Posted by: niadilova | 14/11/2016

Minang Saisuak #281 –Asrama anak piatu Aropa di Padang (1926)

asrama-anak-piatu-aropa

Bangsa Eropa, di manapun mereka berada , selalu memperhatikan kepentingan-kepentingan yang terkait dengan kelompok mereka. Bahkan kelompok-kelompok yang dari segi keturunan tidak 100% murni Eropa pun mereka perhatikan, misalnya keluarga dan anak-anak dari keturunan Indo.

Di mana pun mereka berada di Hindia Belanda, pejabat Eropa yang bertugas di daerah setempat selalu memperhatikan kepentingan mereka. Bahkan di Pulau Leti yang kecilpun di dekat Timor sanak, sebagaima pernah saya temukan dalam sebuah sumber klasik di Leiden, anak-anak dari perkawinan pribumi dengan orang-orang VOC dahulunya, dimasukkan ke sekolah tertentu yang tidak mungkin diikuti oleh anak-anak orang Pribumi.

Inilah politik ras dan kelompok yang berlaku di Hindia Belanda selama berabad-abad. Politik segregasi rasi ini pulalah yang menjadi salah satu unsur penting yang menjamin langgengnya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan foto sebuah gedung yang dibangun di Padang yang dikhususkan sebagai tempat penampungan bagi anak-anak berdarah Eropa yang tinggal di Padang. Sebagaimana dapat dibaca pada ‘caption’ foto ini, disebutkan bahwa gedung ini berfungsi untuk menampung ‘anak2 piatoe Éropah laki-laki’. Kita dapat membayangkan politik ras di sini: anak-anak Eropa tak boleh ditelantarkan. Barangkali anak-anak yang ditampung di gedung ini berasal dari keluarga yang (salah satu) orang tuanya sudah meninggal karena berbagai alasan. Rupanya asrama untuk anak piatu laki-laki dibedakan dengan yang digunakan untuk perempuan.

Mungkin ada di antara pembaca Singgalang yang masih ingat letak gedung ini di Padang. Kalau saya tidak salah ingat, letaknya di sekitar SMA Don Bosco sekarang. Dalam foto ini kita melihat: di sebelah belakang ada sebuah gereja. Sangat mungkin pusat penampungan ‘ ‘anak2 piatoe Eropah’ ini terkait dengan aktifitas gereja tersebut. Anak-anak seperti ini didik agar mereka dapan mandiri di masa depan. Sebagian lain dididik menjadi pepayan rohani yang nantinya bekerja dalam lingkungan gereja.

Sampai sekarang, dalam tradisi Kristiani, gereja menjadi salah satu tempat untuk mengurus orang-orang yang terlantar. Di musim dingin di Eropa, misalnya, gereja sering mengorganisir pemberian perlindungan dan makan kepada para gelandangan atau orang-orang homeless untuk menyelamatkan mereka dari serangan udara dingin yang membekukan tibuh.

Demikanlah sedikit kisah gedung narasi untuk mengantarkan kita ke masa lalu kota Padang yang secara fisik juga telah dihiasi oleh kehadiran ‘Gedoeng asrama jang baroe tempat anak2 piatoe Éropah laki-laki di Padang’.

Sumber foto: Majalah Pandji Poestaka, No. 25, TAHOEN IV, 30 MAART 1926: 567

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: