Posted by: niadilova | 19/09/2016

Minang Saisuak #276 – Anugerah Bintang kepada Abubakar Sutan Rumah Tinggi (1926)

anugerah-bintang-kepada-abubakar

Sudah merupakan hukum dunia tampaknya bahwa orang yang pernah mengukir jasa dalam hidupnya akan mendapat penghargaan. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat akan mendapat hukuman. Meskipun demikian, hendaknya kita jangan menghitung-hitung amal jariyah dalam berbuat baik. Lakukan saja apa yang bermanfaat dalam hidup ini, apapun bidang pekerjaan Anda: bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang banyak. Niscaya suatu kali nanti akan datang ganjaran (reward) yang tak terduga atas perbuatan baik yang dilakukan dengan cara ikhlas itu.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan satu foto klasik yang mengabadikan penganugerahan bintang kepada seorang pegawai Binnenlands Bestuur (BB) Hindia Belanda yang dianggap telah berjasa karena telah melakukan pekerjaannya dengan tekun dan sepenuh hati. Dalam beberapa edisi rubrik ini kami telah menampilkan foto-foto seperti ini. Pembaca mungkin sudah mengetahui bahwa tradisi penganugerahan bintang dalam sistem administrasi BB Hindia Belanda di Zaman Kolonial adalah satu mekanisme yang antara lain bertujuan untuk memperkuat ikatan hirarkis dalam sistem kepegawaian kolonial pada masa lampau.

Teks yang menyertai foto ini berbunyi: “Opatjara penjerahan bintang besar kepada p.t. [pejabat tuan] Aboebakar gelar Soetan Roemah Tinggi (x) Adjunct Djaksa di Padang. Beliau moëlai bekerdja pada Goebernemént sedjak tahoen 1900, selaloe radjin dan setia melakaoekan kewadjibannja.”

Jadi, yang dianugerahi bintang kali ini adalah seorang “Ajunct Djaksa” yang bertugas di Padang, ibukota Sumatra’s Westkust. Belum diperoleh keterangan lebih jauh tentang riwayat hidup Aboebakar gelar Soetan Roemah Tinggi, orang yang dianugrahi “bintang besar” ini. Yang jelas, dari namanya tentu kita dapat menduga bahwa laki-laki ini adalah seorang Minangkabau. Soetan Roemah Tinggi menerima bintang besar atas kerajinan dan kesetiaannya “melakoekan kewadjibannja” selama 26 tahun sebagai pegawai kolonial. Begitulah, ketekunan dalam bekerja pada suatu saat akan diganjar dengan penghargaan.

Tradisi pemberian penghargaan terus berlanjut sampai sekarang dalam sistem administrasi Republik Indonesia. Tapi anehnya, sekarang ini hanya kepala-kepala daerah saja yang sering mendapat penghargaan. Nama penghargaannya sering memakai kata tata…,  swasembada… (tata…ini dan tata…itu, swasembada…ini dan swasembada…itu) dan lain-lain. Bertimbun-timbun penghargaan diterima oleh para gubernur, bupati, dan walikota, semuanya atas ‘kesuksesannya’ dalam memimpin negeri, semuanya atas nama rakyat. Penuh lemari di rumah dinas dan rumah pribadi mereka oleh berbagai macam piala dan sertifikat. Rakyat yang diatasnamakan sering hanya dapat melihatnya sekilas di layar-layar televisi dan di halaman-halaman surat kabar.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 18 September 2016 (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 12, TAHOEN IV, 12 FEBRUARI 1926: 258).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: