Posted by: niadilova | 08/01/2017

Minang Saisuak #287: Putra Minang Abubakar Jacub, 1925

abubakar-jacub-1925-pp-43-th-iii-9-juni-1925-p-707

Inilah foto putra Minangkabau Abubakar Jakub ketika masih muda. Dia adalah anak “engkoe Soetan Andjoeng, Schoolopziener Fort de Kock.” “Aboebakar Jacoeb”, demikian namanya tertulis dalam ejaan lama, lulus dalam “oedjian Governments Landmaster” yang diadakan dari tanggal 4 sampai 20 Mei 1925.

Abubakar Jakub tamat dari H.I.S. di Fort de Kock, sebelum melanjutkan studinya ke Jawa. Lulusnya Abubakar dalam ujian yang disebutkan di atas memberi kesempatan kepadanya untuk bersekolah di Voorbereidende Afdeeling Landbouwschool di Buitenzorg (sekarang: Bogor). Tapi sekolah itu kemudian ditutup (dihapuskan), dan Abubakar terpaksa pindah sekolah ke K.W.S. Afdeeling Bouwkunde di Weltevreden. Dia tamat dari sekolah itu pada tahun 1924 dan berada di peringkat nomor satu.

Setelah mengantongi ijazah K.W.S., Abubakar bekerja selama lebih kurang 19 tahun. Tapi karena usianya masih muda, ia masih berminat mencari diploma yang lebih tinggi. Maka “beroesahalah ia menambah peladjarannja dengan radjin beladjar sendiri di Weltevreden dan atas pimpinan seorang dari goeroenja, t. h. Leroux”, cita-citanya akhirnya kesampaian: ia lulus dalam “oedjian Landmeter” pada pada bulan Mei 1925. Itu adalah sebuah prestasi yang mengesankan, karena “pada galibnja oedjian Landmeter itoe hanja [dapat] ditempoeh oléh orang-orang jang telah tammat beladjar di H.B.S. 5 tahoen.”

Belum puas dengan capaian itu, Abubakar “akan melandjoetkan poela peladjarannja goena menempoeh oedjian Langeracte Wiskunde”.

Kisah Abubakar Jakub menggambarkan gairah intelektualisme di kalangan orang Minangkabau di awal abad ke-20. Banyak anak-anak muda seperti Abubakar Jakub yang menuntut ilmu di sekolah-sekolah sekuler, dan mereka disokong oleh mamak-mamak dan orang kampung mereka. Hal itulah yang menyebabkan Minangkabau lebih dulu mencapai kemajuan dibanding daerah-daerah lain di Hindia Belanda pada zaman kolonial.

Belum diketahui lebih lengkap riwayat hidup Abubakar Jakub. Juga masih kurang jelas apakah ia bersaudara dengan Nurdin Jakub, salah seorang sastrawan Minang di tahun 1950an. Semoga ada scholar yang melanjutkan cerita ini. (Sumber foto: Majalah Pandji Poestaka, No. 43, TAHOEN III, 9 JUNI 1925: 707 [kiriman M. Dt. G.E.]).

Suryadi – Leiden University, Belanda/ Harian Singgalang, Minggu 8 Januari 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: