Posted by: niadilova | 12/12/2016

Minang saisuak #285: Perayaan penerima anugerah bintang di Suliki (c.1924)

anugerah-bintang-di-suliki-pp-17-th-iii-27-febr-1925-p-259

Kodak klasik yang diturunkan dalam rubrik Minang saisuak kali ini masih berkisah tentang daerah Suliki, kampung halaman Tan Malaka.  Foto ini masih terkait dengan foto yang ditampilkan dalam rubrik ini edisi 27 November 2016, yaitu tentang memberian “anoegerah bintang kepada toean2 […] 1 Toenoes gelar Datoek Bandaharo Pandjang, Kepala Negeri Talago, mendapat bintang tembaga; 2 Tjaoel glr Dt. Maharadjo, gepens [pensiunan] Hoofd der 2e kl. school [kepala sekolah kelas 2] di Soeliki, mendapat bintang pérak ketjil […]; 3 Maï glr Dt. Bandharo Diatas, Kepala Negeri Baroeh Goenoeng [yang juga sudah menerima bintang tembaga pada tahun 1921, yang memperoleh] bintang  pérak ketjil, dan 4 Abdoel Rahim glr Dt. Padoeko Radjo, Kepala Negeri Soengai Rimbang, mendapat bintang tembaga.”

Foto ini mengabadikan kegembiraan warga Suliki atas penganugerahan bintang kepada keempat orang cerdik pandai dari daerahnya seperti disebutkan di atas, khususnya anak kemenakan mereka. Di bawah foto ini terdapat catatan sebagai berikut:

Diatas ini diloekiskan lagi gambar toean-toean jang beroléh hadiah [bintang] itoe bersama-sama dengan sekalian jang hadir. Jang doedoek disisi kiri dan kanan berbadjoe poetih dan bersaloek ialah toean-toean Demang Soeliki dan Asisten Demang Goegoek. Adapoen jang berbadjoe hitam dan memakai destar hitam berlilit ialah toean2 penghoeloe (datoek).” Menarik melihat perbedaan warna pakaian dalam foto ini: ada yang berpakaian putih dan ada yang perpakaian hitam, khususnya para datuk.

Seperti sudah saya kemukakan beberapa kali dalam rubrik ini, kehidupan demang dan asisten demang, serta para kepala adat lainnya di Minangkabau yang eksistensinya mendapat campur tangan dari penguasa kolonial (seperti penghulu basurek, jaksa, dll.), masih belum banyak diungkapkan dalam studi-studi sejarah mengenai Minangkabau.

Kehadiran orang-orang seperti itu adalah bentuk nyata dari penetrasi kekuasaan kolonial ke dalam sistem sosial dan kemasyarakatan etnis Minangkabau menyusul menyerahkan Kaum Paderi kepada Belanda di akhir tahun 1830an. Melalui kekuasaan mereka, tata kehidupan sosial dan hukum adat Minangkabau diubah dan memang akhirnya berubah di kemudian hari.

Sungguh menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan para petinggi lokal yang secara struktural berafiliasi dengan penguasa putih ini. Semoga ada sejarawan yang berminat menelusurinya lebih jauh secara akademis.

(Sumber foto: Majalah Pandji Poestaka, No. 17, TAHOEN III, 27 FEBRUARI 1925: 259). Suryadi – Leiden University, Belanda / Singgalang, Minggu, 11 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: