Posted by: niadilova | 21/12/2016

Indang Pariaman: Masa Depan ‘Tongue Fu’ Terakhir dari Minangkabau

foto-6-pertunjukan-indang-di-lurah-ampalu-vii-koto-sungai-sariak-2011-foto-suryadi
Pertunjukan indang di Lurah Ampalu, VII Koto Sungai Sariak, 2011
          Kok l[a]i tampak dek Adiak tabiang nan tunggang,[2x]
          Ndak baa dipacapek laghi doh si kulun-kulun, [2x]
          Sungguahpun tampak, Diak kontan, kayu maghantiang,
          Jan tadoghong lo bagandang si tubun-tubun,
          Mangko bak nantun dek kami rang Parik Mangoe,
          Kok tacotok e beko di kayu batuka daun.

Malam itu, di bulan Agustus 2011, selepas salat Isya, saya sudah berada di sudut laga-laga alek nagari di Kanagarian Lurah Ampalu, VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman. Laga-laga (stage untuk pertunjukan indang) sudah penuh oleh para khalayak, lelaki-perempuan. Mereka adalah khalayak fanatik indang: warga Lurah Ampalu sendiri, para pengunjung dari nagari-nagari tetangga, dan para suporter grup-grup indang yang tampil malam itu. Malam itu adalah rangkaian dari malam alek nagari di Lurah Ampalu, di mana pertunjukan indang adalah salah satu pelengkap yang tak boleh ditinggalkan.

Sebagaimana sudah menjadi pattern dalam pertunjukan indang, malam itu tiga sandiang/jupang grup indang tampil saling berhadapan: grup Pincuran Sonsang, Sincincin; Padang Baru-Koto Buruak, Lubuak Aluang; dan Olo Padang, Ulakan. Si pangka, grup Lurah Ampalu, yang menjadi janang panampintaruah’ selama perhelatan nagari itu, sudah tampil terlebih dahulu pada malam pertama.

Setelah anak-anak indang memperdengarkan suara tingkah rapai dalam menit-menit pertama, tukang dikia dan tukang karang grup yang tampil segera melempar ‘umpan’: menyindir kedua grup tamu. Kemudian dua grup tamu berturut-turut akan tampil memberikan reaksi. Pertunjukan indang yang lengkap berlangsung selama 7 malam berturut-turut dengan 21 sandiang. Setiap malam ada 3 pertunjukan (3 sandiang).

Bukanlah indang namanya jika ‘umpan’ yang dilemparkan si pangka[lan] tidak segera disambar (ditanggapi) oleh kedua grup tamu dengan memakai metafora-metafora yang bernilai sastra tinggi. Maka itu berarti kontes bersilat lidah (tongue fu) di atas lagalaga sudah berlangsung. Dalam istilah indang, itulah yang disebut ‘malapeh kato bayang’. Setiap kalimat tukang dikia dan tukang karang penuh dengan kiasan pekat yang merujuk kepada kompleksitas gejala alam (perilaku binatang, tumbuhan, karakter unsur-unsur alam lainnya, juga manusia).

foto-8-suasana-di-laga-laga-pertunjukan-indang-di-lurah-ampalu-vii-koto-sungai-sariak-2011-foto-suryadi

Suasana di laga-laga pertunjukan indang di Lurah Ampalu, VII Koto Sungai Sariak, 2011

Seorang tak akan mampu menikmati estetika indang jika ia tidak berada dalam konvensi kato bayang itu. Kato bayang yang dilepaskan oleh tukang dikia dan tukang karang sebuah grup indang, akan dijapuk (dijemput) oleh rekan (baca: oponen) mereka dari grup yang tampil di sesi berikutnya, lalu ‘ditikam’ dengan kato bayang pula yang ditujukan kepada kedua grup yang lain. Begitulah, sampai geleran (giliran) grup yang tampil terakhir, kontes ‘tongue fu’ itu akan terus berlanjut. Itulah sebabnya mengapa khalayak fanatik indang tidak akan beranjak dari atas atau sekeliling lagalaga sebelum sandiang terakhir yang tampil pada malam itu menyelesaikan pertunjukannya.

Tanda ‘tikaman kata’ tepat mengenai lawan antara lain adalah jika penonton bersorak dan memberi komentar, terutama sekali sipatuang sirah (supporter fanatik sebuah grup indang). Tentu saja kata itu berupa kiasan halus tetapi tajam bak kurambiak. Seorang teman saya yang lama tinggal di Jakarta, yang ikut dengan saya malam itu, tidak mengerti mengapa orang-orang pada bersorak dan ketawa. Ia yang sudah lama merantau jelas tidak paham lagi metafora Minangkabau: kato yang baumpamo, rundiang yang banasakah.

Kutipan di awal tulisan ini, yang mengambil perumpamaan pada burung tubuntubun (di tempat lain di wilayah Pariaman dilafalkan tuguntugun) yang diingatkan agar hati-hati mematuk batang kayu yang bertukar daun (karena disangka kayu mati), adalah kata kiasan kepada oponen agar jangan meremehkan grup yang sedang tampil.

Simaklah sindiran tukang dikia Iyaih dari grup indang Pasia Laweh, Sakayan, Lubuak Aluang kepada grup oponennya yang sudah tampil sebelumnya dalam sebuah pertunjukannya: “Sudah kincahe dek karektan baliak batimba (2x) /Apo kolah lai nan ka kami sabuik (2x) /Lah manyasak-nyasak gabak naiak ka hulu / Baru tadanga tadi dantuang di lauik / Ka jadi hujan bana balun lai tau / Sungguah pun eboh bana si buruang bubuik.”

Atau sindiran merendahkan yang dilepaskan oleh tukang dikia Pian dari grup Padang Baru terhadap oponennya: “Jadi sainggo dek kami itu dulu / Ka niniak mamak rundiang ditagun (2x) / Sabab baru manampak je padi kuniang / Bondo di dahan lah baniak [a]ndak turun / Kok tak ka luko beko, mungkin namuah bariang-bariang / Nyampang bagaluik duyan ko jo antimun.

Bagi penggemar kesenian indang, kata-kata bersayap seperti itulah yang mencandu, yang membuat mereka tak pernah melepaskan perhatian dari bagian-bagian inti dari teks indang yang diproduksi oleh tukang dikia dan tukang karang grup-grup indang yang tampil ‘berlaga’. Di sana terepresentasi hakikat cimeeh Pariaman yang khas.

Genre yang sangat berorientasi pentonton

Berbeda dengan banyak genre sastra lisan Minangkabau lainnya, indang tradisi Pariaman adalah seni yang sangat berorientasi pentonton. Tukang dikia dan tukang karang selalu menyapa penontonnya, meminta mereka bersabar sebelum mendengarkan ‘pukulan’ yang akan diberikan kepada grup lawan.

Alah tibo pulo geleran rang Padang Baru (2x) / Sudah nan kanduang nan duo sandiang (2x) / Balambek-lambek dulu dek badan kami / Basaba-saba panonton bakuliliang / Lah masuak komah, rang banyak, basi ka apa / Kok tak jadi sabik dijamin manjadi ladiang”, kata tukang dikia Pian dari Grup Padang Baru dalam satu pertunjukannya (kursif: Suryadi). Kalimat-kalimat dari tukang dikia dan tukang karang seperti Batanang-tanang panonton urang bakuliliang /dijawauk-jawauk carito keri jo kanan” atau “Usah lo cameh urang pantonton (2x) / Samo mamatuik keri jo kanan (2x) / Dalia laweh batapi, buntak basuduik / Utang tujuah kok untuang tabayia salapan (2x)” (kursif: Suryadi) sering kita dengar dalam pertunjukan indang, menandakan interaksi yang khas dan kuat antara penampil indang dan khalayaknya.

foto-9-khalayak-wanita-dalam-pertunjukan-indang-di-lurah-ampalu-vii-koto-sungai-sariak-2011-foto-suryadi

Penonton wanita dalam pertunjukan indang di Lurah Ampalu, VII Koto Sungai Sariak, 2011

Memang indang adalah sebuah ajang kompetisi kecampinan berkata-kata: bersilat di ujung lidah. Pada masa lampau, sebuah grup indang juga membawa gengsi nagari-nya. Oleh karena itulah sebuah grup indang ‘dipagar’oleh sejumlah tuo indang: orang-orang yang secara batin ‘membentengi’ para penampil indang, khususnya tukang dikia dan dukang karang. Di masa itu, kalah dalam silat lidah di lagalaga bisa membawa malu nagari.

Kini situasi sudah relatif berubah. Pertunjukan indang lebih sebagai acara sulaturahmi antar nagari. Satu grup indang memanggil dua grup oponennya dengan sebutan “dunsanak” atau “karektan nan duo jupang”, tanpa mengurangi sifat rivalitas antar grup. Itulah esensi indang yang menjadi daya perekat bagi pentonton fanatiknya untuk tetap bertahan di lagalaga sampai pagi.

Grup mana yang paling hebat tampil di sepanjang malam, penilaian terakhir ada di tangan penonton. Kriterianya: tukang dikia dan tukang karang dari grup mana yang paling pintar melepaskan kato bayang (metafora) yang tajam-halus kepada grup oponennya, yang paling pintar melepaskan diri dari serangan/belitan kata-kata bersayap dari grup oponennya dan yang paling indah irama-irama dendangannya, yang kaya dengan berbagai bentuk ungkapan penyisip (filler syllables).

Indang dan media modern

Perubahan zaman telah mempengaruhi pula sastra lisan indang. Pertunjukan indang (dengan format 2 x 3 sandiang) kini tersedia dalam seri VCD komersial yang diproduksi oleh Sinar Padang Record, membuat indang kini dapat dinikmati di ruang keluarga di rumah melalui layar televisi. Pada tahun 1990an, seri kaset komersial indang diproduksi pula oleh Tanama Record. Pertunjukan indang yang muncul dalam VCD komersial itu pun kini mengalami remediation: beberapa sandiang dari seri VCD komersial indang tersedia di YouTube (lihat misalnya: https://www.youtube.com/watch?v=YtYSpnbtFk4).

Mediatisasi indang dalam bentuk VCD komersial tentu akan mempengaruhi strukturnya. Durasi pertunjukannya menjadi lebih pendek; seragam penampil menjadi aspek fisik yang utama supaya indah kelihatan dalam video clip dan pengambilan video clip VCD itu sendiri merupakan pengkondisian baru pertunjukan indang dengan suasana khalayak yang berbeda dengan pertunjukan indang dalam acara alek nagari, juga tempat pertunjukan yang sering tidak lagi diadakan di atas lagalaga (Suryadi 2014).

foto1-kaset-indang-tanama-record-1990an

Kaset komersial indang produksi Tanama Record, c.1995

Sampai sekarang, regenerasi penampil indang masih terjadi, tapi sampai kapan genre ini akan dapat bertahan menghadapi perubahan zaman yang makin kencang? Konsteks sosial genre ini terus berubah: generasi muda kini tak paham lagi dengan kata-kata kiasan. Niniak mamak lapisan terakhir pun tak banyak lagi yang arif dengan kato bayang.

Sudah sepatutnya pihak-pihak yang terkait melakukan pendokumentasian selekas dan selengkap mungkin terhadap indang. Penelitian ilmiah yang lebih mendalam (tingkat PhD), termasuk aspek estetika dan kebahasaan indang, kiranya perlu dilakukan untuk melengkapi riset-riset yang sudah ada, seperti: Margaret J. Kartomi (1986), Syafruddin Sulaiman (1989/1990), Suryadi (1994), dan  Ediwar (2003, 2007). Indang adalah genre paling sulit diteliti karena memerlukan penelitian lapangan yang holistik dan penguasaan bahasa sastra Minangkabau dialek Pariaman tingkat tinggi.

foto-4-vcd-indang-sinar-padang-1

VCD komersial indang produksi Sinar Padang Record, awal 2000-an

Di masa lampau, indang begitu marak di Rantau Pariaman karena dukungan para maecenas tradisional yang mau bergila-gila dengan kesenian. Kini, orang-orang seperti itu sangat langka. Seni modern saja bisa mati jika tidak dikelola dengan manajemen modern yang efektif.

Maka, masa depan indang sangatlah tergantung kepada kepedulian masyarakatnya sendiri dan para pemangku kepentingan. Jika genre ini punah, itu berarti ‘tongue fu’ yang khas Rantau Pariaman itu hanya akan tinggal dalam kenangan.

* Artikel ini diterbitkan di harian Padang Ekspres, Minggu, 18 Desember 2016, rubrik ‘Cagak Utama’.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: