Posted by: niadilova | 05/12/2016

Minang Saisuak #284 – Pasarloods Danguang-Danguang (1923)

pasarloods-danguang-danguang

Pasar (pakan) adalah unsur yang penting dalam masyarakat Minangkabau. Identitas sebuah nagari (unit politik tradisional yang independen) di Minangkabau antara lain ditandai dengan adanya pakan. Di daerah-daerah dalam kawasan pesisir barat Minangkabau tempat seperti itu disebut balai. Pada prinsipnya setiap nagari memiliki pakan/balai pada hari tertentu (sekali seminggu), walaupun kemudian ada yang mati/tutup karena kalah bersaing dengan pakan/balai dari nagari lain.

Seorang pastor Belanda dalam lawatannya ke pedalaman Minangkabau pada 1880an mencatat: pakan biasanya bermula pada satu tempat terlindung di bawah pohon beringin besar yang biasanya punya lapangan rumput di sekitarnya. Di bawah pohon yang ‘ureknyo tampaik baselo, batangnyo tampaik basanda, dan daunnyo tampaik balinduang’ itulah orang-orang, mula-mula hanya wanita, menggelar dagangan berupa hasil-hasil pertanian. Lama-kelamaan daerah seputar pohon beringin besar itu menjadi ramai oleh orang yang berjualan. Kemudian didirikan orang tenda-tenda darurat dan pondok-pondok untuk berdagang.

Walaupun pekan/balai itu sudah berkembang di kemudian hari, pohon beringin itu tetap dipelihara. Demikian kesaksian Pastor M. Buys ketika berkeliling di pedalaman Minangkabau pada akhir abad ke-19 sebagaimana dinukilkannya dalam bukunya Twee jaren op Sumatra’s Westkust (Amsterdam: A. Akkeringa, 1886: 60). Hal serupa dicatat oleh mantan Direktur Sekolah Radja (Kweekschool) Fort de Kock, J.L. van der Toorn, dalam artikelnya “Dari hal pekan (pasar) di Minangkabau” (1898: 44).

Menambah pengetahuan kita tentang sejarah perkembangan pakan/balai di Minangkabau (lihat sebelumnya tentang pakan Malalak [Singgalang, 23 Februari 2014 [https://niadilova.wordpress.com/2014/02/24/minang-saisuak-164-pembukaan-pasar-baru-malalak-1925/]), rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto klasik tentang los baru pasar Danguang-Danguang, Suliki.  Seperti dapat dilihat dalam foto ini, di gedung itu tertulis “PASARLOODS DANGOENG-DANGOENG”. Catatan yang agak kabur pada foto itu juga menginformasikan kepada kita tarikh pembanginan los ini: “5-11-1923”.

Caption di bawah foto ini menyebutkan: “Los pasar (passerloods) dionderafd[eling] Soeliki (Pajakomboeh). // Sedjak los pasar Dangoeng2 diperbaiki dan diperbesarkan, maka semoea pasar jang besar2 dalam onderafd[eling] itoe, seperti di Limbangan [maksudnya Limbanang], Soeliki, Kota Tinggi dan Baroeh Goenoeng, dapat diperbaiki djoega. Diatas ini adalah gambar los pasar Dangoeng2 itoe.”

Jadi, dapat disimpulkan, tampaknya pembangunan los-los pasar di beberapa pekan/balai di daerah Suliki dilakukan sekitar tahun 1923 dan 1924.

Demikianlah sedikit informasi lagi tentang sejarah pasar di Minangkabau. Semoga informasi historis ini bermanfaat hendaknya bagi para sejarawan dan pembaca, khususnya masyarakat Danguang-Danguang, Suliki.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 4 Desember 2016 (Sumber foto: Majalah Pandji Poestaka, No. 37, TAHOEN III, 19 MEI 1925: 612).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: