Posted by: niadilova | 04/12/2016

Visual Klasik Nusantara #57 – Sebuah Catatan Klasik tentang Etnis Bada di Sulawesi Tengah (1926)

visual-klasik-nusantara-57

Catatan: Dalam sumber ini, nama suku ini ditulis: Bada’. Tapi sumber-sumber modern (misalnya: https://www.youtube.com/watch?v=jUg-DPmM1Mw, diakses 22-5-2016) menuliskannya: Bada. Sekarang etnis Bada sering juga disebut orang Napu atau orang Lore. Namun, dalam sumber yang kita salin kembali ini, mereka tampaknya dibedakan. Mereka dikelompokkan kepada sub-suku Toraja Timur.

Menyertai foto klasik tentang etnis/suku Bada ini, disebutkan (ejaaan disesuaikan):

Tanah Bada’

Bermula di tanah Celebes Tengah adalah beberapa batang barisan gunung yang tinggi-tinggi. Di antaranya adalah terletak beberapa luhak [dari bahasa Minangkabau: satu wilayah yang dihuni oleh satu kelompok masyarakat dengan adat-istiadat sendiri] besar kecil; sebuah daripada luhak itu disebut orang mukim Bada’, letaknya di tengah-tengah benar tanah Celebes, yaitu di sebelah barat Danau Poso; tingginya 700 m dari baris ketetapan [permukaan laut]. Kini ada 15 buah kampungnya, [di] antaranya ada 4 buah yang besar, yakni: Gintu, Bada’ngka’ia, Bulili dan Bomba. Desa-desa tersebut berdekatan jua letaknya. Penduduknya lebih dari 5000 jiwa, yang mempunyai bahasa sendiri (lihat: http://suku-dunia.blogspot.nl/2014/12/sejarah-suku-lore-di-sulawesi.html?m=1, diakses 22-5-2016).

visual-klasik-nusantara-57a

Orang Bada’ gemar benar memakai parang di pinggangnya, lebih-lebih dalam keramaian orang kampung; bukan sebagai senjata, tetapi seperti perhiasan tubuhnya. Demikian pun bangsa [kaum]  perempuan[nya]; tetapi yang dipakai mereka parang yang kecil-kecil. Hulu dan sarung parang itu diukir dengan rupa-rupa cara ukiran Bada’. Pada waktu keramaian dan maraego (yaitu suatu keramaian bernyanyi-nyanyi) laki-laki itu semuanya memakai kelewang yang terhias di pinggangnya. Pakaian laki-laki yang bangsawan pada waktu itu mahal-mahal harganya, bersulam benang perak. Pakaian-pakaian itu bukan buah pekerjaan tangan penduduk Bada, melainkan dibelinya saja dari tempat lain-lain.

Adapun bangsa perempuan[nya] [lihat gambar] hampir bersamaan pakaiannya bersamaan pakaiannya dengan perempuan “Napoe” dan “Koelawi”. Bajunya berlengan pendek, berleher besar dengan memakai tali (benang) pengerut. Kainnya, yaitu pengganti sarung, ada 2 sampai 3 lipat, memakai weki (tali) di pinggangnya dan kain itu dilipan dari bahagian pinggang ke bawah, sehingga menjadi 2 à lapis. Di atas kepalanya memakai “pohéa”, supaya rambutnya yang panjang jangan mudah terurai.

visual-klasik-nusantara-57b

Pakaian orang Bada’pada zaman dahulu diperbuat orang daripada foeya putih atau hitam, yaitu kulit kayu yang mudah dikupas dan dikeluarkan daripada batangnya.

Sebagai[mana] pada tempat lain-lain jua di Hindia [Belanda], orang Bada’ hidupnya terutama dari bercocok tanam. Di ladang ditanam orang berjenis-jenis tanaman, seperti ubi jalar, tembakau, tebu, sayur-sayuran, dll. Sekarang, penduduk Bada’ lagi giat bertanam kopi, terutama kopi robusta. Telah dibuka beberapa buah kebun kopi. Dalam pekarangan-pekarangan pun banyak kopi ditanam orang. Juga pohon enau banyak didapati orang di sana. Pohon itu biasanya dipotong, lalu dipukul untuk diambil sagunya. Daripada mayangnya, orang {839} dapat lagi airnya yang biasa diminum orang, segoeér namanya. Dari dahulu orang [Bada’] tak pernah membuat gula merah, meskipun banyak juga segoeér yang dapat diperolehnya. Adapun sebabnya ialah karena mendengar bicara dan larangan orang tua-tua begini: Jangan membuat gula di tanah kita, pantang, tanam-tanaman kelak tiada menjadi lagi.

Pada musim kemarau, penduduk Bada’ ramailah turun ke sungai dan ke anak sungai mencari logam dan emas. Ada beberapa batang sungai dan anak sungai yang mengalir melintas lembah Bada’.

Di situlah mereka mencari emas, bukan dengan perkakas buatan negeri asing, melainkan dengan perkakasnya sendiri saja, yaitu dulang kayu.

Setiap hari pendapatan seseorang ditimbang dengan sebuah neraca kecil yang diperbuatnya sendiri. Yang dipergunakan sebagai anak timbangan yaitu biji lombé, yang besarnya sebesar kinine, dan berantnya ± 0,2 gram. Emas yang ditimbang dengan biji buah lombé itu disebut orang”hamboea” (sebuah). Sebuah itu kalau dijual menurut harga di sini f 0,50. Ada lagi anak timbangan lain yang lebih kecil daripada biji buah tadi, namanya katimoeda’, yaitu buah sebangsa tumbuhan, warnanya merah, sebesar biji mata ikan kecil. Anak timbangan itu dipakai orang [untuk] menimbang emas yang beratnya tiada seberat biji buah lombé.

Penduduk Bada’ banyak yang rajin mencari emas, tetapi hingga sekarang belum ada seorang pun yang tahu caranya melebur emas.

Lain daripada logam emas, ada lagi kedapatan batu besi. Masa dahulu, maka ramailah orang-orang yang mengambil batu besi itu, ditempa, dibuat perkakas yang perlu baginya, seumpama: parang, kelewang, tembilang, tombak, dll. Kini tak ada lagi orang yang mengambil besi itu. Ladi daripada itu penduduk Bada’pandai juga menganyam rupa-rupa anyaman dan mengukir rupa-rupa ukiran dari kayu, bambu dan tanduk kerbau.

Orang Bada’ mempunyai berbagai-bagai kepercayaan yang berdasar pada cerita-cerita dongeng dan takhyul, misalnya kepercayaan tentang memotong dan mencabut gigi. Kepercayaan tersebut yakni memotong gigi pada bangsa laki-laki dan mencabut gigi pada bangsa perempuan itu bertumbuh dan berakar saja dari satu cerita “buah cinta dari dua suami istri” dahulu kala.

Bangsa [kaum] laki-laki dipotong giginya setelah berumur kira-kira 15 tahun dan bangsa perempuan umurnya sekitar itu juga, tetapi bukan dipotong saja, melainkan dicabut.

Menurut adat [Bada’], kalau seorang perempuan dicabut giginya, maka dipotong seekor kerbau, dimakan ramai-ramai dengan kaum kerabatnya. Bangi bangsa laki-laki tak demikian. Setelah dipotong atau dicabut giginya, maka laki-laki atau perempuan itu mendapat sebuah puan dari orang tuanya, disertai dengan sebuah tempat tembakau, sebuah tempat kapur dan kacip. Sekarang mulailah mereka memakan sirih, tanda mereka sudah sampai umur.

Dengan usaha Zending, sekarang di antara peduduk Bada’ telah banyak yang memeluk agama Masehi [Kristen]. Tujuh buah sekolah bagi anak-anak laki-laki dan perempuan sudah berdiri dan hasilnya pun telah tampak pula. Dalam tahun 1925 yang telah silam, telah tamatlah dan luluslah dalam ujian penghabisan 2 orang pemuda anak Bada’ dalam sekolah guru (Zending Kweekschool) di Pendolo. Keduanya bekerja untuk bangsanya yang sampai sekarang masih berselimutkan kebodohan, masih jauh lagi dari hal maju seperti yang dikehendaki dunia sekarang.

N.J.R. {840}

***

Sumber: Majalah Pandji Poestaka No. 37, TAHOEN IV, 11 Mei 1926: 839-840. Peta yang menunjukkan wilayah tempat etnis Bada tinggal dan foto wanita Bada zaman sekarang ditambahkan oleh penyalin yang diambil dari sumber-sumber internet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: