Leiden University, Belanda / Singgalang, Minggu, 22 Januari 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: