Posted by: niadilova | 25/08/2016

Kilas Balik: Melancong ke……Medan [1948]

Oleh: Oei Liong Thay

melancongLangkah pertama ke Tingkok: Medan. Kota dari kaum realisten dan demokrasi: sarang internasional dan fighting spirit.

Kota Medan bagi orang Jawa ada terlalu jauh letaknya, terlalu asing mendengarnya, hingga kebanyakan tidak bisa [mem]bayangkan macam apa sebenarnya itu ibukota dari Negara Sumatra Timur yang baru didirikan dengan segala upaya dan kebesaran.

Malah ada sebagian orang tidak mengetahui bahwa letaknya Medan sebetulnya ada hampir dua kali lipat jauhnya dari………….Singapura.

Terbang dari Batavia ke Singapura makan tempo 3½ jam, tapi ke Medan 6 jam. Ini berarti lebih lekas dari naik spoor Batavia–Cirebon. Toh masih ada yang sambat katanya “jauh”.

Jika kita pandang kota Medan dari atas udara selagi pesawat terbang hendak melayang turun ke bawah, pertama-tama yang menantang perhatian adalah ia punya mesjid yang besar serta indah potongannya. Ia punya arsitektur a la Moor dengan di sebelah depan berdiri minaretnya yang tegak dan langsing, disertai warna kuning gading di sekeliling temboknya dengan lapisan semua hijau-biru dan garisan kembang mas di sepanjang pintunya – sungguh susah dilukiskan keindahannya di atas kertas!

Begitu dari lapangan terbang kita berkendaraan masuk kota, dengan lantas telah tertampak Medan punya “cap” yang lain daripada yang lain.

Separoh dari kota Medan boleh dibilang “Made in China”.

Rumah-rumah dan toko-toko Tionghoa bersusun pakai loteng. Huruf-huruf Tionghoa kecil dan besar tertulis dan tergantung di tembok, di jendela, di genteng, di mana-mana. Di sana sini kedengaran orang bicara Tionghoa, menyanyi Tionghoa dan bereak [berteriak?] Tionghoa.

Dalam pergaulan sehari-hari, yang digunakan [dialek] Hokkian, Kongfe dan Khé, sedang banyak sekali yang pintar bahasa Inggris. Hingga kalau bersekolah Belanda atau T.H.H.K. ditanggung serba komplit bahasanya. Paling sedikit baba Medan bisa bicara lancar Inggris atau Belanda plus 3 dialek Tionghoa. Anak Jawa kapan [men]dengarkan baba Medan nyereces ngomong Tionghoa ada seperti bebek dengar gluduk. (Tidak semuanya, Red.).

Tidak salah kalau orang [ber]kata: Langkah pertama ke Tiongkok ialah Medan. Langkah kedua ialah Singapura.{49}

Medan dan Singapura ada[lah] ibarat saudara muda dan saudara tua yang saling dekat, maka dalam banyak hal banyak mirip[nya] satu sama lain. Terutama ia punya penduduk Tionghoa lagak-lagunya banyak yang sama.

Seorang Tionghoa yang tidak mengenal bahasanya dicap “bah-tao-ka”. Umumnya yang dapat itu cap kehormatan ada[lah] baba dari Padang yang rata-rata tidak mengerti Chineesch.

Itu  ucapan “bah-tao-ka” ada[lah] Pidgin Chinese. Asalnya begini: dulu ada baba Padang datang di Medan minta beli “bah-tao-ka”. Si penjual tidak mengerti maksudnya. Ketika ditanya lebih tegas lagi, lalu diunjukin…..kepala babi. Menurut pikirannya itu baba Padang yang tidak mengerti Hokkian: “babi” = bah, “kepala” = tao, hingga “kepala babi” tentunya “bah-tao-ka”! Dari sini itu ucapan jadi terkenal buat mereka yang tidak mampu bicara Tionghoa.

Selain berdagang kelontong dan hasil bumi, orang-orang Tionghoa di sekitar Medan bukan sedikit yang berladang dan bercocok tani. Caranya persis di Tiongkok, yaitu cari dan simpan kotoran manusia buat bikin gemuk ladangnya. Beratus-ratus pikul sayuran saban pagi dipikuli dan dijual oleh……..perempuan-perempuan Tionghoa yang pakai celana dan baju biru tua atau hitam warnanya dengan topi tani yang lebar.

Jumlah penduduk Tionghoa di Medan ± 65.000 jiwa dan semangatnya berkelahi dalam penghidupan maupun dalam pertempuran melawan pengacau ada hebat. Pao An Tui yang sudah dibubarkan ada[lah] menjadi simbol dai semangat Tionghoa di Medan. Badan Pao An Tui sudah tidak ada, tapi semangatnya tetap meliputi kota Medan!

Di Medan tidak ada kelas H.H. Kan, tidak ada turunan Oei Tiong Ham, pun tidak ada “macan” The Tiong Sing, hanya ada bekas komandan Pao An Tui, Lim Seng sianseng yang karangannya ditawar oleh satu penerbit di Hongkong buat $50.000, tapi tidak mau kasih.

Orang-orang Medan umumnya ada realisten dalam artian paling baik dan sangat demokratis. Segala Villeneuve dan van Vredenburch dianggap “omong kosong” saja, sedang Moh. Hatta dan Roem dikatakan: “Rata di luar, runcing di dalam”. Rata di luar, tajam di dalam. Manis di bibir, pahit di hati!

Kaya dan miskin, tinggi dan rendah, semuanya tidak banyak rewel dan tidak sudi mati dalam impian. Buat mereka “lebih baik dilindas mobil daripada ditubruk gerobak”. Ini ada seperti anggapannya Voltaire: “Lebih baik dimakan singa yang bagus daripada digerogoti 1000 tikus.”

Kota Medan dengan masyarakatnya ada tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Persis seperti sifatnya itu examinator yang tanya pada satu murid: “Wai is mollig?” Jawab di murid: “Tidak gemuk, tidak kurus, tapi bagus!”.

Tidak ada di lain bagian di seluruh Indonesia daerah sebagai Medan yang mempunyai sifat dan corak internasional tulen. Banyak kaum onderneming Belanda, banyak kaum pedagang Tionghoa, banyak kaum kusir India, banyak kuli Keling, babu Melayu, batik handelaar Arab dan jongos Jawa. Belum terhitung orang Ambon dalam tentara dan bangsa Batak dalam famili raja-raja enz. Mereka orang semua-muanya seringkali pagi dan sore mampir duduk makan minum di warung kopi yang dinamakan kedai.

Warung kopi dipanggil kedai, tapi yang ada pelatarannya dibilang “buffet”.

Jongos = boy. Sepeda = kereta angin tau lèrèng. Bicara = cakap. Lihat = Nampak.

Kalau panggil orang Batak jangan sekali-kali “Batakker”, sebab itu menghina, lantaran di daerah Medan itu “Batakker” = kuda. {50}

Kata-kata bahasa Indonesia di Sumatra Timur memang lebih bagus dan halus, karena [daerah] itu berdekatan dengan tanah Melayu, sedang kaum bangsawan, Sultan dan Tengku,  banyak  sekali yang asalnya dari sana. Dari itu prosa “Cempaka Biru” dari Tengku Tonil indahnya bukan buatan!

Di hadapannya kaum Sultan di Medan bila bercakap-cakap kudu hati-hati, jangan sampai salah wesel pakai ucapan yang mempunya maksud terbalik bagi mereka.

Pernah kejadian Lt. G.G. Dr. van Mook tempo hari berpidato di corong radio dengan [meng]gunakan ucapan “butuh” dan “dibutuhkan”. Mendengar ini, anak bininya Sultan Deli kontak [berteriak] keras lalu stop radionya dan tidak sudi [men]dengarkan lebih jauh, saking malunya, sebab itu “butuh” dalam [bahasa] Melayu tulen ada mengandung arti yang tidak boleh dijelaskan dalam halaman ini.*

Pun perkataan “sumbangan” bagi orang Medan berarti “bloedschande”. Hingga orang Medan bisa jatuh setengah klenger kapan musti baca tulisan dari Jawa: “Untuk mengadakan kebutuhan bangsa Indonesia perlu sumbangan Belanda”.  Bagi orang Jawa ini ucapan kedengarannya seperti manggung, tapi bagi orang Melayu kayak disambar gledek.

Kata-kata Melayu Medan ada sama bagusnya seperti kotanya. Dan barang yang bagus selamanya ada menjadi sumbernya kegirangan. “A thing of beauty is a joy for ever” kata Keats.

Sumber kegirangan membawa ketawa dan siapa di Medan tidak bisa ketawa hanya separoh manusia seperti Raupach bilang: “Wer nicht mehr lacht, der ist nur halb noch Mench”.

Dari itoe Medan penuh “sense of humour” dan menurut Keizer Wilhelm II: “Satu manusia zonder humor ada[lah] seorang zonder peri kemanusiaan”.

* butuh dalam bahasa Melayu berarti kelamin perempuan (vagina) (catatan Suryadi) {51}

***

Sumber: Majalah Moestika (Surabaya), Juni ’48: 49-51. Ejaan disesuaikan. Teks aslinya ditulis dalam Bahasa Melayu-Tionghoa (Melayu Rendah). Angka dalam tanda ‘{ }’ merujuk pada halaman asli majalahnya. Cetak tebal juga sesuai dengan teks aslinya. Bagian kalimat dalam tanda “[ ]” merupakan tambahan dari penyalin. Ilustrasi berasal dari: www.medanlook.blogspot.com.

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda

Advertisements

Responses

  1. Sepertinya kata “sambat” yang tidak lazim dan merupakan serapan dari bhs. Jawa = “mengeluh”.

  2. Menarik sekali, Pak Tarmizi. Si penulis, yang rupanya adalah seorang Tionghoa yang sudah lama tinggal di Jawa Timur, menggunakan kosakata Jawa itu. Memang bahasa Melayu Tionghoa (bahasa Melayu Rendah) sangat unik: ada banyak kata serapan yang dipakai, juga karena kekhasan gramatikanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: