Posted by: niadilova | 01/09/2016

Disertasi Universiteit Leiden: Jangan berterima kasih kepada Tuhan dan Promotormu

Jangan berterima

Jika kita membaca Kata Pengantar disertasi-disertasi Indonesia, dua hal pasti selalu dapat kita temukan: pertama, ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa; kedua: ucapan terima kasih kepada Promotor dan Ko-promotor.

Para promovendus di Indonesia, yang pada umumnya mempercayai agama tertentu, jelas merasa bahwa selesainya penulisan disertasi mereka, langsung atau tidak, adalah atas rahmat dan pertolongan Tuhan. Mereka yakin karena ‘campur tangan’ Tuhanlah maka penulisan disertasi mereka dapat diselesaikan. “Tiada kata yang paling layak dan indah untuk mengawali pengantar ini selain ucapan puji syukur kepada Allah SWT, Zat yang Mahatinggi, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang atas segala limpahan rahmat dan hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan disertasi ini ”, demikian  paragraf awal Kata Pengantar disertasi Ali Rosdin ‘Nilai-nilai Kehidupan Masyarakat Buton: Kajian Filologi dan Sosiologi Sastra serta Suntingan Teks dan Terjemahan terhadap  Naskah Kabanti Ajonga Yinda Malusa ’ (Universitas Gadjah Mada, 2014:vi). Penrnyataan seperti ini, dengan segala variasinya, dapat ditemukan dalam  Kata Pengantar semua disertasi di Indonesia.

Promotor dan Ko-Pormotor biasanya berada pada urutan kedua dalam penyampaian ucapan terima kasih itu. Mereka jelas dianggap sangat berjasa karena telah memberikan bimbingan akademis kepada si promovendus sehingga ia dapat menyelesaikan penulisan disertasinya. Ucapan terima kasih itu biasanya disertai pula dengan kata-kata pujian. Demikianlah umpamanya, Dr. La Niampe (sekarang profesor di Universitas Haluoleo, Kendari), menulis dalam pengantar disertasnya: “[P]ada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Tim Promotor saya. Prof. Dr. Hj. Partini Sardjono Pradotokusumo selaku ketua tim promotor yang sangat sungguh-sungguh dan penuh ketelitian dalam  memberikan bimbingan, perhatian, motivasi, nasihat serta berbagai solusi dalam percepatan studi saya pada umumnya dan penyelesaian penulisan disertasi ini pada khususnya. […]  Bimbingan, motivasi serta konsultasi yang sama juga saya peroleh kepada [sic]  Prof. Dr. Hj. Achadiati, selaku ko-promotor. Saya sangat beruntung dapat memperoleh kesempatan mendapatkan bimbingan dari beliau, selain ketohokannya di bidang filologi Nusantara, juga beliau banyak meneliti naskah-naskah Buton khususnya naskah-naskah undang-udang. […] Demikian pula kepada Ibu Dr. Yati S.Z. Aksa selaku Ko-Promotor dengan penuh kesungguhan membaca, memeriksa, dan memberikan saran perbaikan untuk kesempurnaan disertasi ini. Dengan sungguh-sungguh saya sampaikan bahwa saya sangat beruntung telah mendapatkan tiga orang promtor [yang]  semuanya adalah wanita, sangat langka ditemukan pada promovendus yang lain. Beliau-beliau ini telah berusaha menjadi ibu yang baik dalam pengantarkan saya ke seluruh rangkaian proses dalam menempuh dan menyelesaikan program pendidikan doktor ini.” (La Niampe. ‘Sarana Wolio (Unsur-Unsur Tasawuf dalam Naskah Kitab Undang-Undang Buton serta Edis Teks’, disertasi Universitas Padjadjaran, 2007:vi-viii).

Hal yang sangat berbeda ditemukan dalam disertasi-disertasi yang dipertahankan di Universiteit Leiden: menurut regulasi universitas, promovendus dilarang mengucapkan atau mengekspresikan rasa terima kasihnya kepada Tuhan, Promotor, dan Ko-promotor. Ketentuan ini sudah menjadi pengatahuan umum di lingkungan Universitas Leiden walaupun  ada bagian-bagiannya yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam  Leiden University PhD Regulations (lihat: http://www.regulations.leiden.edu/research/phd-regulations.html; dikunjungi 27-08-2016)/ Tampaknya beberapa universitas lain di Belanda, seperti Universiteit Wageningen, juga menerapkan hal serupa.

Jangan berterima1

Alasan tidak dibolehkannya promovendus mengekspre rasa terima kasih kepada Tuhan dalam  Acknowledgements disertasinya adalah karena menurut otoritas universitas ilmu pengetahuan harus bebas dari agama. Selain itu, statemen-statemen yang bersifat politis juga dilarang diungkapkan dalam disertasi Leiden.

Beberapa kalangan berpendapat, tidak diperbolehkannya mengekspresikan rasa terima kasih kepada Tuhan dalam disertasi Leiden menunjukkan sifat sekuler universitas ini. Ada juga yang berhipotesa bahwa mungkin universitas berpikir statemen-statemen yang bernuansa keagamaan itu memberi kesan hasil kerja ilmiah itu kurang kredibel.

This is based on a certain view on religious thinking that views it as contradictory to scientific thinking. Before the Enlightenment, knowledge was thought to be revealed by God, and the Bible was an important source of knowledge. Doing research was seen as doubting God’s wisdom. But later, another view emerged within the Church claiming that the best way to honour God was to study his creations. Although many important scholars are religious, and some non-religious scholars claim that they got some of their insights through ‘revelations’ during the night or while relaxing in the bathtub, the view is still persistent among some people that religious people are less scientific”,  demikian bunyi komentar dalam newsletter Practical Ethic dari University of Oxford menanggapi satu kasus yang terjadi terkait dengan hal ini di Universiteit Wageningen (lihat: http://blog.practicalethics.ox.ac.uk/2015/01/a-dutch-university-prohibits-a-phd-student-from-thanking-god-in-his-acknowledgments/; dikunjungi 28-08-2016; kursif oleh Suryadi).

Walau bagaimanapun peraturan ini mendapat beberapa kali sanggahan dari promovendus Universiteit Leiden sendiri. Pada tahun 2012, mingguan (weekblad) Universiteit Leiden Mare memberitakan protes seorang  promovendus yang bernama Fred Schonewille terhadap peraturan ini karena ia mengutip AlKitab dalam  Acknowledgements disertasinya dan  itu dipermasalahkan oleh otoritas Universitas Leiden (lihat: http://www.mareonline.nl/archive/2012/02/01/hoe-god-verdween-uit-het-proefschrift) . Namun dia berargumen bahwa  sebelumnya dia tidak pernah menerima pemberitahuan resmi mengenai larangan itu dari Universitas Leiden dan hal itu juga tidak dinyatakan secara eksplisit dalam regulasi mengenai disertasi di Universitas Leiden (lihat: http://www.mareonline.nl/archive/2012/06/06/hoe-god-terugkeerde-in-het-proefschrift; lihat juga: http://www.mareonline.nl/archive/2012/02/08/brief-god-is-toch-geen-huisdier; dikunjungi 28-08-2016).

Pada tahun 2014 giliran seorang  promovendus dari Yaman, Mosa A.A. Elayah,  yang mengalami masalah terkait dengan ucapan terima kasih kepada Tuhan ini. Otoritas Universiteit Leiden menghilangkan kalimat “I owe a debt of gratitude and sincere thanks to Almighty Allah for his guidance and comfort throughout the duration of this dissertation” dalam versi cetak disertasinya yang dikirimkan kepada pihak-pihak yang harus dikirimi sebelum hari defense, padahal kalimat itu dituliskannya dalam draft akhir disertasinya yang diserahkan  kepada pihak universitas. Elayah berargumen bahwa sebagai seorang Islam dia yakin bahwa keberhasilannya menyelesaikan penulisan disertasi di Universiteit Leiden tidak terlepas dari bantuan Allah SWT (lihat: http://www.mareonline.nl/archive/2014/04/03/hoe-allah-verdween-uit-leiden-1; dikunjungi 28-08-2016).

Jangan berterima2

Larangan untuk mengucapkan terima kasih kepada Promotor dan Ko-Promotor didasarkan atas argumen bahwa pekerjaan membimbing adalah bagian dari tugas dan kewajiban mereka. Oleh sebab itu, menurut logika pihak universitas, tidak ada keharusan bagi seorang promovendus untuk mengucapkan terima kasih, apalagi memuji-muji Promotor dan Ko-Promotornya.

Logika ini tentu tidak sesuai dengan pikiran sebagian orang, apalagi orang Indonesia. Kita diajarkan untuk berterima kasih kepada orang yang sudah (susah payah) membantu kita, walaupun itu kewajibannya.

Akan tetapi dalam kenyataanya, kadang-kadang ucapan terimakasih  kepada Promotor dan Ko-Promotor ditemukan juga dalam beberapa disertasi Universiteit Leiden, misalnya dalam disertasi Marije Plomp ‘Never-Neverland Revisited: Malay Adventure Stories’ (2014:v). Tampaknya, pengecekan otoritas universitas terhadap hal ini kurang ketat dibanding aspek pertama tadi: ucapan terima kasih kepada Tuhan.  Dalam tradisi akademik di Leiden, justru Promotor yang memuji-muji sang doktor baru yang sudah selesai dibimbingnya. Hal itu disampaikan  oleh sang Promotor dalam pidato penghargaannya dalam sidang ujian terbuka (defense) sesaat setelah doktor baru menerima ijazahnya.

Demikianlah sedikit informasi tentang tradisi penulisan disertasi (proefscrift) di Universiteit Leiden. Semoga informasi ini ada manfaatnya, terutama untuk mereka yang, siapa tahu atas izin Allah, berkesempatan untuk menempuh pendidikan  jenjang PhD di Universiteit Leiden, ‘the Mecca of Indonesian studies in the world’ yang sudah berdiri sejak tahun 1575.

* Lihat juga: http://www.kompasiana.com/suryadileiden/disertasi-universiteit-leiden-jangan-ucapkan-terima-kasih-kepada-tuhan-dan-promotormu_57c24b26ab9273e02a730b33

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: