Posted by: niadilova | 24/12/2016

Mengenang Silas Papare: Sang Republiken dari Papua

img_9582-a

Silas Papare, 1949 (Sumber: Madjalah Merdeka, No.45, Th. II, 5 Nopember 1949: sampul depan)

Konflik kepentingan yang makin meruncing di Papua, khususnya soal pengelolaan SDA, yang berdampak kepada banyak aspek lain dalam ranah sosial dan politik, termasuk soal HAM, telah membuat orang lupa terhadap perjuangan masyarakat Papua membebaskan dirinya dari penjajahan Belanda untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Esai ini hendak mengingatkan kita sejenak kepada perjuangan Silas Papare, putra asli Papua yang telah menyuntikkan darah nasionalisme Indonesia dalam urat nadi bangsa Papua.

Pendiri PKII (1946)

Sejarah telah mencatat, walau sering dilupakan oleh generasi kini yang acap kali mengalami amnesia sejarah dan penguasanya yang cenderung memalsukan sejarah bahwa Silas Papare adalah pemimpin utama Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) yang didirikannya bersama beberapa orang sahabatnya di Serui pada tahun 1946, ujung tombak pengobar nasionalisme Indonesia di Tanah Papua. Di bawah ancaman Belanda, aktivitas PKII dinyatakan ilegal. Akan tetapi Silas dan kawan-kawannya terus berjuang di bawah tanah, membuat PKII makin populer di kalangan rakyat Papua. Pada tahun 1949 PKII tercatat memiliki anggota 4000 orang.

Pihak Belanda selalu menonjolkan tokoh-tokoh boneka binaannya, seperti Johan Ariks, Jouwe, dll., juga selama berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, 23 Agustus – 2 November 1949. Belanda menutup rapat-rapat segala informasi yang terkait dengan aktvitas politik Silas Papare dan pemimpin PKII lainnya, seperti B. Aninam, M. Abaa, A. Papara, S. Rumbewas, A. Kamaria, dll.

Masalah Irian menjadi pokok perdebatan yang pelik dalam sidang KMB. Dalam sidang itu M. Yamin terus mematahkan segala argumentasi Belanda yang ingin tetap menguasai Irian. Dengan penjelasan historisnya, antara lain dengan merujuk kitab Negara Kertagama, Yamin berargumen bahwa Irian adalah bagian yang sah dari Republik Indonesia. Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT), Ida Anak Agung Gde Agung, bahkan mengultimatum Belanda bahwa jika sampai Irian tidak dimasukkan ke dalam RIS (Republik Indonesia Serikat), maka NIT tidak akan bersedia menandatangani persetujuan apapun dengan Belanda. Sebaliknya, wakil Belanda J.H. Maarseveen, mengancam mundur jika seandainya Irian terpaksa lepas dari tangan Belanda.

Berhasil menyusup ke Jawa

Di Serui, para pemimpin PKII selalu diawasi oleh Belanda dengan ketat. Mereka dilarang pergi ke luar wilayah Irian. Baru pada tahun 1949 Silas berhasil sampai di Jawa. Ia berhasil mengelabui otoritas Belanda dengan berpura-pura setuju untuk bekerjasama dengan kaki tangan Belanda Johan Ariks dan kawan-kawannya di Jakarta. Setelah sampai Jakarta, Silas menyelinap ke ibukota Republik, Yogyakarta, untuk menemui Presiden Sukarno. Kepada Bung Karno Silas menjelaskan perjuangan PKII dan menyampaikan keinginan rakyat Irian untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia. Sebelumnya, memang sudah ada seorang pejuang kemerdekaan Irian lainnya, yang bernama Karubui, berhasil pula sampai di Jawa, dan menyampaikan keinginan rakyat Irian untuk menjadi bagian dari Indonesia dalam salah satu sidang Kongres Nasional Indonesia.

img_9589-copy-b

Karubui berpidato dalam Kongres Nasional Indonesia (Sumber: Madjalah Merdeka, No. 49, Th. II, 5 Nopember 1949:7)

Dalam wawancara dengan wartawan Madjalah Merdeka pada bulan Oktober 1949, Silas menjelaskan bahwa Sam Ratulangi yang sedang dibuang Belanda di Serui ingin hadir dalam peresemian PKII tahun 1946, tapi dilarang oleh Belanda.

Silas menyampaikan kepada masyarakat umum di Yogyakarta bahwa sebagai ketua PKII ia diberi mandat oleh rakyat Irian untuk menyampaikan keinginan mereka supaya Irian dimasukkan sebagai bagian dari RIS; bahwa Johan Ariks, Jouwe, dll. hanyalah boneka binaan Belanda. Sejak itulah, gelora kemerdekaan dan keinginan penduduk Irian terdengar gaungnya ke mana-mana tanpa mampu ditutup-tutupi lagi oleh Belanda. Setelah KMB berakhir, tuntutan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan Irian dan menjadi bagian dari Republik Indonesia makin menguat.

Republiken tulen putra asli Papua

Silas hanyalah salah satu figur yang menonjol di antara orang Papua yang mencintai Indonesia dengan sepenuh hati. Sesungguhnya perjuangan rakyat Papua untuk mencapai kemerdekaan dan menjadi bagian dari Republik Indonesia sudah muncul sebelum PKII lahir tahun 1946. Silas mengatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diucapkan Dwi Tunggal Sukarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945 sampai pula ke Irian melalui perantaraan orang-orang Amerika. “Mulai diwaktu itulah timbulnja hasrat memperdjuangkan kemerdekaan [Irian] sesuai dengan panggilan proklamasi itu”, demikian ungkap Papare sebagaimana dikutip oleh Madjalah Merdeka, No. 45, Th. II, 5 Nopember 1949:8. Kedatangan Sam Ratulangi dan keluarganya di Serui sebagai tahanan Belanda pada 1946 ternyata telah menghidupkan semangat keindonesiaan di kalangan penduduk pulau itu, yang juga bergaung ke daratan Irian/Papua, dan semakin meyakinkan Silas Papare untuk terus berjuang membawa Irian ke bawah naungan Republik Indonesia.

Semangat kemedekaan di kalangan rakyat Irian tentu saja menimbulkan gesekan-gesekan dengan otoritas penjajah Belanda yang ingin tetap mengekang aspirasi mereka. Menurut Silas, terjadi dua kali pemberontakan melawan Belanda (1946 dan 1947) di Hollandia (kini Jayapura), tapi dapat dipatahkan dengan mudah oleh Belanda, mengakibatkan para pemimpin gerakan itu dipenjarakan Belanda. Pemberontakan 1947, misalnya, dipicu oleh keinginan rakyat Irian untuk mengirim wakil mereka ke Konferensi Malino, tapi tidak dikabulkan oleh Belanda.

Silas Papare adalah putra Irian asli. Lahir di Serui tahun 1918, Silas muda masuk sekolah zending, kemudian juga mendapat pendidikan juru rawat. Ketika Jepang menduduki Irian, Silas, yang enggan bekerjasama dengan tentara fasis Jepang yang dianggapnya tidak akan membawa perbaikan kepada nasib orang Irian, kembali ke kampungnya dan menjadi petani. Pada tahun 1944 Silas bekerjasama dengan tentara Amerika untuk mengusir Jepang dari Irian.

Ketika Jepang kalah, Belanda yang tidak disukai Silas, datang lagi menjajah Irian. Silas kembali ke Serui dan bekerja di rumah sakit. Kemudian ia dan beberapa orang teman seperjuangan mendirikan PKII di Serui. Aksi politiknya itu tentunya membuatnya menjadi target penangkapan Belanda. Ia ditangkap beberapa kali (di Serui, Biak, dan Hollandia), dan pernah dijatuhi kumuman penjara selama 1 tahun 6 bulan di Hollandia, tapi dibebaskan lebih awal dengan pertimbangan bahwa ia sudah banyak membantu Amerika, sahabat Belanda, selama perang melawan Jepang.

Kemunculan Silas di Ibukota RI Yogyakarta pada bulan November 1949 adalah untuk memberitahu publik di Jawa tentang perjuangan rakyat Irian melawan penjajah Belanda dan keinginan mereka untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Untuk mewujudkan perjuangannya, Silas memilih bertahan di Jawa. Ia khawatir Belanda akan menangkapnya jika ia kembali ke Serui.

Pada bulan Okober 1949, Silas mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta. Berlarut-larutnya konfrontasi antara Belanda dan Indonesia mengenai Irian Barat (yang berlangsung sekitar 13 tahun) mendorong Silas terus aktif dalam perjuangan membebaskan tanah kelahirannya dari cengkeraman penjajah Belanda. Ia menjadi anggota Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dan menjadi salah seorang angota delegasi Indonesia dalam New York Agreement tentang Irian Barat yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962, yang mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda mengenai Irian Barat. Kemudian Silas diangkat menjadi angota Majelis Pemusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 yang dimenangkan oleh pihak yang pro Republik Indonesia mewujudkan prediksi Silas yang dinyatakannya 20 tahun sebelumnya: bahwa sebagian besar rakyat Irian akan memilih bergabung dengan Republik Indonesia.

Het nieuwsblad voor Sumatra (Medan) 26-09-1955

Berita dalam sebuah koran berbahasa Belanda tentang Silas Papare (Het Nieuwsblad voor Sumatra [Medan], 26-09-1955)

 Demikianlah kisah perjuangan Silas Papare, penyambung lidah rakyat Papua, yang wafat di Serui pada 7 Maret 1973. Mengenang republiken tulen dari timur itu mungkin dapat mengingatkan lagi penguasa negeri ini untuk mempertegas komitmen mereka membangun Papua yang sejahtera dan damai berdasarkan azas kesamaan derajat dan menghargai hak azasi manusia. Arwah Silas Papare menunggu janji-janjimu kepada rakyat Papua.

(Dr. Suryadi. https://www.universiteitleiden.nl/en/staffmembers/surya-suryadi)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: