Posted by: niadilova | 16/10/2016

Minang Saisuak #279 – Chairul Saleh (1916-1967): Penggagas konsep ‘Wawasan Nusantara’

chairul-saleh

Dia adalah “Tokoh Pejuang dan Penggagas Konsep Wawasan Nusantara”, demikian Hasril Chaniago menyebut Chairul Saleh dalam bukunya 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (Padang: Citra Budaya, 2010: 236). Selanjutnya, biografi ringkas putra Minangkabau yang menonjol di Zaman Orde Lama ini dapat dibaca di halaman 236-242 buku tersebut.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menokok tambah keterangan tentang Chairul Saleh berdasarkan satu artikel dalam salah satu edisi majalah Waktu (tertbit di Medan) pada tahun 1961. Berikut salinan selektif artikel itu (ejaan disesuaikan).

Chairul Saleh. Tokoh proklamasi yang keluar-masuk penjara; selalu bergerak dalam dunia kepemudaan; pejabat Ketua MPRS.

[Ia] adalah seorang tokoh simpatik dan pernah menjagoi detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Perawakannya besar tinggi, kuning kulitnya dan pandai bergaul.

Ia adalah seorang tokoh yang banyak jasa dan darma baktinya kepada negara dan bangsa serta masih putih bersih hati nuraninya, akan tetapi telah banyak mengalami penderitaaan batin yang hebat: berkali-kali [ia] dipenjarakan meskipun dakwaan kepadanya tidak jelas. Dan itu semua ditahannya semata-mata untuk memperjuangkan cita-citanya: Indonesia merdeka, bebas dari segala ikatan.

Charul Saleh berasal dari Sumatera Tengah. Ia dilahirkan di Sawahlunto pada [13 September] 1916. Ayahnya adalah Dr. Achmad Saleh yang juga terkenal dalam pergerakan Indonesia. Chairul Saleh adalah anak tunggal dari satu ibu [Zubaidah binti Ahmad Marzuki] dan satu ayah. Sedang saudaranya dari lain ibu ada tiga orang.

Pendidikan yang ditempuhnya ialah ELS di Medan dan Bukittingi, HBS lima tahun di Medan dan Jakarta dan akhirnya tamat dalam tahun 1937. [Lalu ke] Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta sampai datangnya Jepang, …waktu itu ia baru menduduki tingkat kandidat.

Ketika masih mahasiswa, Chairul sudah aktif dalam lapangan pergerakan pemuda. Kawan-kawan sepergerakannya antara lain ialah Mr. Lukman Hakim,  Mr. Subagio Reksodipoero, Mr. Suprapto, Supeno, Mr. Sujono Hadinoto, dll. Waktu itu Chairul memasuki Himpunan Pelajar dan Pemuda Indonesia. Dan pada saat-saat akan masuknya Jepang, ia terpilih menjadi ketuanya.

PADA ZAMAN JEPANG mula-mula ia bekerja membantu pada Sendenbu (Bagian Penerangan Pemerintah Jepang), kemudian dia aktif dalam Putera (Pusat Tenaga Rakyat)[dan] dalam Barisan Pelopor Istimewa yang langsung dipimpin oleh Bung Karno. Saat akan runtuhnya Jepang ia menggabungkan diri pada Gerakan Angkatan Muda, kemudian [dalam] Angkatan Perjuangan Indonesia…yang bertugas mengusir pemerintahan Jepang. [Di] saat-saat proklamasi, pemuda dari ketiga organisasi tersebutlah yang memegang tampuk pimpinan, sedang sebelumnya mereka…pula yang [aktif] mengorganisir organisasi rahasia untuk melumpuhkan kekuatan Jepang.

Dalam perjuangan gerilya, pasukan Chairul Saleh bergabung dengan kelompok lainnya, seperti TNI dan Hizbullah yang disebut Staf Gabungan Gerilya Jakarta Timur di bawah pimpinan Letkol Sambas. Dalam Staf Gabungan tersebut Chairul Saleh diangkat sebagai Hakim Militer dan Juru Pisah.

Ketika KMB diadakan, Chairul Saleh…berpendirian bahwa perundingan dengan Belanda…merugikan. Karena itu ia dan pasukannya bergerilya di Banten Selatan. Akan tetapi kemudian ia beralih ke cara perjuangan melalui parlemen. Kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk belajar:…ke Swiss selama setahun, kemudian ke Jerman Barat selama 2,5 tahun, lalu kembali ke Indonesia.

Menurut Chairul Saleh: “Jika cara berpikir seperti demokrasi liberal itu masih diteruskan, maka rakyat Indonesia akan lebih menderita lagi. Jalan untuk mengatasi hal itu dewasa ini adalah demokrasi terpimpin, yaitu dengan dengan melaksanakan konsepsi Bung Karno.”

Ucapannya yang seperti itu mungkin keluar karena dia memang sangat dekat dengan Sukarno. Tapi, kenyataan hari ini, melihat gonjang-ganjing politik Indonesia, mungkin membuat kita berefleksi bahwa kata-kata Chairul Saleh di atas ada juga benarnya. Demokrasi Barat yang kita adopsi sekarang telah membuat bangsa ini sesat dalam labirin pertengkaran yang tidak berkeruncingan, yang tidak memberi banyak manfaat kepada rakyat berderai.

Saat berita yang dikutip ini dibuat, Chairul Saleh menjabat sebagai Pejabat Majelis Pemusyawaratan Rakyat Sementara. Kisah selanjutnya dapat dibaca dalam buku Hasril Chaniago di atas. Chairul Saleh meninggal tgl. 8 Februari 1967 dalam tahanan militer Orde Baru. Politik tak mengenal respek dan terima kasih.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 16 Oktober 2016 (Sumber foto dan teks: majalah Waktu [Medan], No. 6, 11 Februari 1961: 4).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: