Posted by: niadilova | 08/09/2016

Telisik Ilmiah ‘Gamelan Minangkabau’

jennifer-a-fraser-gongs-pop-songsJennifer A. Fraser, Gongs & Pop Songs: Sounding Minangkabau in Indonesia

Athens, Ohio: Ohio University Press [Ohio University Research in International Studies; Southeast Asian Series No. 127], 2015. Xv + 270 pages.  Notes, bibliographical references and index. Paperback, $ 29.95. ISBN 978-0-89680-295-7.

Publikasi ilmiah internasional tentang alat musik idiophone Indonesia selain gamelan Jawa dan Bali boleh dibilang masih langka. Oleh karena itu terbitnya Gongs & Pop Songs: Sounding Minangkabau in Indonesia karya Jennifer A. Fraser yang membahas talempong Minangkabau ini dapat dianggap istimewa.

Minat Jennifer yang kini menjadi associate professor etnomusikologi dan antropologi Oberlin College Ohio pada musik talempong relatif agak menyimpang dari kecenderungan umum sarjana asing yang biasanya lebih tertarik meneliti ‘paradoks’ sistem kekerabatan matrilineal dan agama Islam di Minangkabau.

Semula buku ini berasal dari disertasi penulisnya di University Illinois yang berjudul “Packaging Ethnicity: State Institutions, Cultural Entrepreneurs, and the Professionalization of Minangkabau Music in Indonesia” (2007).

Buku yang terdiri dari enam bab ini, yang dilengkapi pula dengan contoh-contoh video, audio dan foto-foto yang tersedia secara online, menganalisa secara mendalam transformasi musik talempong yang sejak 60 tahun terakhir telah mengalami perubahan sebagai respon terhadap berbagai kekuatan di luarnya, termasuk kompleksitas peristiwa politik, pelembagaan (institusionalisasi), profesionalisasi kesenian, dan tekanan-tekanan dari sistem ekonomi pasar bebas.

Bab 1, “Ethnicity, Gongs, and Pop Songs” (hlm. 1-36), memetakan talempong dalam konteks nagari, unit geopolitik tradisional Minangkabau yang independen. Bab 2, “Talempong and Community” (hlm. 37-88), menelusuri lebih jauh permainan musik talempong secara tradisional dan konteks sosial-budaya masyarakat Minangkabau. Bab 3, “Institutionalizing Minangkabau Arts” (hlm. 89-132) meneropong fenomena monetisasi talempong yang telah mendorong munculnya kreasi-kreasi baru musik ini. Dua bab berikutnya membahas lebih lanjut berbagai pertunjukan talempong kreasi baru tersebut yang kemunculannya merupakan konsekuensi logis dari fenomena institusionalisasi terhadap musik ini. Bab 4, “Performing Talempong” (hlm.133-175), memaparkan praktek pengajaran musik talempong, khususnya di ISI Padang Panjang, dan proses kelahiran talempong diatonik yang pada awalnya merupakan eksperimen yang dilakukan oleh para dosen ISI Padang Panjang (ketika masih bernama ASKI) yang kemudian melahirkan orkes talempong. Bab 5, “Talempong in Market the Place” (hlm. 176-215) masih berfokus pada talempong diatonik kreasi baru, tapi sudut pengamatannya bergeser pada konteks pemakaian kreasi-kreasi baru tersebut untuk menghasilkan uang. Jennifer menganalisa bagaimana pasar membentuk dan menghidupkan baik genre-genre kesenian tradisional maupun kreasi-kreasi baru; atau bisa dirumuskan secara sebaliknya: bagaimana kesenian dimodifikasi dan dibentuk untuk disesuaikan dengan kehendak pasar dan kehendak khalayak pembayar. Bab 6 (Kesimpulan), “Multiple Ways of Sounding Minangkabau” (hlm. 216-224), merangkum efek musikal dan kultural dari transformasi talempong akibat terjadinya intsitusionalisasi, profesionalisasi, dan monetisasi kesenian tradisional di Indonesia. Ada dua poin penting yang dikemukakan Jennifer dalam bab pemungkas ini.

Pertama, pengajaran kesenian tradisional Minangkabau melalui institusi-institusi pendidikan formal telah menurunkan kualitasnya. Tujuan pelestarian yang dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan seni di Sumatera Barat justru membawa kesenian tradisional itu ke arah sebaliknya: lembaga-lembaga pendidikan seni, seperti ISI Padang Panjang, justru melemahkan musik talempong itu sendiri (juga genre-genre lainnya) ketimbang memperkuat atau melestarikannya. Menurut Jennifer, hal itu secara tidak disadari terjadi melalui empat cara: 1) dengan mendekontekstualisasikan genre-genre kesenian tradisional itu dan mengeluarkannya dari sistem nilai asli yang semula melekat padanya; 2) dengan menerapkan pendekatan pedagogis dalam pengajaran kesenian tradisional yang berakibat mencair atau menipisnya kandungan estetisnya; 3) dengan memproduksi kelas musisi kampus yang cenderung mengabaikan atau memandang rendah praktek-praktek musik para seniman tradisional di kampung-kampung dan memarginalkan posisi seniman-seniman tradisi tersebut; 4) dengan mendorong perkembangan kesenian tradisional melalui bentuk-bentuk ekspresi baru yang namanya otomatis diidentikkan dengan para musisi kampus itu.

Namun, berbeda dengan pandangan penulis buku ini tentang adanya efek ‘negatif’ dari institusionalisasi kesenian daerah di berbagai lembaga pendidikan seni, saya sendiri justru melihat bukan tidak ada efek positif yang ditimbulkannya. Pembaruan-pembaruan musikal  mengingatkan orang kepada versi tradisional atau yang aslinya. Penampil (performer) tradisional tetap punya ruang kreasi sendiri di samping timbalan (counterpart) mereka yang membuat kreasi-kreasi baru. Dinamika kesenian daerah tidak mungkin dapat dihambat: ia berubah mengikuti perubahan lingkungan geografis dan masyarakatnya.

Kedua, transformasi talempong telah mengubah musik ini dari sekedar penanda identitas sub-lokal yang semula hanya asosiatif dengan nagari menjadi penanda identitas etnik yang mewakili Minangkabau secara keseluruhan. Sebagai simbol etnis yang bersifat pan-Minangkabau (supra nagari), fungsinya sama dengan lagu pop Minang, sebagaimana telah saya bahas dalam disertasi saya, “The Recording Industry and ‘Regional’ Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”, Leiden University, 2014. Berbagai kreasi baru musik talempong tersebut telah ikut mendorong meningkatnya kepekaan etnik (ethnic sensibilities), dalam konteks ini: perasaan keminangan.

Membaca buku ini jelas memperkaya pengetahuan kita tentang dinamika kesenian tradisional yang terjadi di Indonesia di masa kontemporer ini. Apa yang terjadi pada ‘gamelan Minangkabau’ di Sumatera Barat ini boleh jadi mewakili keadaan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia. Serbuan budaya asing telah mempengaruhi kesenian daerah, mengubah strukturnya dan juga persepsi masyarakat terhadapnya.

Satu pertanyaan yang tidak ditemukan jawabannya dalam buku ini yaitu mengapa musik talempong yang cenderung menghadirkan suasana ceria bisa eksis dalam kultur musik Minangkabau yang cenderung melankolis dan menonjolkan kesedihan? Irama musik yang identik dengan darek (pedalaman Minangkabau) ini “kebanyakan menimbulkan rasa kegembiraan dan semangat bekerja” (lihat: “Seni Suara Minangkabau”, dalam Z. Moechtar & Aman St. Sinaro, Pantjaran Budaja: Buku batjaan mengenai kebudajaan dan kemasjarakatan untuk Sekolah2 Landjutan Bagian Atas di Indonesia (S.M.A., S.G.A., S.M.E., dan lain-lain). Djakarta: Penerbit “Siliwangi” N.V., 1953: 64).

Gongs & Popsongs adalah buku yang kaya secara akademis. Dengan analisis dan interpretasi yang mendalam, buku ini jelas merupakan sebuah sumbangan ilmiah yang penting untuk memahami dinamika kesenian lokal Indonesia di zaman kontemporer. Ia merupakan salah satu rujukan ilmiah yang berharga untuk studi etnomusikologi dan etnografi mengenai musik daerah di Indonesia.

Dr. Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Belanda

* Resensi ini dimuat di harian Kompas, Sabtu, 3 September 2016, hlm. 24 (lihat: http://print.kompas.com/baca/2016/09/03/Telisik-Ilmiah-Gamelan-Minangkabau?utm_source=bacajuga)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: