Posted by: niadilova | 30/12/2016

Misteri Orang Pendek (Leco) di Rimba Raya Sumatera

fb3861945eb448a71de5b345a15aaec9_minang-saisuak-minggu-9-agustus-2015-orang-pendek

Bagi orang Indonesia hutan rimba adalah tempat yang angker dan penuh misteri. Di Sumatera, misalnya, orang percaya bahwa hutan rimba dihuni berbagai-bagai kekuatan, baik yang tampak maupun yang tak tampak (gaib). Pohon-pohon besar dipercayai memiliki ‘penghuni’ yang disebut jihin. Beberapa orang yang hilang atau tersesat dalam perjalanan di hutan dipercayai telah dibawa oleh ‘penunggu’ hutan yang bernama si bunian lantaran melakukan sesuatu yang terlarang ketika berada di dalam hutan.

Foto 1: Seorang penduduk lokal Sumatera dengan kerangka orang pendek, 1932 (Sumber: Pandji Poestaka, No.52, Tahoen X, 28 Juni 1932: 808 [SerbaSerbi])

Harimau merupakan salah satu jenis binatang hutan yang sering dihubungkan pula dengan arwah nenek moyang atau orang sakti yang sudah meninggal. Oleh sebab itu binatang ini sering dipanggil dengan sebutan ‘nenek’ atau ‘inyiak’ (kakek). Barangkali ini merupakan warisan dari kepercayaan Hindu-Budha tentang reinkarnasi. Ada juga kepercayaan tentang harimau jadi-jadian yang oleh orang Sumatera disebut cindaku (atau cinaku). Tentang hubungan manusia dengan harimau di Sumatera, kita ingat buku yang ditulis mantan Asisten Residen Padang Darat, Sumatra’s Westkust, L.C. Westenenk yang berjudul Waar mens en tijgers buren zijn (‘Di mana manusia dan harimau bertetangga’) (Den Haag: Leopold, 1927). Berbagai mistik yang menyangkut harimau dalam kepercayaan orang Sumatera dapat pula dikesan dalam novel Mochtar Lubis Harimau! Harimau! (Jakarta: Pustaka Jaya, 1975).

Satu jenis makhluk hutan Sumatera lain yang benar-benar (pernah) ada adalah orang pendek.  Barangkali orang sekarang sudah jarang mendengar nama makhluk ini. Namun, di beberapa tempat masih banyak orang yang mengenal cerita tentang orang pendek yang tinggal di hutan-hutan tropis pulau yang lebat dan merimba raya itu. Di Kerinci, misalnya, penduduk lokal masih percaya bahwa masih ada orang pendek yang hidup di hutan-hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Orang pendek bukan orang-orang rimba Sumatera, seperti orang Kubu, Sakai, Petalangan, Akit, Bonai, dan Talang Mamak, yaitu kelompok-kelompok manusia yang dipercayai sebagai orang Sumatera Asli (proto Melayu) yang menyingkir ke hutan-hutan di pedalaman Sumatera karena terdesak oleh kelompok Melayu muda yang datang dari daratan Asia.

Di Sumatera Barat, misalnya, orang juga mengenal sejenis makhluk penghuni hutan yang diberi nama bigau (biasa disebut ‘si bigau’). Akan tetapi ini adalah makhluk yang berbeda dengan orang pendek yang disebut juga leco (ejaan lama: ‘letjo’).

Tentang bigau, cerita turun-temurun yang sering kita dengar adalah bahwa, berbeda dengan manusia biasa, makhluk ini memiliki tumit yang menghadap ke depan. Oleh sebab itu bigau dapat berlari kencang dan susah bagi manusia untuk menangkapnya. Lagipula, ia memiliki indera penciuman yang tajam. Kepercayaan orang Sumatera, dalam konteks ini Minangkabau, terhadap si bigau terefleksi dalam cerpen Damhuri Muhammad “Bigau” (Kompas, 12 Agustus 2007). Si bigau dipercayai suka memelihara babi hutan (kondiak) dan lebih dipandang sebagai makhluk gaib. Orang-orang yang berilmu hitam sering dapat berhubungan dengan si bigau karena mereka dapat minta bantuak kesaktian darinya.

Tentang orang pendek atau leco, sebagian penduduk lokal di Sumatera menganggapnya sebagai sejenis makhluk setengah manusia, tapi sebagian lain menganggapnya sebagai sejenis binatang. Ukurannya benar-benar pendek. Pengukuran yang dilakukan terhadap kerangka anak orang pendek yang ditangkap tahun 1932 di Pasirpangarayan, Riau, menunjukkan bahwa tingginya  lebih kurang 42 cm. saja (Pandji Poestaka, No. 49, Tahoen X, 17 Juni 1932, hlm.758 [SerbaSerbi]).

Dalam laporan majalah Pandji Poestaka No. 49, Tahoen X, 17 Juni 1932, hlm. 758 [SerbaSerbi] di atas juga disebutkan (kursif oleh Suryadi, juga kutipan-kutipan selanjutnya):

Letjo itoe sebangsa machloek jang sangat hampir kepada manoesia, boléh dikatakan setengah manoesia. [T]elah lama petjah schabar dionderafdeeling Rokan, orang diatjoe-atjoekan mentjari binatang itoe. Barang siapa mendapat, konon dapat hadiah dari perserikatan orang-orang ber’ilmoe dinegeri België. Pada hari Djoemaa’at tanggal 27 Mei 1932 Zelfsbetuurder dari Landschap Rokan IV kota, memberi chabar kepada toean Gezaghebber di Pasirpangaraijan, bahasa ditengah hoetan dalam loehak Rokan IV kota, seorang pemboeroe telah beroentoeng dapat menémbak seékor “létjo”. Létjo itoe tengah memangkoe anaknja, tetapi peloeroe itoe hanja dapat memboenoeh anak létjo itoe sahadja, laloe mati pada ketika itoe djoega; sedang indoeknja itoe menjelinap hilang masoek hoetan.

Rupanya dulu orang pendek ini cukup sering ditemukan di daerah Pasirpangarayan, hulu Sungai Rokan. Selain di tempat itu, makhluk ini juga sering terlihat oleh orang perimba di hutan-hutan di daerah Kerinci. Junaidi alias Jon Kobet, seorang peneliti dari Riau mengatakan bahwa tahun 1950-an ada leco yang tertangkap orang di Pasirpangarayan. Akan tetapi sekitar dua dekade sebelumnya, juga sudah ada jenis makhluk ini yang tertangkap di daerah itu, seperti dilaporkan majalah Pandji Poestaka, No. 44, Tahoen X, 31 Mei 1932, hlm.686 [Kroniek]:

     Orang pendék. Sum[atra] Post mendengar kabar bahwa oléh gewestelijk bestuur diterima kabar dari radja di Rokan bahasa didaérah Rokan terdapat orang pendék, jang telah lama ditjari orang itoe.
     Seorang pemboeroe telah dapat menangkap orang pendék perempoean jang beloem déwasa. Orangpoen mentjari teroes orang pendék lainnja.

Majalah Pandji Poestaka, No. 45, Tahoen X, 3 Juni 1931, hlm.701 [Kroniek] melanjutkan laporan penangkapan terhadap orang pendek itu:

     Orang pendék. Tentang penangkapan orang pendék itoe, lebih landjoet Sum[atra] Post mendengar kabar bahwa waktoe mengadakan perdjalanan commissie controleur Pasir Pengaraian mendengar dari toekang mentjahari roetan dan atap bahwa meréka telah beberapa kali berdjoempa dengan orang pendék.
     Kabar dari toekang mentjari rotan atap itoe ada dibenarkan oléh radja di Rokan, jang djoega telah melihat orang pendék itoe. Oléh controleur itoe laloe diperintahkan oentoek menangkap orang pendék itoe mati atau hidoep. Orang-orang Radja tadipoen laloe memboeroe orang pendék perempoean dengan anaknja. Anaknja tertangkap mati dan ema’nja jang loeka sedikit karena ditémbak bisa melarikan diri.

Selanjutnya, Pandji Poestaka, No. 46, Tahoen X, 7 Juni 1931, hlm.717 [Kroniek] menyebutkan:

     Orang pendék. S. P. [Sumatra Post] mendapat kabar, bahwa controleur di Pasirpangaraian telah memberitakan kepada pemerintah gewest sebaga berikoet:
     Koelitnja orang pendék dan kerangkanja tjoekoep semoea. Pandjangnja 43 cm. dan dibawa kekantor sadja. Koelit itoe tadi tidak ditoemboehi oléh boeloe dan warna ramboetnja seperti aboe.
     Menoeroet pandangan saja kerangka badan itoe ta’ [ada] bédanja dengan kerangka badan manoesia biasa. Djoega didapati beberapa gigi jang soedah toemboeh.
     Rangka badan itoe akan dikirimkan kepada Soologisch Museum di Bogor.

Rupanya penghuni rimba raya Sumatera yang disebut orang pendek ini sudah sejak awal abad 20 menarik perhatian dunia ilmu pengetahuan Barat. Hal ini memicu perburuan terhadap makhluk ini. Media melaporkan bahwa beberapa ilmuwan Eropa (antara lain dari Belgia) berkeinginan memperoleh contoh makhluk ini untuk dijadikan objek penelitian. Bahkan perserikatan ilmuwan Belgia berani membayar “seratoes riboe roepiah” dan “[l]ebih jaoeh gedoeng artja [museum] di Amérika soeka membeli benda [tubuh orang pendek] itoe semilioen dollar” (Pandji Poestaka, No. 49, Tahoen X, 17 Juni 1932, hlm.758 [SerbaSerbi]. Beberapa laporan tentang makhluk ini juga sudah ditulis oleh orang Eropa (lihat: Robert Cribb, “Nature Conservatism and Cultural Preservation in Convergence: Orang Pendek and Papuan in Colonial Indonesia”, dalam Stella Borg Barthet (ed.), A Sea for Encounters: Essays towards a Postcolonial Commonwealth, Amsterdam – New York, NY: Rodopi, 2009: 223-242).

Iming-iming uang yang begitu besar yang dijanjikan oleh ilmuwan Eropa telah menyebabkan banyak penduduk lokal di Sumatera melakukan perburuan terhadap orang pendek ini. Karena dikhawatirkan akan dapat mengancam kelangsungan hidup makhluk ini, maka otoritas Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melarang melanjutkan perburuan terhadapnya. Pandji Poestaka No. 48, Tahoen X, 14 Juni 1932, hlm.749 [Kroniek] menulis:

Memboeroe “Orang Pendék” diperhentikan. Deli Crt. [Courant] mewartakan bahwa Goebernoer Soematera Timoer telah memerintahkan pada Controleur didaérah Rokan soepaja oesaha memboeroe “Orang pendék” itoe diperhentikan; menoenggoe dahoeloe akan hasil pemeriksaan”.

1ee58c32387af32708c3a41cba746737_suryadi-orang-pendek-kw

Foto 2: Kerangka (tampak depan dan samping) dan kulit seorang anak leco (± 42 cm.) yang ditembak oleh pemburu di Pasirpangarayan, Juni 1932 (Pandji Poestaka, No. 49, Tahoen X, 17 Juni 1932, hlm.758 (SerbaSerbi)).

Jadi, rupanya kalangan ilmuwan Eropa sudah lama mencoba mendapatkan makhluk yang disebut leco ini untuk kepentingan penyelidikan ilmiah. Mereka ingin mengetahui apakah penelitian terhadap makhluk ini dapat mengungkap missing link  (rantai yang hilang) dalam evolusi perkembangan makhluk manusia yang sejak Charles Darwin mengemukakan teorinya sampai kini masih menjadi pertanyaan besar di kalangan ilmuwan.

     Menoeroet tjerita-tjerita jang disampaikan kepada orang kampoeng, ialah akan memboektikan dan menjempoernakan keinginan hati sebahagian dari ahli-ahli ‘ilmoe pengetahuan jang menaroeh kejakinan, bahasa manoesia ini asalnja dari binatang. Maka létjo itoelah satoe djendjang jang akan dipergoenakannja djadi soeloeh penerangi ‘ilmoe orang pandai-pandai itoe.
      Rasanja dengan mendapat binatang, jang telah lama diidam-idam oléh ahli-ahli ditanah Éropah itoe, akan bergoentjang ‘ilmoe pengetahoean tentang asal oesoel manoesia itoe. Kita menanti! (Pandji Poestaka, No. 49, Tahoen X, 17 Juni 1932, hlm.758 [SerbaSerbi].

Keingintahuan ilmuwan Eropa yang begitu tinggi terhadap makhluk yang belum banyak diketahui ini terus berlanjut. Beberapa tahun lalu pernah diadakan sebuah workshop ilmiah di Universiteit Leiden yang khusus membahas jenis-jenis makhluk seperti ini, tidak hanya yang tubuhnya berukuran kecil tapi juga yang berukuran besar, yang rupanya ditemukan pula di beberapa tempat lainnya di dunia ini, seperti Yeti di Himalaya dan makhluk yang dianggap memiliki ciri yang sama yang konon juga pernah terlihat oleh penduduk lokal di hutan-hutan Semenanjung Malaysia.

Keadaannya berbeda dengan di Tanah Air sendiri. Leco, bigau, anak ote atau anak ghoteh sering dihubungkan dengan hal-hal gaib, mistis, dan kesaktian rimba raya. Sampai sekarang ilmuwan Barat masih terus ‘memburu’ orang pendek ini, seperti antara lain dapat dikesan dalam video ini: https://www.youtube.com/watch?v=I_LStrhLkkc.

Tampaknya para antropolog dan zoolog kita tidak begitu tertarik meneliti leco ini karena pikiran mereka disungkup kuat oleh kosmologi lokal yang percaya kepada tahayul, mistik, dan adanya makhluk-makhluk gaib. Makhluk-makhluk penghuni hutan seperti leco dan si bigau dianggap bagian dari kesaktian hutan rimba. Salah-salah, kalau terlalu ingin tahu tentang mereka, bisa membahayakan si peneliti sendiri. Juga sudah menjadi bagian dari cerita umum bahwa rimba raya Sumatera adalah wilayah kerajaan para bunian. Seorang yang menyebutkan namanya yang menulis dalam majalah Pandji Poestaka menyebutkan tentang adanya satu penelitian oleh seorang ilmuwan Jerman mengenai kepercayaan orang Sumatera ini:

Pendapat satoe prof. Duitsch
Satu prof. Duitsch [Jerman], yang menyelidiki keadaan-keadaan ajaib di Sumatera pernah menerangkan bahwa sesudah diselidikinya betul-betul, orang mesti tarok percaya juga atas kepercayaan anak negeri itu, dan itu stillekracht [kekuatan gaib] katanya, ada[lah] satu wetenschap [pengetahuan] dari Sumatera, yang belum begitu diketahui oleh ahli wetenschap di Barat.
       Bermula juga katanya, ia beranggapan yang itu semua kejadian ada sebagai “verschijnsel” [gejala], sebab katanya sudah pernah diperiksa batok kepalanya seorang manusia dari Sumatera Barat, yang mempunyai ilmu di waktu hidupnya, di mana orang dapat tahu bahwa otaknya ada luar biasa beratnya, dan tahan kuat buat berpikir hal-hal yang sulit.
       Di dalam otak [orang] itu ada semacam “zat” yang jarang didapati pada manusia biasa, ingatannya amat terang, dan mudah sekali buat dididik orang serupa ini buat mempelajari filosofi.
       Bahwa segala ini kejadian-kejadian bisa didapat hanya di orang-orang yang tempatnya dekat garisan equator, prof. itu juga percaya, sebab katanya di tanah Afrika juga terdapat ahli-ahli ilmu sihir, di tempat-tempat yang dekat equator, dan begitu juga di Amerika [Latin] (Anon., “Dari hal ‘tjindakoe’ dan ‘palasik’ jang ditakoeti orang di Soematera”, Pandji Poestaka, No. 22, Tahoen X, 15 Maart 1932: 345 [SerbaSerbi]).

Demikianlah sedikit rangkuman cerita mengenai orang pendek (leco) yang hidup di rimba-rimba saya Sumatera yang sampai kini masih diliputi misteri. Mungkin misteri tentang leco akan tetap menjadi bagian dari cerita yang tak terjelaskan dalam lingkungan budaya masyarakat kita.

Sumber foto: Foto 1: Pandji Poestaka, No.52, Tahoen X, 28 Juni 1932: 808 [SerbaSerbi]; Foto 2: Pandji Poestaka, No. 49, Tahoen X, 17 Juni 1932, hlm.758 [SerbaSerbi].

Dr. Suryadi, MA. | Staf pengajar Department of South and Southeast Asian Studies Institute for Area Studies, Universiteit Leiden, Belanda

(http://www.universiteitleiden.nl/en/staffmembers/surya-suryadi)

(https://niadilova.wordpress.com/)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: