Posted by: niadilova | 26/09/2016

Minang Saisuak #277 – Jembatan baru Lubuak Gajah, Alahan Panjang (1926)

lb-togaja

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan foto klasik tentang peresmian sebuah jembatan di Lubuak Gajah, Alahan Panjang, pada tahun 1926. Teks yang menyertai foto berbunyi: “Diboeat oléh B. B. di Loeboekbatoegadjah II pada djalan antara Alahanpandjang dan Moearalaboeh (S.W.K.). Djambatan itoe dahoeloe diperboeat dari pada kajoe, pandjangnja 25 M, amat mengchawatirkan, apa poela kalau dilaloei auto atau vrachauto pengangkoet hasil tanah[hasil bumi]. Sekarang kechawatiran itoe ta’ ada lagi. Djambatan koeat dan baik boeatannja. Gambar diatas ini meloekiskan ketika djambatan itoe diboeka dengan perajaan, dihadiri oléh ambtenar2 Éropah dan Bp. [Bumiputra]. Anak negeri sangat bersenang hati, dan berdo’a moga-moga djambatan itoe selamat hinga sampai pada ‘oemoer zamannja.

H. glr. R. B.”

Seiring dengan penerapan Politik Etis atau Politik Balas Budi di Hindia Belanda sejak 1901, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun berbagai fasilitas untuk meningkatkan kesejahteraan hidup kaum pribumi. Pemerintah antara lain membangun infrastruktur jalan dan jembatan di berbagai daerah untuk melancarkan arus trasportasi barang dan orang.

Pada tahun-tahun setelah pembangunan jembatan di Lubuak Gajah ini selesai, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda terus membangun infrastruktur jalan dan pengairan di daerah Sumatera Barat, Kerinci, dan Tapanuli.

Majalah Pandji Poestaka, No. 82, Tahoen VIII, 14 October 1930, hlm. 1307 [Kroniek] melaporkan kunjungan J.A.M. van Buuren, petinggi Departemen Pekerjaan Umum di Batavia, ke Sumatra’s Westkust (Sumatera Barat), Kerinci dan Tapanuli pada bulan September 1930 untuk meninjau proyek-proyek pembangunan infrastruktur jalan dan pertanian di daerah itu. Laporan itu dikutip di sini: “Perdjalanan t. Mr. Dr. J. A. M. van Buuren. Pada hari Selasa tanggal 7 Oct. j.b.l. [jang baroe laloe]  t. Mr. Dr. J. A. M. van Buuren, Directeur B. O. W. telah kembali dari perdjalanannja mengoendjoengi Soem. Barat dan Tapanoeli. Dalam pertjakapannja dengan wakil Bat. Nbld. (Bataviaasch Nieuwsblad] antara lain beliau merentjanakan bahwa pada 3 Sept. jbl. beliau berangkat dari Betawi ke Moeara Sakai (Indrapoera) dengan kapal Houtman. Selandjoetnja beliau mengoendjoengi  Koerintji, beberapa tempat tempat lain di S.W.K. [Sumatra’s Westkust] dan Tapanoeli. Beliau memeriksaï beberapa djalan baroe dan djalan-djalan jang tengah diboeat. Lagi poela di S. W. K. beliau memperhatikan djoega soäl pengairan. Orang dapat lihat – kata t. Van Buuren – kemadjoean perhoeboengan laloe lintas jang amat tjepat. Seperti telah diketahoei orang dalam anggaran 1931 disediakan oeang 1 djoeta roepiah goena pemboeatan djembatan dan djalan di Soem. Barat, dan ½ djoeta bagi keperloean itoe didaérah Tapanoeli. Itoelah tentang pedjabatan biasa dan tentang pedjabatan loear biasa[:] oentoek Soem. Barat disediakan ¾ djoeta roepiah dan oentoek Tapanoeli disediakan f 375.000.

Laporan di atas juga mencatat anggaran pembangunan infrastruktur untuk wilayah Sumatra Barat dan Tapanuli untuk tahun 1931. Semoga data primer ini bermanfaat bagi para sejarawan.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 25 September 2016 (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 18, TAHOEN IV, 5 Maart 1926: 395).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: